Pengamat Sebut AS & Israel di Balik Salah Tembak Rudal Iran?

Selasa, 21 Januari 2020 - 19:25 WIB Mancanegara

Berita Terkait

Pengamat Sebut AS & Israel di Balik Salah Tembak Rudal Iran? (AP Photo/Ebrahim Noroozi) Foto: Kecelakaan Psawat Ukraina di Iran

JAKARTA - Pemerintah Iran menerima banyak kritik dan kecaman setelah mengakui telah secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines dengan rudal pada 8 Januari lalu.

Kejadian itu menyebabkan seluruh awak dan penumpang pesawat, yang berjumlah 176 orang, tewas.

Peristiwa salah tembak itu dilakukan bertepatan dengan serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap Amerika Serikat (AS), yang telah membunuh Mayor Jenderal Qassem Soleimani dalam serangan udara di Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari.

Namun ternyata, menurut mantan spesialis anti-terorisme CIA Philip M. Giraldi, Iran bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan dalam kejadian ini. Amerika Serikat dan Israel juga patut dimintai pertanggungjawaban.

Ini dikarenakan, menurut Giraldi, kedua negara itu telah menyabotase pesawat penembak rudal yang membuat Boeing Ukraina jatuh.

"Klaim bahwa Mayor Jenderal Qassem Soleimani adalah "teroris" dalam misi untuk melakukan serangan "segera" yang akan membunuh ratusan orang Amerika ternyata bohong, jadi mengapa kita harus percaya pada hal lain yang berkaitan dengan perkembangan terakhir di Iran dan Irak?" katanya dalam tulisan yang dimuat di American Herald Tribune, Rabu (15/1/2020).

"Yang pasti, Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan 752 berangkat dari Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran pada pagi hari 8 Januari dengan 176 penumpang dan awak di dalamnya ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran, sesuatu yang telah diakui oleh pemerintah Republik Islam, tetapi mungkin ada pertimbangan lebih jauh ke dalam cerita yang melibatkan perang cyber yang dilakukan oleh AS dan mungkin pemerintah Israel."

Giraldi menegaskan, alasannya mempertimbangkan pemikiran itu adalah karena ia menemukan beberapa hal yang belum dijelaskan dalam berbagai laporan media selama ini, termasuk faktor kesalahan manusia.

"Operator rudal Iran dilaporkan mengalami "gangguan" yang cukup besar dan transponder pesawat mati dan berhenti melakukan transmisi beberapa menit sebelum rudal diluncurkan. Ada juga masalah dengan jaringan komunikasi komando pertahanan udara, yang mungkin terkait."

"Gangguan elektronik yang berasal dari sumber yang tidak diketahui berarti bahwa sistem pertahanan udara dilakukan dalam mode operasi manual, bergantung pada intervensi manusia untuk diluncurkan. Peran manusia berarti bahwa seorang operator harus membuat keputusan cepat dalam situasi tekanan di mana ia hanya punya waktu untuk bereaksi. Pematian transponder, yang secara otomatis mengisyaratkan kepada operator dan elektronik Tor bahwa pesawat (yang menjadi target) itu adalah pesawat sipil, malah secara otomatis mengindikasikan bahwa pesawat itu milik musuh. Operator, yang telah diberi pengarahan khusus tentang kemungkinan rudal jelajah Amerika yang masuk, kemudian menembak."

Giraldi menjelaskan, dua rudal yang menjatuhkan pesawat Boeing Ukraina itu berasal dari sistem buatan Rusia yang dijuluki SA-15 oleh NATO dan disebut Tor oleh Rusia. Delapan misilnya biasanya dipasang pada kendaraan yang dilacak.

Sistem ini mencakup radar untuk mendeteksi dan melacak target serta sistem peluncuran independen, yang mencakup fungsionalitas sistem Identification Friend atau Foe (IFF) yang mampu membaca tanda panggilan dan sinyal transponder untuk mencegah kecelakaan.

"Mengingat apa yang terjadi pada pagi hari di Teheran, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa sesuatu atau seseorang dengan sengaja mengganggu pertahanan udara Iran dan transponder di pesawat, mungkin sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan kecelakaan penerbangan yang akan dikaitkan dengan pemerintah Iran," jelas mantan perwira intelijen militer itu.

"Sistem pertahanan SA-15 Tor yang digunakan oleh Iran memiliki satu kerentanan utama. Itu bisa diretas atau "dipalsukan", memungkinkan penyusup untuk menyamar sebagai pengguna yang sah dan mengambil kendali."

Kecurigaan Giraldi pada AS sebagai dalang di balik penembakan Boeing itu pun semakin meningkat setelah ia meyakini bahwa Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS telah mengembangkan teknologi yang dapat membodohi sistem radar musuh dengan target yang salah dan mengelabui.

Sebelumnya, media Inggris The Guardian juga pernah melaporkan secara independen bahwa militer Amerika Serikat telah lama mengembangkan sistem yang dapat mengubah elektronik dan penargetan rudal yang tersedia di Iran dari jarak jauh.

"Teknologi yang sama tentu saja dapat digunakan untuk mengubah atau bahkan menutupi transponder pada pesawat sipil sedemikian rupa untuk mengirim informasi palsu tentang identitas dan lokasi. Amerika Serikat memiliki kemampuan perang cyber dan elektronik baik untuk mengganggu dan mengubah sinyal yang berkaitan dengan transponder pesawat dan juga pertahanan udara Iran. Israel agaknya memiliki kemampuan yang sama," jelas pria yang juga merupakan Direktur Eksekutif sebuah lembaga advokasi kepentingan AS di Timur Tengah itu.

(cnbcindonesia.com)

Selasa, 24 Maret 2020 - 19:25 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru