Love Distancing: Cinta & Keluarga yang Terpisah Akibat Corona

Kamis, 26 Maret 2020 - 16:57 WIB Opini

Berita Terkait

Love Distancing: Cinta & Keluarga yang Terpisah Akibat Corona Foto: Instagram/nonznonz

JAKARTA - Bersyukurlah saat pemerintah meminta kita hanya menjaga jarak 1 meter dan kita masih bisa berkumpul dengan orang yang kita sayangi. Bagi sebagian orang, jarak 1 meter bahkan menjadi kemewahan di masa seperti ini.

Terutama bagi para tenaga medis, di mana sejak pandemi corona menyerang negeri ini, bertemu dengan orang yang mereka sayangi pun sulit sekali.

Seperti yang dialami oleh Leonita, yang baru saja kehilangan sang ayahanda karena covid-19.

Kisah Leonita sempat viral di sosial media beberapa hari lalu. Kepada CNBC Indonesia, Leonita yang merupakan putri Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Bambang Sutrisna, meluangkan waktu menceritakan pengalaman pilunya.

"Noni tolong Papi, Papi sesak sekali," Leonita menirukan ucapan terakhir sang Ayah, sebelum akhirnya ayah yang ia cintai menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 23 Maret lalu.

"Ayah saya menelepon tanggal 22 malam, itu terakhir kali. Dia jarang mengeluh, kalau sampai dia mengeluh berarti memang sedang sangat kesakitan. Dan kami saat itu, tidak bisa berada di dekatnya," tutur Noni, sapaan akrab Leoni kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2020).

Ayahnya, dokter Bambang, berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) usai kontak dengan pasien suspect covid-19 beberapa hari sebelumnya. Bambang, juga merupakan dokter yang berada di garda depan untuk melawan penyebaran virus corona di Indonesia.

Kondisi Bambang kemudian makin parah, dan dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan. Di sana, Bambang dengan kondisi yang sudah lemah sempat ditolak karena rumah sakit sudah penuh. "Ini akhirnya diterima karena ayah saya tenaga medis, meskipun kondisinya sudah sangat parah."

Namun, di tengah kondisi ayahnya yang semakin memburuk, tidak ada satu pun anggota keluarga yang bisa mendekat bahkan untuk melihat kondisi sang ayah.

"Karena Papi ada di ruang isolasi, kami tidak bisa masuk, kami tidak bisa lihat. Tidak ada yang jaga juga, karena dokter dan suster terbatas, jadi saat dia sedang sakit kami tidak berada di sisinya," tutur Noni dengan suara yang bergetar.

Kepergian dokter Bambang, buat Noni makin lebih terasa karena sebelumnya Noni sedang mengisolasi diri. "Profesi sebagai dokter ini sangat berisiko, semuanya pasti sudah terpapar. Saya akhirnya isolasi diri, dan tidak menemui orang tua dulu karena khawatir."

Perjumpaan terakhir Noni dengan ayah dan ibunya adalah dua pekan lalu usai ia menggelar pesta pernikahannya pada 7 Maret 2020. "Habis menikah, beberapa hari setelahnya sempat bertemu Papi dan Mama, tapi habis itu tidak sempat lagi."

Noni mengaku bahkan ia sempat berseteru dengan sang ibunda soal kondisi ayahnya dan menjelaskan mengapa Noni tidak bisa berada di dekat mereka dulu sementara waktu. "Kondisinya sangat susah, kami semua terpapar dan khawatir satu sama lain. Tapi tidak bisa berdekatan, terutama dengan Papi di saat-saat terakhirnya."

Sampai akhirnya, ia harus mengantarkan jenazah sang ayah ke liang kubur. Bagi Noni, semua ini rasanya tidak nyata. Ia baru menikah dan diantar sang ayah ke pelaminan pada 7 Maret, dan beberapa hari kemudian ia yang harus menyaksikan sang ayah ke peristirahatan abadi.

Tak Bisa Peluk Hingga Terjebak Lockdown

Hal serupa terjadi Mega, bukan nama sebenarnya. Istri seorang dokter di Purwokerto, berhari-hari cemas bukan main sejak pandemi melanda. Suaminya termasuk orang yang berada di garis depan.

"Saya tahu suami saya lelah bukan main, juga khawatir. Tapi bahkan saya tidak bisa memeluknya untuk menenangkan dia," curhat Mega.

Begitu juga dengan kedua anaknya, sudah berhari-hari tidak bisa memeluk dan mencium sang ayah. Tidur, makan, kamar, kini semuanya harus terpisah.

"Saya membuat akses agar suami bisa lewat pintu lain dan langsung masuk kamar mandi, jadi tidak perlu kontak dengan siapapun di rumah. Semuanya dipisahkan, rasanya satu rumah tapi bahkan tidak bisa menyemangati suami sendiri."

Mega mengaku tak berhenti berdoa sepanjang hari, apalagi kondisi di sana untuk tenaga medis sangat memprihatinkan. Alat Perlindungan Diri atau APD sangat minim, sehingga risiko untuk terpapar sangat tinggi. Namun sang suami tak bisa berhenti kerja. "Siapa lagi? Setiap hari rasanya deg-degan luar biasa," tumpah Mega.

Terjebak Lockdown

Kisah keluarga yang tengah berjuang juga dialami oleh Gigih, yang saat ini terjebak lockdown di Manila, Filipina.

Gigih memang sedang tugas di negeri tersebut sejak beberapa bulan terakhir, ia tak pernah menyangka akan adanya pandemi corona yang membuat ia tidak bisa berkutik. "Istri saya di Tangerang, dia dokter dan sempat terpapar pasien suspect covid-19," ceritanya.

Kini istrinya berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan). Sementara, istrinya tinggal bersama dengan dua anaknya. "Gak tahulah mau seperti apa, kami cuma bisa berdoa saat ini. Tapi tenaga medis juga terbatas, jadi dia masih dibutuhkan," ujarnya pasrah.

Ia mengaku istrinya akan segera tes swab untuk mengecek kondisinya. Kondisi di Tangerang, kata Gigih, agak mengkhawatirkan karena banyak suspect covid-19 yang masih berkeliaran dan langsung menjumpai para tenaga medis yang tengah minim perlindungan diri.

"Tidak tahu sampai kapan begini, perlu lebih tegas soal social distancing karena berisiko juga buat para tenaga medis. Harus ada alur yang jelas untuk orang dengan gejala covid-19."

Cerita Leoni, Mega, dan Gigih hanya sebagian dari kisah orang-orang yang terpaksa terpisah karena covid-19.

Tapi satu kesamaan yang bisa ditarik, para tenaga medis ini bisa meminimalisir risiko mereka dan bisa bertemu dengan keluarga mereka sewajarnya andai saja dilindungi dengan peralatan yang memadai.

Juga, social distancing yang perlu digalakkan dan ditegaskan oleh pemerintah. "Tetap di rumah, penyebaran virus ini sangat cepat. Tenaga medis terbatas, bantu kami agar kami bisa juga pulang ke rumah," pesan Noni. 

(CNCBIndonesia.com)

Kamis, 26 Maret 2020 - 16:57 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru