Membagikan Perasaan Cinta melalui Puisi “Bunga Gugur” Karya WS Rendra

Retno Andini Pratiwi

Selasa, 19 Mei 2020 - 23:12 WIB Sastra

Berita Terkait

Membagikan Perasaan Cinta melalui Puisi “Bunga Gugur” Karya WS Rendra WS Rendra

Sastrawan WS Rendra sudah memiliki bakat kesastraan sejak duduk di bangku SMP. Ia mulai memperlihatkan kemampuannya dengan cara menulis puisi, cerita pendek, dan drama dalam kegiatan sekolah. 

Karya-karya puisinya itu ia publikasikan di majalah siasat dan di terbit di berbagai majalah. Karya-karya puisinya sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Banyak karya sastra yang sudah ia ciptakan dan ia terbitkan sepanjang hidupnya. 

WS Rendra punya nama lahir Willibrodus Surendra Broto Rendra, melalui puisinya ingin berbagi rasa dengan para pembaca. Berbagi itu bukan suatu tindakan negatif melainkan suatu tindakan yang positif selagi berbaginya itu dalam ranah yang baik dan tidak dilarang oleh agama ataupun hukum negara.

WS Rendra banyak melahirkan puisi-puisi roman. Salah satunya Puisi “Bunga Gugur” yang ia tuangkan dengan gayanya sendiri, penuh perasaan, dan mengandung nilai estetika yang bagus. Makna dan pesan yang terkandung di dalamnya menjadikan puisi “Bunga Gugur” karya yang luar biasa. 

Puisi Bunga Gugur mengisahkan tentang perasaan cinta. WS Rendra berusaha membagikan perasaannya melalui puisi “Bunga Gugur”. 

Berikut ini bisa makna apa saja yang terkandung di dalam puisi “Bunga Gugur” tersebut.

Pada bait pertama, terdapat makna kalau kekasihnya yang ia ibaratkan bunga pergi meninggalkannya untuk selamanya, tersirat sebuah perasaan cinta yang hilang ketika kekasihnya meninggal dunia. Pada bait kedua, Rendra berusaha membagikan suatu perasaan sedih dengan hanya memanggil kekasihnya.

Pada bait ketiga, terdapat makna bahwa ketika kekasihnya dikubur maka terkuburlah semua kenangan tentang mereka, semua kenangan itu akan hilang bersamaan.

Di sini pengarang berusaha membagikan perasaan bagaimana jika suatu kenangan dan perasaan itu terkubur bersama dengan seorang kekasih yang juga terkubur di dalamnya. 

Pada bait keempat, pengarang berusaha membagikan tentang perasaan ikhlas dalam sebuah cinta. Rendra ingin pembacanya merasakan bagaimana rasa ikhlas ketika orang yang dicintai meninggalkannya untuk selamanya. Ikhlas yang dimaksud untuk mengikhlaskan suatu perasaan cinta satu sama lain, karena jika berjanji bertemu di surga perasaan itu tidak akan ada lagi. Makna tersebut disambung pada bait kelima.

Bait kelima terdapat makna bahwa perasaan cinta itu hanya ada di muka bumi ini dan itu salah satu hawa nafsu seorang manusia. Perasaan cinta itu ada pada setiap diri manusia, jika dirinya sudah tiada atau meninggal dunia maka perasaan cinta itu hanya bisa terkubur dan tidak akan bisa dilanjutkan lagi. 

Perasaan cinta itu juga hanya bisa dikendalikan oleh diri sendiri dan hanya bisa diatur oleh diri sendiri. Rendra berusaha membawa pembacanya pada kenyataan bahwa perasaan itu datangnya dari diri sendiri yang kemudian dibangun secara bersamaan, seperti perasaan cinta. 

Pada bait keenam, makna yang terkandung di dalamnya itu berupa sebuah kenangan, di mana kenangan itu pasti akan berbekas atau tertinggal di dalam diri seseorang. Kenangan yang tertinggal dan tidak bisa dilupakan itu yang membuat orang yang merasakannya jadi stres, tidak memiliki semangat hidup, dan ada juga yang sampai bunuh diri karena tidak kuatnya menyimpan dan merasakan kenangan itu.

Makna pada bait ketujuh berupa kesedihan, kesedihan di sini dapat membuat hidup seseorang berantakan atau tidak beraturan sama halnya akan berujung bunuh diri. Kesedihan itu perasaan yang tidak boleh terus berlanjut. 

Rendra mengajak pembacanya untuk tidak bersedih jika ditinggal kekasihnya meninggal dunia. Kesedihan itu boleh dirasakan asalkan jangan terus-menerus. Biarkan kesedihan itu terkubur bersama kekasih yang juga terkubur. 

Pada bait kedelapan, Rendra berusaha membagikan lagi suatu perasaan sedih dengan hanya memanggil kekasihnya untuk kedua kalinya. Pada bait akhir atau bait kesembilan, terdapat makna perasaan cinta dan perasaannya lainnya kepada kekasih yang sudah tiada atau kekasih yang meninggalkannya itu dibiarkan pergi bersamaan. 
Ambil sesuatu yang bermakna dan berguna selama kekasih itu masih hidup. Begitu cara untuk tidak terus-menerus jatuh dalam kesedihan. Rendra menuangkan ide-idenya tersebut melalui perasaan yang ia dapat dari sebuah hubungan.

WS Rendra sudah berusaha membagikan suatu perasaan cinta di dalam puisi “Bunga Gugur” itu walau perasaan cinta itu telah hilang. Harapannya sebagai pengarang dan sastrawan agar puisinya itu dapat dinikmati oleh pembacanya dan mengajak pembacanya yang sedang mengalami perasaan tersebut untuk bangkit dan menjalani hidup baru lagi. 

Dalam pikiran Rendra bahwa kesedihan itu jangan terus-menerus dirasakan cobalah untuk melupakannya dengan cara mengikhlaskannya. Rendra membagikan perasaan tersebut dengan angan-angan tidak ada manusia yang seperti itu di dunia ini. Rendra tidak hanya menafsirkan perasannya itu terhadap kekasih yang meninggal, ia juga menafsirkan perasaannya untuk kekasihnya yang tidak lagi berhubungan dengannya. Pengalaman itu pernah dirasakan Rendra ketika ia bercerai dengan kedua istrinya.***

Selasa, 07 November 2015 - 23:12 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru