Kisah Sedih Dokter Muslim yang Rayakan Lebaran di Rumah Sakit

Minggu, 24 Mei 2020 - 15:22 WIB Features

Berita Terkait

Kisah Sedih Dokter Muslim yang Rayakan Lebaran di Rumah Sakit (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pemeriksaan SARS-CoV-2 RNA dengan metode real-time RT-PCR (PCR COVID-19) yang mendeteksi 3 (tiga) target gen sekaligus yaitu Gen E, N, dan RdRP sesuai dengan protokol yang ditetapkan World Health Organization (WHO).

JAKARTA - Salah satu dokter Muslim di Malaysia, Muhammad Syahidd Al-Hatim, mengungkap kisah sedih yang Ia rasakan saat harus merayakan Idul Fitri di rumah sakit di tengah pandemi Covid-19.

Pria berusia 26 tahun itu sebenarnya sudah terbiasa berada jauh dari keluarganya pada hari raya, setelah melewati dua tahun terakhir dengan merayakan Lebaran di Rumah Sakit Kuala Lumpur tempat Ia bekerja.

Namun, Ia mengakui Idul Fitri tahun ini telah menjadi momen yang lebih suram bagi banyak staf Muslim di rumah sakit akibat pandemi yang sejauh ini telah menjangkiti lebih dari 7.000 orang, termasuk 115 orang yang telah meninggal di Malaysia.

"Menyedihkan karena beberapa teman saya - perawat staf, beberapa dokter senior - mereka tidak berasal dari KL (Kuala Lumpur) sendiri," kata Muhammad Syahidd kepada Reuters, seperti dikutip Minggu (24/5/2020).

"Biasanya, mereka akan kembali (ke kota asalnya) untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mereka, dan mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan itu. Jadi ya, itu membawa suasana hati yang sedih ke area kerja," lanjutnya.

Malaysia yang mayoritas umat Muslim telah memberlakukan pembatasan yang luas sejak pertengahan Maret sebagai upaya mengatasi pandemi. Meskipun beberapa pembatasan telah dilonggarkan pada bulan ini, perjalanan antar negara untuk alasan yang tidak penting masih dilarang, sehingga banyak orang tidak dapat kembali ke kampung halaman mereka selama musim liburan.

Dokter Syahidd kembali bekerja di ruang gawat darurat pada hari Minggu, hari pertama Idul Fitri tahun ini, di tengah kekhawatiran bahwa libur Lebaran akan menyebabkan lonjakan kasus, karena diprediksi akan semamin banyak orang yang melanggar upaya pembatasa untuk mengunjungi kerabat.

Sebagai dokter junior yang tinggal bersama orang tuanya, Ia telah diuji dan dikarantina dua kali setelah melakukan kontak dekat dengan pasien yang diduga telah terinfeksi virus Corona.

"Saya merawat pasien di sini," katanya.

"Lalu aku [khawatir akan] menularkan penyakit pada orang tuaku - itu satu-satunya hal yang aku takuti," tuturnya.

Meski demikian, Ia mengatakan pandemi Covid-19 bagaimanapun juga telah membawa staf rumah sakit lebih dekat dengan pekerja non-Muslim yang seringkali menjaga staf Muslim berbuka puasa selama Ramadhan.

"Kami saling menjaga satu sama lain," pungkasnya.

(CNBCIndonesia.com)

Minggu, 13 Maret 2020 - 15:22 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru