Jaga Imunitas Anak di Tengah Covid-19, Konsumsi Gizi yang Baik Diperlukan

Senin, 27 Juli 2020 - 20:01 WIB Kesehatan

Berita Terkait

Jaga Imunitas Anak di Tengah Covid-19, Konsumsi Gizi yang Baik Diperlukan Gizi yang baik dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan ketahanan tubuh (imunitas) anak di tengah wabah Covid-19. (Foto: AFP)

JAKARTA - Ribuan anak di Indonesia terancam gizi buruk akibat pandemi Covid-19 yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya. Banyak ekonomi keluarga terdampak, membuat pemenuhan gizi anak terabaikan.

Padahal, gizi yang baik dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan ketahanan tubuh (imunitas) anak di tengah wabah Covid-19. Untuk mencukupi kebutuhan gizi, beberapa orangtua memberikan susu kental manis (SKM). Padahal, ini tidak dianjurkan karena bukan pengganti ASI.

Aktivis kesehatan anak, Yuli Supriati mengatakan, banyak masyarakat yang tidak tahu susu kental manis tidak baik dikonsumsi anak-anak. Ini karena SKM rendah protein dan tinggi gula.

"Hasil kunjungan kami ke Puskesmas Tigaraksa beberapa waktu lalu, didiapati 36 anak usia di bawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun," ujar Komisioner Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) dalam pernyataannya yang dilansir Senin (27/7/2020).

Kunjungan lapangan yang dilakukan pihaknya di Desa Cileleus, Tigaraksa Tangerang, menemukan dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Kedua anak berusia 2 tahun itu memiliki berat badan yang hanya 7 kg. Padahal, untuk anak normal, di usia dua tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki.

Menanggapi hasil temuan YAICI ini, dokter spesialis anak yang juga tim ahli Satgas Covid-19 Tangerang Selatan (Tangsel) Tubagus Rachmat Sentika, membenarkan susu kental manis (SKM) tidak untuk diberikan kepada anak-anak apalagi untuk pengganti ASI.

“Karena kandungan gulanya yang tinggi, kental manis tidak untuk anak-anak. Anak yang meminum kental manis akan mengalami kegemukan, gigi keropos dan tidak sehat,” katanya.

Mantan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu mengungkapkan calon ibu perlu memperhatikan gizi lengkap dan seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Sebab hal itu akan mempengaruhi bayi mereka yang akan lahir kelak.

“Baik bayi, balita, ibu hamil, sampai lansia semuanya memerlukan gizi, cuma bentuknya berbeda-beda. Kalau bayi itu bentuknya cair makanan pendamping ASI tapi setelah 6 bulan 1 tahun harus ditambahkan dengan makanan-makanan lain,” kata dr Tubagus.

Khusus untuk ibu hamil, yang perlu diperhatikan adalah pembentukan organ-organ setelah 8 minggu atau 4 bulan 10 hari. Di sini sangat dibutuhkan asam folat, tablet zat besi (Fe) untuk pembentukan 25 persen perkembangan otak calon bayi. Setelah 2- 3 tahun otak anak akan berkembang menjadi menjadi 80 persen dan setelah 6 tahun jadi 95 persen.

“Ini yang dinamakan golden period, yaitu masa emas atau 1.000 hari pertama kehidupan atau masa-masa pembentukan otak. Karena itu, protein asam amino harus cukup, karbohidrat cukup, semua harus cukup,” ujarnya.

Selanjutnya, harus dipantau sesuai dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dia menjelaskan waktu lahir badannya 3 kg, 1 tahun jadi 9 kg atau 3 kali berat badan lahir, 5 atau 6 bulan 2 kali berat badan lahir atau 9 kg dan 3 tahun seharusnya 11 kg lebih. Tentunya, semua ada grafiknya untuk menjadi panduan dan antisipasi pada pertumbuhan anak. “Kalau dia di bawah garis merah, jadi gizi buruk dan nanti setelah 3 tahun jadi stunting,” katanya.

(iNews.id)

Senin, 31 Mei 2020 - 20:01 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru