Kadisdik Wajibkan 25 Persen Guru Hadir di Sekolah

Senin, 19 Oktober 2020 - 17:00 WIB Pendidikan

Berita Terkait

Kadisdik Wajibkan 25 Persen Guru Hadir di Sekolah Kadisdik Kota Pekanbaru, DR Ismardi Ilyas

PEKANBARU, kabarmelayu.com - Kabar adanya salah satu sekolah di wilayah pinggiran kota Pekanbaru yang gurunya tidak pernah nongol di sekolah selama Covid-19, menuai tanggapan dari Dinas pendidikan (Disdik) kota Pekanbaru.

Kepala Disdik Pekanbaru DR Ismardi Ilyas menegaskan, 25 persen dari jumlah guru setiap sekolah, wajib hadir guna memberikan pelayanan, ucapnya saat dikonfirmasi, Senin (19/10/20).

"Walaupun mereka tidak masuk ke kelas, namun mereka harus hadir 25 persen dari jumlah guru yang ada di sekolah tersebut. Mereka kan wajib mengajar. Kalaupun sebagian guru  dirumah, namun mereka harus tetap mengajar. Dan itu, terus kita evaluasi", tegas Kadisdik.

Ia menjelaskan bila kondisi covid sudah membaik maka kehadiran guru di sekolah ada ditingkatkan. Misalnya 50 persen atau 100 persen ucapnya.

Menyinggung kekosongan sebagian kepala sekolah, Ismardi mengaku sudah diisi dengan menunjuk Plt.

"Untuk kepala sekolah defenitif kita masih menunggu asessment. Dari hasil asessment itu nantinya baru bisa ditunjuk pejabat defenitifnya setelah diketahui Walikota", ujarnya.

Kemungkinan adanya mutasi kepala sekolah tahun ini kata Ismardi, bisa saja dan bisa juga tahun depan. Yang penting asesment dulu, katanya.

Ia mengatakan, bedasarkan evaluasi sistim belajar mengajar selama Covid-19, sebagian peserta didik terlalu terbebani dengan tugas yang diberikan guru. Sementara kondisi peserta didik kondisinya tidak terlalu baik.

"Anak-anak steres, orangtua steres karena adanya PR. Juga masalah jaringan seperti yang saya sampaikan sebelum-sebelumnya seperti SDN 145 di Tenayan Raya. Disana 35 persen tidak punya handphone", ucapnya.

Ismardi pun memastikan bahwa target Kurikulum 2013 (K13) semua sekolah di Indonesia tidak akan tercapai.

"Namanya K13 itu ndak bisa. Sekarang ini targetnya minimalis", katanya.

Target minimalis dimaksud kata Ismardi yaitu, pembelajaran jangan sampai kosong. Mereka tetap bisa belajar namun jangan terlalu berat.

"Begini ya, kalau bisa gunakan K13. Kalau ndak, kurikulum yang sudah direvisi. Sesuaikan dengan keadaan sesuai edaran Menteri", imbuhnya. (fin)

Senin, 18 Oktober 2020 - 17:00 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru