`Takkan Melayu Hilang di Bumi` Dampak Globalisasi Menggerus Budaya Lokal

By: Nita Rimayanti, M.Comm (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Riau, Founder LPK Pabrik Cerdas Commit)

Senin, 15 Februari 2021 - 09:36 WIB Opini

Berita Terkait

`Takkan Melayu Hilang di Bumi` Dampak Globalisasi Menggerus Budaya Lokal Nita Rimayanti, M.Comm

MEDIA massa merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan kepada audiensnya. Perkembangan media massa saat ini telah berkembang dengan munculnya internet. Audien sebagai pengonsumsi media massa berpindah dari konvensional menuju media baru. Perubahan besar ini juga mempengaruhi industri media tentunya. 

Beberapa media massa tidak mampu bertahan dan akhirnya menyatakan pailit, disisi lain audien sebagai pengguna media menjadi sangat aktif, mereka dapat menentukan apa media ingin dikonsumsinya, dengan tujuan yang berbeda-beda.

Internet membentuk globalisasi, kita tidak hanya melihat berita atau menonton film Indonesia saja tetapi juga bisa melihat berbagai pesan dari dunia lainnya. Sekarang semua serba digital, Masyarakat pengguna internet setiap tahun terus bertambah dan film-film sebagai media hiburan tidak lagi ditonton melalui televisi atau bioskop tetapi juga dapat ditonton melalui youtube atau aplikasi-aplikasi yang menawarkan berbagai film-film menarik di seluruh belahan dunia. 

Berapa banyak data internet yang anda pakai setiap bulan saat ini? Apakah bertambah biaya penggunaannya setiap tahun?

Hasil survey Internet dari APJII untuk tahun 2019-2020, pemakaian internet oleh pengguna saat ini tidak lagi komputer atau laptop tetapi melalui smartphone sebanyak 95,4%, bisa dilihat bahwa smartphone menjadi alat yang sangat diperlukan saat ini untuk mengakses internet. 49% menonton video online merupakan aktifitas paling sering dilakukan pengguna internet dalam mencari konten internet hiburan. Youtube menjadi salah satu media sosial yang diakses audien untuk menonton film. Selain itu aplikasi menonton berbagai film dari negara lain dengan mudah dapat di download oleh pengguna internet melalui layanan store smartphone.  

Film merupakan media yang dapat menyampaikan pesan melalui audio visual yang menjangkau audien secara luas. Internet mempermudah audien dari penjuru dunia untuk menonton film melalui smartphone. Siapa sangka suatu saat kita bisa nonton sambil chat tentang perasaan kita mengenai film tersebut yang bisa dibaca oleh semua orang di seluruh dunia dan pada saat itu juga sedang menonton film. 

Fasilitas icon diberikan untuk memudahkan kita menanggapi setiap adegan yang muncul. Aplikasi-aplikasi menonton film juga memudahkan penggunanya untuk mengetahui film yang lagi banyak ditonton atau memiliki rating tertinggi. Penggunanya tidak hanya satu negara saja tapi seluruh dunia dapat menggunakan aplikasi tersebut. Kita dapat menonton film dari negara Thailand, Korea, China juga film-film Indonesia. Persaingan mendapatkan konsumen tidak lagi dilakukan secara nasional tetapi sudah internasional.

Film tidak hanya sebagai alat hiburan tetapi juga untuk memperkenalkan budaya luar yang pada akhirnya diterima oleh masyarakat. Propaganda merupakan salah satu cara yang sering digunakan dalam pembuatan film, tidak hanya politik tetapi juga untuk ekonomi. Pesan-pesan dibuat dengan cara yang kreatif, menarik dan persuasif. Ide cerita dibuat menarik dan sesuai kesenangan konsumennya ditambah dengan teknologi yang digunakan untuk memproduksi film sangat canggih.  

Penerimaan budaya luar pada masyarakat lokal lebih mudah dilakukan melalui film, audien sadar atau tidak sadar menerima dengan mudah berbagai informasi yang ditontonnya. Sebagai contoh, saat ini millenial mengandrungi berbagai film korea yang memiliki kultur sangat berbeda dengan Indonesia, mulai dari cara berpakaian, kuliner, sampai kebiasaan atau adat istiadat mereka yang tidak sesuai dengan kita, akan tetapi bahasa menjadi salah satu cara untuk memudahkan penerimaan kultur dari negara luar. 

Munculnya fasilitas untuk memilih berbagai bahasa yang kita kuasai termasuk Bahasa Indonesia meskipun jalan cerita film tersebut menggunakan bahasa lain kita tetap bisa memahaminya melalui subtitle. Dengan mudahnya kita memahami berbagai informasi yang ditonton juga memudahkan pengguna untuk mengenal berbagai budaya yang diproduksi pada film tersebut. Sebut saja cara makan ala korea dengan berbagai kuliner yang saat ini banyak muncul di Pekanbaru. Melalui film kita terbiasa melihat kehidupan sehari-hari yang sangat berbeda dengan tradisi masyarakat lokal.

Penerimaan audien yang menonton film dapat dilihat melalui pendapat dari Stuart Hall. Sebagai audien seharusnya kita memahami mengapa pesan diciptakan, tidak hanya menonton sebagai alat hiburan tetapi juga mengetahui bahwa ada pesan-pesan tersembunyi yang diciptakan untuk membentuk opini penonton. Kekuatan pesan tidak hanya mampu membelah masyarakat karena memiliki perbedaan pendapat tetapi juga mampu mengedukasi audien untuk menerima berbagai budaya luar dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Artikel Adriene Shaw (2017) mengenai Encoding dan Decoding affordances: stuart hall and interactive media technologies pada jurnal.sagepub.com menjelaskan bahwa perlu sekali mengkaji studi budaya, karena berperan untuk memungkinkan kita memahami apa yang sedang terjadi, terutama untuk menyediakan cara berpikir, strategi bertahan hidup, cara untuk melakukan perlawanan bagi mereka yang merasa sedang dikucilkan dari apapun yang disebut akses ke budaya nasional. 

Bukankah saat ini sudah kita rasakan, munculnya film-film dari dari luar negeri yang menggerus film-film Indonesia. Kesenangan akan menonton film disambut dengan munculnya diberbagai pelosok Indonesia produk dari luar negeri yang diterima oleh pasar Indonesia. Konsumen dapat menerima, salah satu faktornya adalah telah mendapat informasi mengenai produk tersebut melalui film-film yang mereka tonton.

Stuart Hall menjelaskan bahwa ada tiga cara audiens memecahkan kode-kode dari pesan-pesan yang diberikan. Pertama adalah Dominant, bacaan yang dominan reading atau disukai. Pada proses ini kode-kode setiap pesan di interpretasi sama oleh audiens. Mereka menerima apa yang disampaikan melalui media tersebut. Salah satu contoh, melalui media sosial salah satu teman menshare dan memberikan pendapatnya bahwa dia setuju dengan isi berita, bahkan ketika ditolak pendapatnya oleh orang lain tetap saja menerima dan tidak mau merubah opini yang telah dibentuknya. 

Penerimaan juga membentuk budaya massa, secara serentak style ala korea membanjiri setiap daerah, anak muda menggunakan pakaian dan style yang sama dengan orang-orang korea, bahkan kita tidak bisa melihat perbedaan mereka dengan orang korea, sangat mirip dari rambut, pakaian sampai gaya bicaranya. 

Kedua adalah negotiated reading, melibatkan pada campuran pilihan. Penerimaan pesan tidak secara mutlak, perlu dinegosiasikan mana yang diterima atau mana yang ditolak dalam penerapannya. Salah satu contoh, dalam diskusi bersama beberapa milleneal mengenai film korea ternyata ada yang menerima kuliner dan fashion tetapi mereka menolak gaya hidup yang ditampilkan dalam film. 

Hal ini menurut mereka sangat jauh dengan nilai moral, sopan santun dan etika orang Indonesia, khususnya orang melayu. Mereka tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tetap mencoba fashion dan kuliner. Adanya negosiasi ini bisa terjadi karena ajaran dari lingkungan yang telah mendidik sejak kecil sehingga sulit untuk dirubah. 

Ketiga adalah opositional reading, menolak apapun pesan yang disampaikan. Audiens menerjemahkan pesan dengan cara berlawanan dari apa yang dimaksudkan oleh produser. Penolakaan akan pesan tersebut dilakukan dengan banyak cara, tidak mau menonton tayangan tersebut sampai melakukan penolakan dengan menyampaikannya ke media sosial. Pada dasarnya meskipun menonton film tetapi tidak mempengaruhi mereka, terdapat penolakan akan berbagai pesan yang ditontonnya.

Melihat tiga proses ini maka salah satu dampaknya adalah budaya massa, dimana budaya massa sangat berbeda dengan budaya tradisional yang memang lahir dari masyarakat. Budaya massa di produksi melalui media massa dan diterima audien secara dominan yang pada akhirnya membentuk budaya yang universal. 

Dalam buku McQuail (2011) Teori Komunikasi Massa, Bauman mengatakan bahwa media massa menyebabkan budaya massa sehingga menurut Bauman merupakan alat untuk membentuk sesuatu yang hasilnya adalah homogenitas kultural dalam masyarakat nasional. 

Budaya massa merupakan budaya universal atau standarisasi. Bagaimana dengan budaya kita sendiri? Jika tidak dipikirkan akan dampak dari globalisasi ini maka bisa saja budaya tradisional yang begitu banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia akan tergerus bahkan hilang.

Saat ini di Riau sendiri telah muncul berbagai usaha yang menjual kuliner, fashion, alat kecantikan dari berbagai penjuru dunia. Pada akhirnya persaingan dalam merebutkan pasar terjadi antara produk-produk hasil karya masyarakat Riau dengan produk-produk dari luar negeri. 

Oleh karena itu perlu adanya tindakan untuk mengantisipasi dari mengatasi hal ini, peran keluarga sangat penting dalam mengenalkan budaya lokal serta memunculkan rasa cinta kepada anak-anaknya. Mencintai produk lokal -- mengenalkan berbagai kesenian dan kuliner lokal -- tujuannya untuk mengantisipasi hilangnya identitas lokal daerah kita sendiri.

Globalisasi tidak dapat kita hindari, tetapi dengan mengajarkan kepada anak-anak dapat membantu mereka untuk meliterasi dirinya. Mereka mengetahui tontonan apa yang sebaiknya ditonton sesuai dengan kultur bangsa Indonesia. 

Selain itu juga didampingi dan diberikan penjelasan mengenai berbagai budaya yang hadir tidak hanya dari luar tetapi juga dari lokal. Kenyataannya tidak sedikit orang tua yang tidak membimbing anak-anaknya saat menggunakan berbagai aplikasi yang memberikan sarana hiburan untuk anak-anaknya, bahkan tayangan tersebut bukan untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

Dunia Pendidikan juga sebagai salah satu cara untuk mengatasi lajunya budaya luar yang masuk ke Indonesia, berbagai kurikulum telah diselaraskan dengan pengenalan budaya lokal, seperti salah satu pelajaran di Riau Budaya Melayu Riau yang mengenalkan budaya lokal, dan alangkah baiknya juga bersinergi dengan nilai-nilai yang ada dikeluarga. 

Pengenalan budaya lokal tidak hanya dari SD, tetapi juga sampai pada tingkat universitas. Pentingnya kerjasama dari keluarga, dunia pendidikan, pemerintah dan swasta akan terus mempertahankan budaya lokal kita, seperti kata tokoh melayu Hang Tuah “Takkan Melayu Hilang Bumi, Bumi Bertuah Negeri Beradat”.(*)

Senin, 20 Mei 2020 - 09:36 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru