Kacau! Jelang Ramadan Harga Bawang Putih Tak Terkendali

Kamis, 02 Mei 2019 - 10:21 WIB Ekbis

Berita Terkait

Kacau! Jelang Ramadan Harga Bawang Putih Tak Terkendali (CNBC Indonesia/Andrean kristianto) Foto: Menurut pedagang di pasarinu penjualan bawang putih mengalami kenaikan saat mendekati hari raya idul firtri yang dalam beberapa bulan nanti akan dirayakan.

JAKARTA - Kenaikan harga pangan lumrah terjadi menjelang bulan Ramadan karena umumnya umat Islam di Tanah Air menimbun stok bahan makanan untuk persiapan menghadapi puasa selama sebulan penuh. Selain itu, konsumsi bahan pangan juga cenderung meningkat akibat maraknya jamuan buka puasa bersama.

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, sejumlah harga bahan makanan mengalami peningkatan sepanjang bulan April 2019.

Harga bawang putih tercatat meningkat paling pesat di antara yang lain, yaitu mencapai 42,2%. Per 30 April 2019, harga rata-rata nasional bawang putih di pasar tradisional adalah sebesar Rp 49.750/kg. 

Bahkan di DKI Jakarta, 1 kg bawang putih harus ditukar dengan uang senilai Rp 62.500. Harga tertinggi sendiri terjadi di kota Merauke, NTT yang mencapai Rp 68.750/kg, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh Rp 70.000/kg.


Bawang putih memang menjadi momok kali ini lantaran izin impor yang terlambat keluar. Pada akhirnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan izin impor bawang putih sebanyak 115 ribu ton telah diterbitkan kepada importir swasta.

"Sudah ke sektor swasta 115 ribu ton. Ini semua yang menanam sesuai dengan ketentuan Permentan [Peraturan Menteri Pertanian]," kata Enggartiasto di kompleks kepresidenan, Senin (29/4/2019).

Tepatnya, per Kamis (25/4) Kementerian Perdagangan telah menerbitkan telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) bawang putih sejumlah 115.765 ton kepada 8 perusahaan importir swasta untuk tahun ini.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, izin impor tersebut akan berlaku hingga 31 Desember 2019. Adapun seluruh bawang putih tersebut akan diimpor dari China, selaku negara penghasil utama.

Seperti diketahui, RI rutin mengimpor bawang putih lantaran produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, Tjahya Widayanti pernah mengatakan bahwa sekitar 95 persen dari kebutuhan bawang putih secara nasional masih bergantung kepada impor. 

Adapun kebutuhannya rata-rata 450 ribu hingga 500 ribu ton per tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang tahun lalu saja RI mengimpor bawang putih sebanyak 582.994 ton, dengan 99,6% berasal dari China.

Ketika dikonfirmasi CNBC Indonesia terkait harga yang terus meroket meskipun izin impor telah turun, Tjahya menjawab singkat bahwa pihaknya saat ini masih mengandalkan stok yang ada di importir-importir swasta untuk digelontorkan dalam bentuk Operasi Pasar.

"Masih ada stok di importir," kata Tjahya kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/5/2019).

Kemendag bersama para importir terus berjibaku menggelar Operasi Pasar bawang putih dengan harga di tingkat konsumen sebesar Rp 30.000-32.000/kg. Operasi Pasar di DKI Jakarta dilakukan di 12 pasar titik pantauan inflasi, antara lain Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Jatinegara, Pasar Kramat Jati, Pasar Baru, Pasar Tomang Barat, Pasar Glodok, dan Pasar Tanah Abang.

(cnbcindonesia.com)

Kamis, 29 April 2017 - 10:21 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru