Ini Hukum Tato dalam Islam

Jumat, 05 Juli 2019 - 07:08 WIB Muslim

Berita Terkait

Ini Hukum Tato dalam Islam (Foto: Pinterest) Muslim dilarang bertato

Tato adalah salah satu seni menggambar tubuh menggunakan tinta dan jarum khusus. Bagi beberapa orang, tato merupakan lambang ekspresi jiwa yang bebas.

Namun beberapa orang berpendapat, Muslim punya tato, salatnya tidak sah atau tidak diterima. Lalu bagaimanakah hukum tato dalam islam?

Dilansir dari laman NU Online pada Kamis (4/7/2019), ternyata ulama dengan tegas mengharamkan tato yang pewarnanya tidak alami dan bersifat permanen atau menetap di kulit selamanya. Pernyataan tegas ini berdasar dari para ahli hukum fiqih. Tato disebut sebagai 'al-wasymu'.

Rasulullah SAW pernah menyinggung mengenai masalah tato ini dalam hadist berikut;

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْوَشْمَ حَرَامٌ لِلأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي لَعْنِ الْوَاشِمَةِ وَالْمُسْتَوْشِمَةِ، وَمِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَال لَعَنَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ. وَعَدَّهُ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ مِنَ الْكَبَائِرِ يُلْعَنُ فَاعِلُهُ. وَقَال بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْمَالِكِيَّةِ بِالْكَرَاهَةِ، قَال النَّفْرَاوِيُّ وَيُمْكِنُ حَمْلُهَا عَلَى التَّحْرِيمِ

Artinya:

“Mayoritas ahli fikih berpendapat, tato adalah haram berdasarkan sejumlah hadits sahih yang melaknat orang yang membuat tato atau orang yang minta ditato.

Salah satu haditsnya adalah riwayat Ibnu Umar RA. Ia berkata, Rasulullah SAW melaknat orang yang menyambung rambut, orang yang meminta rambut disambung, orang yang membuat tato, dan orang yang membuat tato disambung.

Sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah memasukkan tato sebagai dosa besar yang pelakunya dilaknat oleh Allah. Sebagian ulama Malikiyah mutaakhirin menganggapnya makruh.

An-Nafrawi menjelaskan bahwa makruh yang dimaksud adalah haram,” (Wizaratul Auqaf was Syu’unul Islamiyyah, Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Wizaratul Auqaf: 2005 M/1425 H], cetakan pertama, juz XXXXIII, halaman 158 ).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebut kata al-wasymu dengan sebuah praktik pembuatan gambar dengan cara menusuki kulit dengan jarum halus kemudian memasukkan zat warna ke dalam bekas tusukan itu hingga warna itu menjadi kehijauan atau kebiruan. Praktik ini yang kita temukan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah tato atau rajah.


ويحرم … ووشْم (وهو غرز الجلد بإبرة حتى يخرج الدم ثم حشوه كحلاً أو نيلة ليخضر أو يزرق بسبب الدم الحاصل بغرز الإبرة)، … لقوله صلّى الله عليه وسلم لعن الله الواشمات والمستوشمات، والنامصات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله أي الفاعلة، والمفعول بها ذلك بأمرها، واللعنة على الشيء تدل على تحريمه؛ لأن فاعل المباح لا تجوز لعنته

Artinya: “Haram menato, yaitu menusuk kulit dengan jarum sehingga keluar darah lalu diisi dengan zat warna atau zat warna biru dari pohon nila agar menjadi hijau atau biru karena bercampur darah yang keluar karena tusukan jarum.


Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, Allah melaknat orang yang membuat tato, orang yang meminta dibuatkan tato, orang yang menghilangkan bulu dirinya atau bulu orang lain, orang yang meminta orang lain menghilangkan bulu dari dirinya, dan orang yang membelah giginya untuk keelokan, yaitu mereka yang mengubah ciptaan Allah, baik penyedia jasanya maupun pengguna jasanya.

Laknat atau kutukan Allah terhadap orang atas suatu perbuatan menunjukkan keharaman perbuatan tersebut karena orang yang berbuat mubah tidak mungkin dikutuk (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 312-313).

Dari dalil dan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tato adalah haram sehingga seseorang yang memiliki tato, salatnya juga tidak diterima kecuali bertaubat.

(okezone.com)

Jumat, 03 September 2019 - 07:08 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru