Ranitidin, Obat Asam Lambung yang Diduga Picu Kanker

Selasa, 08 Oktober 2019 - 19:27 WIB Kesehatan

Berita Terkait

Ranitidin, Obat Asam Lambung yang Diduga Picu Kanker (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono) Ilustrasi. Ranitidin, obat asam lambung mengandung NDMA yang diduga picu kanker.

JAKARTA - Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) telah meminta perusahaan farmasi untuk menghentikan dan menarik obat Ranitidin karena mengandung N-Nitrosodimethylamine atau NDMA.

NDMA merupakan zat yang sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi sesuai ambang batas. Namun BPOM menemukan pencemaran di atas ambang batas yang menyebabkan NDMA bersifat karsinogenik atau memicu kanker.
Lihat juga: BPOM Tarik Obat Tukak Lambung yang Diduga Jadi Pemicu Kanker

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ari Fahrial menjelaskan bahwa sesungguhnya kandungan di dalam sebuah obat harusnya bersifat aman. Namun temuan dari BPOM atas Ranitidin telah mengindikasikan ada kandungan karsinogen yang levelnya tidak bisa ditolerir.

"Contohnya depan mata sebenarnya rokok itu karsinogen. Tapi orang sudah tahu karsinogen masih juga menghisap rokok. Tapi prinsipnya temuan BPOM dalam bentuk obat yang kita konsumsi itu (Ranitidin) memang harus disikapi masyarakat," kata Ari kepada CNN Indonesia TV (8/10).

Dari segi kegunaan, kata Ari, Ranitidin sebenarnya tak melulu manjur mengatasi problem lambung. Ia menyebut Ranitidin hanya bertugas untuk menekan angka produksi asam lambung.

"Sementara itu lambung itu mempunya tiga varietal. Ranitidine hanya bisa memblok satu varietal saja. Ada obat lain yang bisa menghambat tiga blok sekaligus," jelas dia.

Obat yang dapat memblok ketiga sumber asam lambung sekaligus pengganti Ranitidin, kata Ari, antara lain omeprazol, lansoprazol seperti esomeprazol. Jenis obat ini jauh lebih manjur dan banyak digunakan oleh dokter spesialis penyakit dalam.

Sementara Ranitidin, kata Ari, lebih banyak digunakan di puskesmas pemerintah. Namun Ari mengatakan mengkonsumsi Ranitidin tidak serta secara langsung menyebabkan kanker ke penggunanya. Kanker menurutnya dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

Oleh karena itu, Ari menganjurkan masyarakat yang aktif menggunakan ranitidin untuk mendatangi dokter masing-masing dan bisa meminta obat pengganti.

"Masyarakat kalau yang sempat menggunakan untuk sementara setop gunakan obat ini dan konsul dengan dokternya. Nanti ada banyak pilihan yang diberi," ujar dia.

Terakhir, Ari juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mengatur gaya hidup makanan untuk menghindari problem lambung. Adapun makanan yang perlu dihindari ialah makanan yang mengandung asam, pedas, cokelat, keju dan lemak.

"Kemudian tidak merokok, mengurangi kopi dan soda, mengendalikan stres dengan gaya hidup tenang. Kalau Islam banyak berzikir supaya tenang. Dengan begitu kita tidak harus mengonsumsi obat lambung," kata Ari.

(cnnindonesia.com)

Selasa, 20 April 2017 - 19:27 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru