Mengenal Fathimah binti Asad, Perempuan yang Selalu Memuliakan Rasulullah

Minggu, 10 November 2019 - 14:50 WIB Muslim

Berita Terkait

Mengenal Fathimah binti Asad, Perempuan yang Selalu Memuliakan Rasulullah (Istock) Ilustrasi Perempuan yang selalu memuliakan Rasulullah

Fathimah binti Asad adalah seorang sahabat perempuan yang agung. Perempuan yang membaiat Rasulullah SAW dan beriman kepadanya.

Perempuan yang berhijrah kepada Rasulullah SAW dalam iman. Perempuan yang menyeru dengan tulus dan sabar.

Fathimah binti Asad ibn Hasyim ibn Abdi Manaf al-Qurasyiyyah al-hasyimiyyah adalah istri dari paman Rasulullah SAW, Abu Thalib. Ia adalah ibu dari menantu dan saudara sepupu Nabi sendiri yakni Ali ibn Abi Thalib. Ia adalah ibunda Amirul Mukminin, Ali ibn Abi Thalib.

Di Kutip dari Buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, Fathimah binti Asad r.a adalah perempuan yang mendapat kehormatan untuk mendidik dan mengasuh Rasulullah SAW saat beliau dalam asuhan pamannya, Abu Thalib.

Kala itu, Rasulullah sudah menjadi anak yatim. Oleh karena itu, Fathimah juga mengasuh Rasulullah SAW yang masih kecil. Bahkan ia lebih banyak mengasuh Rasulullah daripada mengasuh anak-anaknya sendiri.

Ia selalu baik kepada Rasulullah SAW dan selalu menjaganya selama beliau berada dalam asuhan Abu Thalib,pamannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh tidak ada orang yang lebih baik kepadaku - sesudah Abu Thalib - lebih dari Fathimah. Aku baringkan ia di dalam lahat agar ia mendapat keringanan siksa kubur."

Fathimah binti Asad r.a memiliki peran penting dalam kehidupan kanak-kanak Rasulullah. Kala itu beliau adalah seorang anak yatim yang baru saja beralih asuhan di bawah Bani Hasyim.

Setelah ibunya, Aminah wafat, Rasulullah SAW diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib. Setelah Abdul Muththalib wafat, wasiat beralih ke tangan pamannya, Abu Thalib. Muhammad kecil yang yatim ini pun hidup bersama beberapa anak pamannya itu.

Istri sang paman, Fathimah, bisa merasakan bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh anak yang malang ini. Karena itulah, ia curahkan segenap kemampuan untuk menjadikan Muhammad tidak merasa gelisah, terasing, atau berbeda dengan anak-anaknya sendiri.

Bahkan, Fathimah memberikan perhatian khusus kepada Muhammad hingga kadangkala lebih diistimewakan daripada anak-anaknya sendiri. Perlakuan yang baik ini, masih membekas dalam diri Rasulullah SAW.

Beliau tidak pernah melupakan jasa yang telah dipersembahkan oleh Fathimah dan tidak pernah melupakan kebaikan yang telah ia curahkan.

Bahkan Rasulullah SAW berbakti kepada Fathimah laksana ibunya sendiri dan selalu mengingat segala hal yang telah dilakukan terhadap dirinya. Beliau selalu mengenang Fathimah hingga wanita ini wafat.

Beliau memuliakan makamnya sebagaimana memuliakan makam ibunya sendiri. Rasulullah SAW mendoakan agar Fathimah mendapat nikmat surga yang abadi.

Fathimah binti Asad adalah wanita yang berakhlak mulia dan memiliki iman yang mendalam serta kepribadian unik dan teguh. Inilah sifat-sifat yang diwariskan kepada para putranya, terutama Ali ibn Abi Thalib r.a.

Setelah suaminya, Abu Thalib, meninggal dunia, Fathimah selalu di rumah untuk menjalankan peran yang besar dalam mengasuh anak-anaknya dengan pendidikan yang baik . Akhirnya, Fathimah masuk Islam dan Allah menyinari hatinya dengan cahaya kebenaran dan iman.

Fathimah pun berbaiat di hadapan Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan hijrah bersama orang-orang yang hijrah ke Madinah al-Munawwarah, sebagai juru dakwah yang berujung demi mengangkat kalimat Allah dan meneguhkan pilar-pilar Islam.

Bagi Rasulullah, Fathimah adalah salah seorang sosok pembesar keluarga dan tokoh kaumnya. Rasulullah selalu menyimpan bentuk keikhlasan, muru'ah (kehormatan), dan tepat janji kepada Fathimah r.a. hingga beliau selalu berkunjung kepada Fathimah dan sesekali singgah dirumahnya.

Fathimah binti Asad r.a. telah tinggal di Madinah al-Munawwarah, hijrah di jalan Allah demi mempertahankan akidah. Ia hijrah bersama Rasulullah dan dikelilingi oleh putra-putranya, anak-anak Abu Thalib.

Bersama Rasulullah, mereka menyaksikan berbagai peristiwa dan peperangan, kecuali Ja’far ibn Abi Thalib yang hijrah ( dan tinggal di Habasyah)

Ketika Ali ibn Abi Thalib r.a. meminang putri Rasulullah SAW, Fathimah az-Zahra, sang ibu merasa sangat bahagia. Namun, ketika Fathimah telah tinggal di rumahnya sebagai istri yang mulia dan terhormat, Ali r.a. merasa khawatir jika sampai terjadi perselisihan antara Fathimah dan ibunya sementara dirinya adalah laki-laki yang sangat berbakti kepada ibunya.

Alhasil, Ali pun menjadi hakim di antara mereka berdua dan ia adalah orang yang paling bijak dan adil. Ali bin Abi Thalib berkata kepada ibunya, "Cukuplah untuk Fathimah binti Rasulullah s.a.w. dalam urusan air dan pergi untuk mencari kebutuhan. Adapun ibu cukup dalam urusan penggilingan dan adonan. Dengan demikian, Ali r.a. telah melindungi ibunya sekaligus."

Fathimah binti Asad wafat di Madinah al-Munawwarah dalam masa kehidupan Rasulullah SAW.

Diriwayatkan dari Ali ibn Husain ra. bahwa ia berkata, "Ayahku bercerita kepadaku: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali ibn Thalib berkata: ‘Ketika Fathimah binti Asad ibn Hasyim r.a. meninggal, Rasulullah SAW mengafaninya dengan gamis beliau lalu mensalatinya dan mengumandangkan takbir tujuh puluh kali. Selanjutnya, beliau turun ke dalam liang lahat dan menunjuk ke beberapa sudut makam seakan sedang memperluas dan meratakannya. Rasulullah SAW keluar dari dalam lahat dengan air mata yang berlinang sambil berlutut di atas makam itu.

Dalam riwayat lain disebutkan: "Rasulullah SAW berbaring di samping Fathimah binti Asad di dalam makamnya. Ketika beliau berjalan, Umar ibn Khaththab r.a. mendekati beliau dan bertanya: 'Wahai Rasulullah, sungguh aku melihat engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan terhadap siapa pun.' Rasulullah SAW menjawab: 'Wahai Umar, wanita ini di mataku adalah laksana ibuku yang melahirkanku. Ketika Abu Thalib mencari nafkah, beliaulah yang menyiapkan hidangan makanan dan aku makan bersama mereka."

Diceritakan dari Ali ibn Abi Thalib r.a. bahwa ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengafani ibunya, Fathimah binti Asad, dengan gamis beliau. Selanjutnya, beliau berbaring di dalam makam Fathimah dan mendoakan agar ia mendapat balasan yang lebih baik.

Para sahabat pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihatmu melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau lakukan terhadap wanita ini." Rasulullah s.a.w. menjawab, "Sungguh tidak ada orang yang lebih baik kepadaku sesudah Abu Thalib lebih dari Fathimah. Aku memakaikan gamisku kepadanya agar ia terbungkus dengan hiasan surga. Aku baringkan ia di dalam lahad agar ia mendapat keringanan siksa kubur."

(okezone.com)

Minggu, 20 November 2018 - 14:50 WIB
Tulis Komentar

0 Komentar

Tulis Komentar

Berita Terbaru