Buruh PT. APSL Mogok Kerja, Gaji Tidak Dibayar Tepat Waktu
kabarmelayu.com,SONTANG Buruh PT Andika Permata Sawit Lestari ( APSL ) Desa Sontang Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu (Rohu
Peristiwa
Prof. Didik mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali mengenal Agus Widjojo pada awal 1990-an saat bersama Dipo Alam terlibat dalam perancangan dan pelaksanaan Seminar Angkatan Darat II di Bandung.
"Saya mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika diajak Dipo Alam untuk merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung," ujar Prof. Didik. "Saya baru menyelesaikan kuliah doktor dan pemikiran tentang ekonomi politik masih hangat di kepala."
Baca Juga:
Menurut Prof. Didik, pertemuan intensif selama beberapa hari meninggalkan kesan mendalam tentang kapasitas intelektual Agus Widjojo sebagai seorang perwira tinggi TNI.
"Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan zaman," katanya.
Baca Juga:
Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan Agus Widjojo terus terjalin, baik dalam berbagai forum seminar maupun melalui media sosial.
Prof. Didik menilai Agus Widjojo sebagai figur yang menjembatani dialog sehat antara kalangan militer dan intelektual sipil. "Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo," ungkapnya.
"Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung pemikiran profesionalisme TNI dan sekaligus supremasi sipil," ungkap Prof Didik.
Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut sejalan dengan karakter masyarakat modern dan demokratis. "Karena memang begitulah sejatinya masyarakat modern," lanjut Prof. Didik.
Dalam pandangan Prof. Didik, Agus Widjojo kerap disebut sebagai "tentara intelektual" atau "perwira intelektual" karena posisinya yang unik. "Yakni sebagai elit militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi," jelasnya.
Pemikiran Agus Widjojo tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil, menurut Prof. Didik, diarahkan pada tujuan besar untuk membangun demokrasi modern. "Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern di mana masyarakat madani seimbang dalam trias politika, eksekutif, legislatif dan yudikatif."
Prof. Didik juga menegaskan peran penting Agus Widjojo dalam mengakhiri Dwifungsi ABRI. "Agus Widjojo adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI," tegasnya.
Pandangan Agus Widjojo tentang relasi militer dan politik dinilai sangat tegas dan konsisten. "Agus Widjojo berpandangan bahwa militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan. Keterlibatan militer dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI."
Menurut Prof. Didik, bagi Agus Widjojo, kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis, sementara militer tunduk pada konstitusi dan hukum. "Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan 'penjaga kekuasaan', melainkan alat negara untuk pertahanan."
Prof. Didik menempatkan Agus Widjojo dalam jajaran perwira intelektual Indonesia bersama tokoh-tokoh seperti almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, Susilo Bambang Yudhoyono, ZA Maulani, dan Prabowo Subianto. Namun, ia menyayangkan bahwa pada generasi perwira saat ini, figur tentara intelektual semakin sulit ditemukan.
"Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus Widjojo dan kawan-kawan."
Sebagai Gubernur Lemhannas RI, Agus Widjojo terus menyalurkan pemikiran strategisnya kepada elite pemerintahan."Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk cara pandang elit memahami dinamika sistem modern, civil society, geoekonomi dan geopolitik."
Prof. Didik menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Indonesia kehilangan seorang pemikir strategis negara yang langka. "Pendek kata, intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya," tutupnya.(rief)
kabarmelayu.com,SONTANG Buruh PT Andika Permata Sawit Lestari ( APSL ) Desa Sontang Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu (Rohu
Peristiwa
kabarmelayu.com,ROHUL Petani kelapa sawit di wilayah Lubuk Bendahara Siliwangi, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu ,(Rohul) saa
Peristiwa
kabarmelayu.com,INHIL Bupati Indragiri Hilir (Inhil), H. Herman, menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Riau Ke
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 3.605 kasus baru tuberkulosis (TBC) sejak awal hingga 20 Sept
Kesehatan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke20 Insurance Day, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Ca
Sosial
kabarmelayu.com,MERANTI Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kepulauan Meranti menggelar pelatihan dan Seminar jurnalistik, Senin
TNI/Polri
kabarmelayu.com,ROHUL Seorang karyawan PT SAM II di Desa Muara Dilam, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, berinisial I
Hukrim
kabarmelayu.com,ROHUL Peredaran narkotika jenis sabu berhasil diungkap jajaran Polsek Ujung Batu, Polres Rokan Hulu (Rohul). Seorang pria
Hukrim
kabarmelayu.com,ROHUL Universitas Pasir Pengaraian (UPP) menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda XXV Program Pascasarjana, Profesi, Sarjana,
Pendidikan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief MBA, menyambut baik rencana pembentukan Politeknik Teknologi Modern (
Pendidikan