Minggu, 28 Juni 2026 WIB

Warga AS Tewas Usai Minum Cairan Mengandung Chloroquine

Harijal - Selasa, 24 Maret 2020 17:14 WIB
Warga AS Tewas Usai Minum Cairan Mengandung Chloroquine
(Istockphoto/Fergregory)
Satu penduduk AS meninggal usai meminum cairan pembersih mengandung chloroquine dengan alasan mencegah tertular virus corona.

JAKARTA - Seorang lelaki di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, meninggal setelah melakukan eksperimen dengan menenggak cairan pembersih yang mengandung chloroquine, untuk mencegah terkena virus corona.

Seperti dilansir CNN, Selasa (24/3), istri lelaki tersebut juga melakukan hal yang sama dengan suaminya. Namun, dia saat ini dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit.

Menurut laporan, pasangan suami istri yang berusia sekitar 60 tahun tersebut meminum cairan pembersih akuarium yang mengandung chloroquine fosfat. Sekitar setengah jam kemudian keduanya memperlihatkan gejala keracunan dan dilarikan ke rumah sakit.

Baca Juga:

Selain dijadikan obat, chloroquine juga kerap digunakan sebagai salah satu bagian untuk membuat cairan pembersih.

Terkait kejadian tersebut, sistem manajemen rumah sakit Banner Health yang berbasis di Arizona dalam laporannya menyatakan supaya para penduduk tidak sembarang mengkonsumsi atau melakukan pengobatan sendiri meski dengan tujuan mencegah infeksi virus.

Baca Juga:

"Terkait dengan informasi yang simpang siur terkait Covid-19, kami memahami sebagian masyarakat mencoba mencari jalan untuk mencegah terinfeksi virus. Namun, mengobati diri sendiri bukan cara yang tepat," kata Direktur Pusat Informasi Obat-obatan dan Zat Beracun Banner Health, dr. Daniel Brooks.

Presiden AS, Donald Trump, mencuit dan mengklaim bahwa kombinasi obat chloroquine dan azithromicyn ampuh untuk mengobati Covid-19 akibat virus corona. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memang melegalkan penggunaan chloroquine untuk malaria, lupus, dan artritis rheumatoid.

Akan tetapi sampai saat ini mereka belum menyetujui obat tersebut digunakan untuk mengobati pasien virus corona.

Sejumlah penelitian saat ini menunjukkan hasil untuk sementara memang obat tersebut bisa meredakan gejala akibat Covid-19. Namun, mereka menyatakan masih harus melakukan penelitian lebih lanjut.

Pakar epidemiologi AS, Dr. Anthony Fauci, tidak menampik soal laporan tersebut. Namun, menurut dia penggunaan kedua obat itu masih harus dikaji.

"Saya bukan tidak setuju dengan fakta di lapangan, tetapi tugas saya adalah membuktikan secara pasti melalui pijakan ilmiah bahwa obat itu memang manjur," kata Fauci yang merupakan anggota Satgas Penanganan Virus Corona AS. 

(CNNIndonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
24 Perusahaan Keroyok Perbaikan Ruas Jalan Minas-Perawang
Siswa SMAN 8 Pekanbaru Bawa Pulang Emas dan Perunggu Olimpiade Nasional POSI IPB
Korban Tewas Akibat Gempa Venezuela Sudah Hampir 1.000 Orang
Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Optimalkan Pengelolaan Budidaya Jagung Bersama Kelompok Tani Jambai Makmur
Kemenhan Akui 5 Calon Manajer Kopdes dan KNMP Meninggal Saat Latsarmil
Siap Berlaga, Utusan Bengkalis pada MTQ ke-44 Riau di Kuansing Tuntas Registrasi Ulang
komentar
beritaTerbaru