Senin, 29 Juni 2026 WIB

Geruduk Kedubes Myanmar, Ribuan Muslim di Moskow Gelar Aksi untuk Rohingya

Harijal - Minggu, 03 September 2017 21:02 WIB
Geruduk Kedubes Myanmar, Ribuan Muslim di Moskow Gelar Aksi untuk Rohingya
Foto: novosti_ing/Instagram

MOSKOW - Warga Muslim di Moskow berkumpul di depan kedutaan besar Myanmar di ibu kota Rusia itu dan menggelar aksi solidaritas bagi Muslim Rohingya yang tertindas di Rakhine. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan ribuan orang berkumpul dengan penjagaan ketat dari polisi.

Dalam rekaman video yang tersebar melalui Twitter terdengar massa yang berkumpul berseru "Allahu Akbar!" dan meneriakkan seruan-seruan terhadap Pemerintah Myanmar. Laporan yang dilansir RT, Minggu (3/9/2017) menyebutkan, ribuan orang ikut serta dalam aksi yang tidak direncanakan tersebut.

Pemimpin Chechnya, daerah mayoritas Muslim di Rusia, Ramzan Kadyrov melalui media sosial Instagram mengatakan, dirinya siap untuk menggelar aksi serupa di Ibu Kota Chechnya, Grozny pada 4 September mendatang. Kadyrov menambahkan, warga Muslim Chechnya akan menggelar salat bersama dan mendoakan saudara-saudara mereka di Myanmar.

Baca Juga:

Situasi keamanan dan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine telah memicu reaksi dunia internasional. Lebih dari 40 ribu warga Muslim Rohingya di wilayah itu terdampar dan tidak dapat mengungsi ke lokasi yang aman menyusul sejumlah kekerasan dan operasi militer di Rakhine.

Ribuan rumah warga Rohingya telah dibakar dan ratusan orang telah tewas dalam konflik antara militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) dan tentara Myanmar yang kembali pecah bulan lalu.

Baca Juga:

Kelompok hak asasi manusia (HAM) menuding tentara Myanmar berada di balik pembakaran dan pembantaian warga Muslim di Rakhine tersebut. Namun, Pemerintah Myanmar membantah tuduhan tersebut dan menyatakan semua itu adalah perbuatan dari militan ARSA.

Persekusi terhadap orang-orang Rohingya di Myanmar telah berlangsung sejak lama terutama sejak 1970-an. Saat itu, Pemerintah Myanmar melakukan berbagai operasi militer dan kebijakan diskriminatif yang membatasi pertumbuhan warga Rohingya. Keadaan semakin buruk pada 1982 saat junta militer memutuskan untuk tidak mengakui warga Rohingya sebagai warga negara.


(dka/okezone)

SHARE:
beritaTerkait
Raih 1.395 Poin, Fahmil Beregu Putra Bengkalis Melaju ke Final
Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Lakukan Pendampingan Berkelanjutan, 10 Hektare Lahan Jagung Telah Tertanam Bersama Kelompok Tani
Kejurnaswil Sumatera Shorinji Kempo 2026, Perkemi Pekanbaru Raih 2 Medali Emas dan 1 Perak
Menanti Keadilan di PN Jaksel, Praperadilan Kasus Kriminalisasi Aktivis Lharsen Yunus Dijadwalkan 14 Juli 2026
Pekanbaru Juara Umum Kejurprov Panahan Junior Riau 2026
Bupati Afni Zulkifli Pimpin Langsung Pawai Taaruf MTQ Ke 44 Propinsi Riau di Kuansing
komentar
beritaTerbaru