Senin, 05 Oktober 2026 WIB

Geruduk Kedubes Myanmar, Ribuan Muslim di Moskow Gelar Aksi untuk Rohingya

Harijal - Minggu, 03 September 2017 21:02 WIB
Geruduk Kedubes Myanmar, Ribuan Muslim di Moskow Gelar Aksi untuk Rohingya
Foto: novosti_ing/Instagram

MOSKOW - Warga Muslim di Moskow berkumpul di depan kedutaan besar Myanmar di ibu kota Rusia itu dan menggelar aksi solidaritas bagi Muslim Rohingya yang tertindas di Rakhine. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan ribuan orang berkumpul dengan penjagaan ketat dari polisi.

Dalam rekaman video yang tersebar melalui Twitter terdengar massa yang berkumpul berseru "Allahu Akbar!" dan meneriakkan seruan-seruan terhadap Pemerintah Myanmar. Laporan yang dilansir RT, Minggu (3/9/2017) menyebutkan, ribuan orang ikut serta dalam aksi yang tidak direncanakan tersebut.

Pemimpin Chechnya, daerah mayoritas Muslim di Rusia, Ramzan Kadyrov melalui media sosial Instagram mengatakan, dirinya siap untuk menggelar aksi serupa di Ibu Kota Chechnya, Grozny pada 4 September mendatang. Kadyrov menambahkan, warga Muslim Chechnya akan menggelar salat bersama dan mendoakan saudara-saudara mereka di Myanmar.

Baca Juga:

Situasi keamanan dan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine telah memicu reaksi dunia internasional. Lebih dari 40 ribu warga Muslim Rohingya di wilayah itu terdampar dan tidak dapat mengungsi ke lokasi yang aman menyusul sejumlah kekerasan dan operasi militer di Rakhine.

Ribuan rumah warga Rohingya telah dibakar dan ratusan orang telah tewas dalam konflik antara militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) dan tentara Myanmar yang kembali pecah bulan lalu.

Baca Juga:

Kelompok hak asasi manusia (HAM) menuding tentara Myanmar berada di balik pembakaran dan pembantaian warga Muslim di Rakhine tersebut. Namun, Pemerintah Myanmar membantah tuduhan tersebut dan menyatakan semua itu adalah perbuatan dari militan ARSA.

Persekusi terhadap orang-orang Rohingya di Myanmar telah berlangsung sejak lama terutama sejak 1970-an. Saat itu, Pemerintah Myanmar melakukan berbagai operasi militer dan kebijakan diskriminatif yang membatasi pertumbuhan warga Rohingya. Keadaan semakin buruk pada 1982 saat junta militer memutuskan untuk tidak mengakui warga Rohingya sebagai warga negara.


(dka/okezone)

SHARE:
beritaTerkait
Peringatan HUT Ke-81 TNI, Tekankan Profesionalisme dan Kesiapan Prajurit
PSPS Curi Tiga Poin dari Semen Padang FC
Ditreskrimsus Polda Riau Selidiki Dugaan Penimbunan 69,2 Ton Pupuk Diduga Bermasalah Temuan Personil Deninteldam XIX/Tuanku Tambusai
Resmi Jadi Kapolda Riau, Irjen Arman Achdiat Bawa Misi Polisi Berempati dan Peduli
Dilantik Jadi Kabaharkam Polri, Komjen Herry Heryawan Bicara Amanah dan Pengabdian
Kemkomdigi Minta Operator Seluler Optimalkan Perlindungan Sisa Kuota
komentar
beritaTerbaru