Minggu, 28 Juni 2026 WIB

Dapat Ancaman, Doa Bersama Muslim Selandia Baru Batal

Harijal - Kamis, 04 April 2019 20:01 WIB
Dapat Ancaman, Doa Bersama Muslim Selandia Baru Batal
(AP Photo/Vincent Thian)
Ilustrasi.

Sesi doa bersama secara Islam dalam rangka peringatan hari pahlawan Selandia Baru atau Hari Anzac pada 25 April mendatang dikabarkan batal karena ada ancaman kekerasan dari sejumlah veteran dan masyarakat.

Salah satu panitia acara sekaligus pengurus The Returned and Services Association (RSA) untuk wilayah Titahi Bay, Simon Strombon, mengatakan doa bersama itu direncanakan digelar untuk mendoakan korban penembakan massal di dua masjid Kota Christchurch pada 15 Maret lalu.

Awalnya, doa bersama itu akan masuk dalam rangkaian upacara militer Hari Anzac pada pukul 06.00 pagi waktu lokal. 

Baca Juga:

Namun, sejumlah veteran menolak rencana itu lantaran menilai upacara ditujukan hanya untuk mengenang tentara Selandia Baru dan Australia yang tewas dalam perang. 

Hari Anzac memang merupakan hari peringatan militer yang dirayakan Australia dan Selandia Baru untuk mengenang warga mereka yang gugur dalam seluruh perang sejak Perang Dunia I.

Baca Juga:

Akhirnya, doa bersama itu pun diundur menjadi pada pukul 10.00 pagi dalam bentuk peringatan sipil.

"Apa yang terjadi di Christchurch memang mengejutkan dan kita semua sepakat bahwa kejadian itu benar-benar salah dari segala hal. Saya percaya langkah-langkah tepat telah diambil untuk menyampaikan bahwa komunitas Muslim adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari mereka," kata salah seorang veteran Selandia Baru di Perang Vietnam, Dave Brown, seperti dikutip news.com.au.

"Hari Anzac digelar untuk mengenang semua orang yang pergi ke luar negeri dan melayani negara mereka baik yang selamat maupun yang tidak. Itulah signifikansi dan satu-satunya tujuan Hari Anzac digelar, dan saya rasa perayaan ini harus tetap berjalan seperti itu."

Beberapa orang juga menganggap doa bersama itu menunjukkan langkah "yang benar-benar tidak menghargai budaya Selandia Baru."

Sementara itu, Strombon, yang juga pernah ikut berperang di Afghanistan, mengaku terkejut setelah melihat beberapa komentar kecaman hingga ancaman di akun Facebook RSA Titahi Bay. 

Komentar-komentar itu muncul setelah RSA Titahi Bay mengumumkan bahwa "komunitas Muslim akan menutup peringatan Hari Anzac tahun ini dengan doa dari Al Quran."

Strombon juga mengaku menerima "beberapa surat elektronik yang tidak menyenangkan" terkait rencananya itu.

"Kami mengundang (imam Masjid Newlands) untuk memberikan sesuatu (seperti ceramah dan doa). Saya pikir ini lebih dari pantas untuk dilakukan mengingat keadaan baru-baru ini," tutur Strombon.

"Saya menerima sejumlah surat dan email berisi kebencian yang sangat agresif melalui situs RSA Titahi Bay. Hal ini sangat disesalkan bagi saya karena saya pikir tentara Selandia Baru, terutama yang pernah beroperasi di lapangan, memiliki sensitivitas akan budaya dan kemampuan beradaptasi."

Sebagai seorang mayor, Strombon pernah memimpin sebuah pasukan yang juga terdiri dari tentara-tentara Muslim. Ia mencatat lebih banyak korban tewas dalam teror di Christchurch daripada 37 tentara Selandia Baru yang tewas dalam Perang Vietnam. 

(cnnindonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Bandar dan Kurir Sabu di Siak Ditangkap, Senpi Rakitan Ikut Diamankan
Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Kawal Produktivitas Ketahanan Pangan hingga Masa Panen
Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau, Stand Bazar Inhil Jadi Primadona
Pekanbaru Target Juara Umum, 70 Kafilah MTQ Riau Ke-44 Dilepas ke Kuansing
TRC 112 Pekanbaru Ditargetkan Tujuh Menit Sampai di Lokasi
24 Perusahaan Keroyok Perbaikan Ruas Jalan Minas-Perawang
komentar
beritaTerbaru