Kamis, 30 Juli 2026 WIB

Fakta Memukau Mengenai Bulan dalam Peradaban Muslim

Harijal - Kamis, 03 November 2016 18:25 WIB
Fakta Memukau Mengenai Bulan dalam Peradaban Muslim
(Foto: Shutterstock)

JAKARTA, kabarmelayu.com - Dalam peradaban Muslim, para astronom selalu tertarik dengan berbagai fase bulan. Para ahli astronomi pada awal masa peradaban Muslim menghitung kapan tepatnya bulan sabit (hilal) akan muncul. Informasi tentang hilal ini penting bagi penganut agama Islam.

Kemunculan hilal menandai mulainya Ramadan dan bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam. Al-Kindi, ilmuwan Irak abad Ke-9 mengembangkan jenis trigonometri untuk bentuk bola, bukan hanya permukaan datar.

Masyarakat membutuhkan trigonometri dalam bentuk bola untuk menemukan arah ke Mekkah, kiblat umat Islam.

Baca Juga:

Seorang ahli astronomi bernama Muhammad Abul-Wafa Buzjani menemukan bahwa Bulan bergerak di orbitnya dengan kecepatan berbeda-beda dalam setiap fase. Ahli astronomi Denmark Tycho Brhae sering dianggap sebagai penemu fenomena perbedaan kecepatan Bulan, namun penemuannya terjadi 600 tahun setelah Buzjani.

Satu kawah di Bulan dinamakan Abul-Wafa untuk menghormati Abul-Wafa Buzjani. Kini kalender Islam memiliki 12 bulan yang dimulai berdasarkan peredaran Bulan, seperti dirangkum “1001 Penemuan dan Fakta Mempesona Peradaban Muslim,” Kamis (3/11/2016).

Baca Juga:

Sementara pada 634 M, khalifah kedua Umar bin Khattab menetapkan sistem kalender Hijriyah berdasarkan siklus bulan, yang hingga kini masih digunakan.

Kalender Hijriyah, atau Kalender Islam, hanya terdiri atas 354 atau 355 hari, 11 hari lebih pendek daripada kalender yang didasarkan perputaran Bumi mengelilingi Matahari.

Ibnuul-Haitsam, mempelajari berbagai posisi Bulan di langit dan menemukan bahwa penampakan Bulan yang terlihat lebih besar di dekat cakrawala adalah ilusi optik. Ukuran Bulan yang sebenarnya tidak berubah.

Di permukaan Bulan ada 650 lebih petak gelap dan terang, yang berupa kawah dan formasi lainnya. Tiga belas di antaranya menyandang nama para ahli astronomi Muslim.

Bentuk permukaan Bulan menjadi salah satu penyebab fenomena “bayangan manusia di Bulan” yang kita lihat dari Bumi. Bulan dikenal sengan berbagai nama seperti “Luna” bagi bangsa Romawi, “Selana” oleh bagi bangsa Yunani, dan “Al-Qamar” bagi bangsa Arab.

 

(kem/okezone/rec)

SHARE:
beritaTerkait
Terima Lulusan IPDN Riau, Syahrial Abdi: Jaga Integritas, Optimalkan Pelayanan
Fun Pingpong Competition, Pererat Sinergi SKK Migas, EMP dan PWI Riau
Ketahanan Pangan, Kapolsek Kandis dan Personel Siapkan Kebutuhan Air untuk Tanaman Jagung
Hendry Munief Motivasi Santri PP Hidayatullah Pekanbaru Jadi Santripreneur Berbasis Nilai Tauhid
Wako Geram Revitalisasi Pasar Bawah Tak Tuntas, Pengelola Terancam Putus Kontrak
Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026 Resmi di Buka, Polda Riau Hadirkan Layanan hingga Pulau Terluar
komentar
beritaTerbaru