Selasa, 13 Oktober 2026 WIB

Sejarawan Sebut Praktik Korupsi Menginsipirasi Sejumlah Karya Sastra

Harijal - Kamis, 01 Juni 2023 00:31 WIB
Sejarawan Sebut Praktik Korupsi Menginsipirasi Sejumlah Karya Sastra
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Liputan6.com/Fachrur Rozie)

JAKARTA - Sejumlah karya sastra yang menggambarkan praktik dan perlawanan terhadap korupsi telah diterbitkan setelah Indonesia merdeka. Salah satunya novel "Korupsi" karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pada tahun 1954. 

Meskipun karya sastra tersebut berbentuk fiksi, sejarawan, Bonnie Triyana menilai hal tersebut merupakan penggambaran mengenai masalah sosial yang dihadapi masyarakat pada masanya. Bahkan, Bonnie menyebut banyak sastrawan yang mengangkat tema serupa.

Misalnya novel "Orang-Orang Proyek" oleh Ahmad Tohari hingga Ramadhan KH dengan karyanya yang berjudul "Ladang Perminus".

Baca Juga:

"Itu novel yang sebetulnya melukiskan keadaan bagaimana praktik korupsi di tubuh Pertamina yang merugikan negara banget, yang mungkin hasil korupsi juga enggak habis dimakan tujuh turunan. Nah itu juga menginspirasi novel dan sangat menarik ketika praktik korupsi ini menjadi tema-tema novel," kata Bonnie kepada Liputan6.com.

Karena itu, dia menyebutkan berbagai praktik korupsi sudah terjadi sejak masa penjajahan dan polanya masih terbawa dari masa ke masa. Saat masa kolonial kata Bonnie saat tanam paksa pun praktik korupsi telah terjadi yang dilakukan oleh para kaum feodal.

Baca Juga:

"Jadi mulai camat, bupati ke atas itu. Mereka yang mengoperasionalkan kekuasaan di dalam kolonialisme yang berkawinlah dengan kolonialisme. Ketika kopi disetorkan ke VOC misalkan, petaninya cuma dapat 1-2 sen, harga si elit feodal nya itu mark-up harga dinaikkan lagi ke VOC. Selisihnya itu sudah korupsi," ucapnya.

Kemudian contoh lainnya yaitu praktik upeti. Atau kebiasaan memberikan hadiah yang secara finansial dan ekonomi saat itu belum bagus kepada petinggi wilayah atau pengusaha saat itu.

"Dalam pola yang lebih modern sekarang itu, kayak ngasih uang tanda terima kasih, tanda hadiah atau apa pun itu, gratifikasi lah katakanlah. Nah, hubungan ini berlangsung ratusan tahun dalam kebudayaan kita. Sedikit banyak praktiknya masih ada," papar dia.

Pola Korupsi Saat Ini Bentuk Modifikasi dari Peristiwa Sebelumnya
Selanjutnya, berhubungan dengan otoritas feodal, misalnya sebelum adanya Pilkada yang memberikan jabatan kepada keturunannya. Sedangkan untuk saat ini warisan yang tersisa di era modern yaitu berhubungan dengan partai politik.

"Partai politik kalau udah mau pemilu orang ngomongnya pakai duit semua. Hubungan yang terjalin antara orang yang mau dipilih sama yang memilih itu hubungan duit. Untuk daerah tertentu misalkan, dia untuk menjaga masanya ada istilahnya biaya patronase, ngasih uang supaya dia tetap memberi dukungan. Ini pola-pola yang menurut hemat saya diwariskan dari masa lalu," ujar Bonnie.

Dia menegaskan, praktik korupsi yang terjadi saat ini merupakan warisan masa lalu dan telah dimodifikasi. "Tapi kelakuannya polanya sama. Kalau pertanyaannya seberapa banyak garong seberapa banyak yang dicuri segala macam, pasti banyak. Jadi kita alihkan sedikit geser pemahamannya seberapa kuat dan seberapa serius kita memeranginya. Bahkan kalau sudah diperangi aja masih ada tuh orang korupsi, apalagi enggak," Bonni menjelaskan.

sumber

SHARE:
beritaTerkait
Sempena HUT Rohul Ke-27, Kajari Rohul: Momentum Perkuat Kebersamaan
Kelurahan Basilam Baru Ikuti Penjaringan Kelurahan Tingkat Nasional
Tenan Pelindo Dumai Ingkar Janji, IPTD: Jangan Sepelekan Kami
Tim Gabungan Bareskrim 'Sambangi' MP Club Pekanbaru, 54 Pengunjung Positif Narkoba
2.440 Hotspot Bercokol di Sumatera, Kabut Asap Masih Berpotensi Terjadi di Riau
Bupati Afni Lepas Kontingen PORSENI IGTKI ke Kuansing
komentar
beritaTerbaru