Selasa, 18 Agustus 2026 WIB

PZL-Swidnik Mi-2 Plus: Helikopter Serbaguna Polri Bergaya Old School

Harijal - Sabtu, 03 Desember 2016 10:33 WIB
PZL-Swidnik Mi-2 Plus: Helikopter Serbaguna Polri Bergaya Old School
Helikopter Mi2 Plus

JAKARTA - Dilihat dari tampilan, helikopter ini jelas sangat old school, ini wajar mengingat Mi-2 pertama kali terbang pada 22 September 1961. Meski kemudian menelurkan banyak varian, pada dasarnya tidak ada perubahan dari aspek desain.

Walau hadir dalam tampilan jadoel, Mi-2 terbilang cukup banyak diproduksi, sampai tahun 2003, total ada 6.500 unit yang digunakan di lebih dari 28 negara. Di Indonesia Mi-2 juga sempat eksis di awal tahun 2000-an, yakni mengisi kekuatan armada helikopter di Puspenerbal TNI AL dan Direktorat Kepolisian Udara.

Di Puspenerbal, Mi-2 digunakan sebagai helikopter transport serbaguna, perannya bisa disejajarkan dengan helikopter NBell-412 yang masuk dalam Skadron Udara 400. Dan merujuk ke sejarahnya Mil Mi-2 pertama kali memang diterbangkan di Uni Soviet pada tahun 1961, namun selanjutnya proses pengembangan helikopter twin engine ini dipindahkan ke Polandia pada tahun 1964.

Baca Juga:

Pembuatan Mi-2 semula terpusat di Moskow kemudian dibagi ke Polandia setelah Uni Soviet pecah pada 1991. Polandia mengembangkan Mi-2 menjadi varian baru, yakni Mi-2 Plus. Adapun Rusia lewat Rostov-Mil membuat jenis baru pula, yakni Mi-2 A.

Mi-2 TNI AL.

Baca Juga:

Mi-2 yang digunakan oleh TNI AL dan Polri adalah Mi-2 versi awal, hal ini pernah diutarakan oleh Asisten Perencanaan KSAL, Laksamana Muda Tedjo Eddy di majalah.tempointeraktif.com (19/3/2007). Dan disebut bahwa Mi-2 TNI AL adalah buatan Rusia, lebih tepatnya ada tiga helikopter Mi-2 yang dioperasikan TNI AL, ketiga heli itu adalah bagian dari 16 unit yang dibeli pemerintah Indonesia dari EDB Rostov-Mil PLC, Rusia. Sementara manufaktur helikopter adalah Rostov-Mil.

Tapi berbeda dengan pernyataan Tedjo Eddy, dari penelurusan kami di situs pelacak identitas, helicopter-database.com, justru terungkap bahwa Mi-2 TNI AL adalah buatan PZL-Swidnik, Polandia. Di situs tersebut disebut ketiga Mi-2 TNI AL masing-masing bernomer registrasi HL-450 (tiba Oktober 2003), HL-451, dan HX-2004.

Pengadaan helikopter angkut ini digagas sejak 2000, ketika Kepala Staf Angkatan Laut dijabat Laksamana Ahmad Sutjipto. Alokasi anggaran US$11 juta atau sekitar Rp100 miliar melalui kredit ekspor diperoleh setahun kemudian. Kontrak pembelian 16 heli Mi-2 ditandatangani KSAL Laksamana Kent Sondakh dan Guennadi Zoubkov, Direktur Utama Rostov-Mil, pada 17 Desember 2002.

Mi-2 ditenagai dua mesin Turboshaft Klimov GTD-350, dimana masing-masing mesin dapat menghasilkan tenaga 450 Kw 604 SHP. Mi-2 dapat melaju dengan kecepatan maksimum 200 km per jam. Meski tidak identik sebagai helikopter tempur, namun Mi-2 dapat dipersenjatai dengan kanon, rudal anti tank dan roket, oleh karena itu dimasanya helikopter ini tetap menjadi perhatian NATO, yang lantas kemudian memberi kode Mi-2 sebagai Hoplite.

ebagai helikopter angkut, Mi-2 dapat membawa 8 pasukan bersenjata lengkap, atau bila membawa barang bisa memuat payload 700 kg. Jika masih kurang, Mi-2 dapat membawa cargo lewat sling kabel. Jika menyandang gelar sebagai helikopter serbu, Mi-2 bisa dipasang kanon NS-23, pod peluncur roket S-5,dan rudal anti tank AT-3 Sagger.

Selain Puspenerbal TNI AL, pengguna Mi-2 adalah Direktorat Kepolisian Udara. Dikutip dari news.okezone.com (12/4/2008), secara tegas disebut jenis yang digunakan Polri adalah Mi-2 Plus buatan PZL-Swidnik Polandia tahun 2004. Menurut helicopter-database.com, Polri setidaknya memiliki 12 unit Mi-2 Plus (nomer registrasi P-5002 sampai P-5014). Armada Mi-2 Plus Polri dikirim pada tahun 2015.

Mengingat yang digunakan TNI AL adalah Mi-2 versi awal, maka Mi-2 Plus milik Polri lebih modern. Beberapa elemen yang ditambahkan pada Mi-2 Plus adalah penggunaan bilah pada rotor utama yang menggunakan material komposit, selain itu Mi-2 Plus juga sudah dibekali perangkat elektronik dari Honeywell dan perangkat navigasi dari Garmin.

Sebagai informasi, PZL-Swidnik kini menjadi bagian dari Leonardo Helicopters company (Finmeccanica), dengan sentuhan investasi Eropa Barat, maka wajar bila Mi-2 Plus punya jeroan yang lebih berkiblat ke standar NATO.

Spesifikasi Mi-2 :
-Capacity: 8 passengers or 700 kg internal, 800 kg external cargo
-Length: 11,4 meter
-Rotor diameter: 14,5 meter
-Height: 3,75 meter
-Empty weight: 2.372 kg
-Loaded weight: 3.550 kg
-Max. takeoff weight: 3.700 k
-Maximum speed: 200 km/h
-Range: 440 km
-Service ceiling: 4.000 meter
-Rate of climb: 4,5 m/s


Sumber : http://www.indomiliter.com/pzl-swidnik-mi-2-plus-helikopter-serbaguna-polri-bergaya-old-school/rec

 

SHARE:
beritaTerkait
Satreskrim Polres Pelalawan Ungkap Kasus Galian C Ilegal di Kerumutan
HUT RI ke-81, Ditbinmas dan Bid Humas Polda Riau Bersama Jurnalis Satukan Semangat Merah Putih
Mobil Langsir BBM Terbakar di SPBU Lintas Timur, Polisi Didesak Usut Tuntas!
Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
Ini Pesan Kemerdekaan Syahrul Aidi Saat  Pimpin Upacara HUT RI di Hayfalah Boarding School
Empat Titik Pasar Murah di Pekanbaru Pekan Ini, Satu di Kampar
komentar
beritaTerbaru