Melalui Program Quick Wins Kapolri, Ditreskrimsus Polda Riau Gencarkan Edukasi Antikejahatan Digital
Melalui Program Quick Wins Kapolri, Ditreskrimsus Polda Riau Gencarkan Edukasi Antikejahatan Digital
Pemerintahan
Tema tersebut bersesuaian pada tantangan dunia jurnalistik dewasa ini dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence). Bahwasanya perlu untuk memanfaatkan teknologi yang bertanggung jawab sebagai penunjang pelaksanaan tugas pers.
Hadir sebagai narasumber Dr. Syahrul Aidi Maazat, LC, MA, Anggota Komisi I DPR RI yang didampingi Ir. Woro Indah Widyastuti, MT, pakar praktisi BAKTI Kementerian Komdigi yang juga anggota steering committe ASEAN NICT, Dr. Aza El Munadian serta 200-an insan pers dan jurnalis.
Baca Juga:
Dr. Syahrul Aidi Maazat dalam penyampaiannya mengatakan, kegiatan yang berhubungan erat dengan jurnalistik dan AI ini dipandang perlu bagi para peserta yang umumnya merupakan praktisi media. AI disebut sudah merupakan isu global yang menjadi perhatian negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.
Profesi jurnalis dan pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang saat ini tak bisa dipisahkan dari internet dan AI. Sehingga itu, melalui webinar ini, diharapkan menjadi sarana untuk mengupgrade pengetahuan.
Baca Juga:
Melalui webinar ini juga, Syahrul Aidi turut meminta masukan dan pendapat serta aspirasi para jurnalis terkait regulasi menyangkut AI, yang mana PKS di DPR RI ikut berperan menggodok UU tersebut.
"Agar kami bisa mempersiapkan UU dan regulasi AI yang akan diundangkan. Selamat mengikuti webinar, semoga dapat memahami inti yang disampaikan narasumber," ucap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) asal Riau ini.
Pada webinar yang dipandu moderator Indah Hudiria, narasumber Ir. Woro Indah Widyastuti di awal penyampaiannya menjelaskan tentang KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) yang dijalankan Kementerian Komdigi untuk memberikan pelayanan TIK di daerah 3T guna mengatasi kesenjangan digital serta pembangunan infrastruktur digital.
Terkait jurnalisme di era digital, Woro menuturkan bagaimana menemukan keseimbangan antara kebebasan pers, keamanan digital dan regulasi yang ada.
Di sini, Woro menyinggung fenomena citizen journalism, di mana terdapat permasalahan tentang akurasi dan verifikasi. Dari 280 juta pengguna internet di Indonesia, 90 persennya mengonsumsi berita melalui media sosial dan platform digital lainnya. Di sinilah munculnya citizen jurnalism, warga bisa menjadi pembuat dan penyebar berita.
"Di sini ada tantangan kecepatan versus akurasi. Verifikasi hal yang paling krusial yang menjadi tanggung jawab kita semua," ucap Woro.
Sebagai penjaga demokrasi yang dilindungi undang-undang, pers yang kritis menjadi pengawas kekuasaan. Pers juga memberikan pencerahan bagi publik dan menjadi kontrol sosial serta penyeimbang oebijakan.
"Namun begitu, bukan berarti pers bebas tanpa batas, tanggung jawab dan tanpa aturan," ujar Woro.
Ada tiga payung hukum yang menaungi pers Indonesia. Yakni UU Pers, UU ITE dan UU Perlindungan Data Pribadi. Selain itu, pers diwajibkan mengikuti kompas yang disebut dengan akode Etik Jurnalistik (KEJ).
Hal itu berbeda dengan citizen jurnalism. Woro mendorong citizen jurnalism juga harus terikat dengan regulasi dan UU.
Transformasi digital tak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Ada tanggung jawab terhadap publik. Citizen jurnalism dituntut harus cakap digital. Oleh karenanya, regulasi yang mengatur konten yang diciptakan citizen jurnalism sangat penting.
"Berita boleh cepat diedarkan, namun kebenaran dan akurasi tak boleh diabaikan," tukasnya.
Citizen Jljurnalism bebas melakukan kritik, di samping itu tentunya bisa menjaga leamanan digital tanpa terbelenggu.
Kepada legislatif, Woro berharap agar kehadiran citizen jurnalism ini dapat diperhatikan.
Narasumber selanjutnya, Dr. Aza El Kunadian, S.Si MM lebih menyoroti pada regulasi era digital. Menurutnya, penting untuk menata ulang dan harmonisasi regulasi yang ada.
"Jangan sampai regulasi justru menghambat penyampaian informasi kepada masyarakat," tutur dia.
Di sisi lain, senada dengan narasumber sebelumnya, citizen jurnalism harus memperhatikan kebenaran dan keakuratan. Kehadiran regulasi juga mesti adil.
Ungkapan "no viral no justice" yang juga menjadi fenomena di dunia maya, lanjut Aza harus tetap dalam koridor dan kerangka yang benar.
Dengan revisi regulasi, dipandang perlunya pembagian peran lembaga terkait penyiaran dan pers, seperti Dewan Pers, KPI dan Komdigi.
Usai pemaparan narasumber, moderator juga membuka diskusi dan tanya jawab serta mendengar masukan dari para peserta.
Melalui Program Quick Wins Kapolri, Ditreskrimsus Polda Riau Gencarkan Edukasi Antikejahatan Digital
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memastikan program bantuan seragam sekolah gratis bagi siswa baru yang telah d
Pemerintahan
AKP Noki Loviko Bikin Pengedar Narkoba KetarKetir, Empat Orang Diringkus
Hukrim
kabarmelayu.com,KAMPAR Usai menggelar kegiatan pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) periode 20262027 pada Kamis, 22 Okto
Pendidikan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus menggesa pengerjaan Simpang MTQ, Kota Pekanbaru. Mereka bukan cuma menyi
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, mengonfirmasi temuan jejak Harimau Sumatra (Pant
Lingkungan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus berupaya memastikan masyarakat mendapat Bahan Bakar Minyak (BBM) sesuai
Pemerintahan
kabarmelayu.com,INHIL Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), H. Tantawi Jauhari memimpin apel Senin pagi gabungan di
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU PSPS Pekanbaru masih bertengger di puncak klasemen sementara Grup A Pegadaian Championship 2026/2027. Tim Askar
Sport
kabarmelayu.com,KAMPAR UPT Sekolah Dasar Negeri (SDN) 024 Tarai Bangun Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, kembali menunjukkan prestasi ge
Pendidikan