Sabtu, 16 Mei 2026 WIB

Nasib Miris Tenaga Kerja RI, Sarjana Nganggur-Pekerja Banyak Cuma Lulus SD

Redaksi - Sabtu, 31 Mei 2025 21:11 WIB
Nasib Miris Tenaga Kerja RI, Sarjana Nganggur-Pekerja Banyak Cuma Lulus SD
Foto: Antusiasme pencari kerja memadati Job Fair di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Senin, (19/5/2025). Kegiatan ini digelar oleh Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Nakertransgi) DKI dari 19-25 Mei 2025. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
JAKARTA - Ternyata, lapangan pekerja Indonesia masih didominasi lulusan Sekolah Dasar (SD). Mirisnya lagi, lulusan sarjana justru menyumbang besar jumlah pengangguran di RI.

Laporan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pekerja Indonesia lulusan SD ke bawah mencapai 35,89% dari total pekerja nasional. Kebanyakan diserap di sektor pertanian, perdagangan, dan konstruksi, lapangan kerja yang tidak menuntut ijazah tinggi, tapi menuntut daya tahan fisik dan kerja keras.

Lulusan SMA menempati posisi kedua terbanyak (20,63%), disusul oleh SMP (17,81%) dan SMK (12,84%). Yang mengejutkan, lulusan sarjana dan diploma hanya mengisi 12,8% dari total pekerja aktif. Ini menandakan, semakin tinggi pendidikan, peluang terserap ke pasar kerja formal belum tentu lebih besar.

Baca Juga:

Lulusan Diploma dan Sarjana memang lebih banyak mengisi sektor formal seperti pendidikan, administrasi, keuangan, dan komunikasi. Namun mereka juga menghadapi persaingan ketat, mismatch keterampilan, hingga ekspektasi gaji tinggi. Tidak heran, angka pengangguran sarjana justru mengalami peningkatan TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) ke 6,23%, lebih tinggi dari tahun lalu.

Fenomena "aspirational mismatch" dan "reservation wage gap" menjadi salah satu penyebab tingginya angka pengangguran sarjana. Banyak lulusan perguruan tinggi enggan masuk ke sektor informal atau pekerjaan teknis karena merasa tak sepadan dengan gelarnya. Mereka menunggu pekerjaan "ideal", yang kerap tak kunjung datang.

Baca Juga:

Sementara itu, lulusan diploma justru lebih stabil. Dari 305 ribu penganggur pada 2020, turun menjadi 170 ribu pada 2024. Pendidikan vokasi yang aplikatif dan siap kerja menjadi nilai lebih, terutama di mata industri yang mencari tenaga produktif, bukan simbol akademik.

Ironisnya, universitas di Indonesia masih belum adaptif.

Koneksi kampus dengan dunia kerja lemah, kurikulum lamban bertransformasi, dan budaya kewirausahaan belum tumbuh kuat. McKinsey Global Institute mencatat, hanya 40% warga usia 25-34 tahun yang menamatkan pendidikan menengah atas, dan hanya ada 400 peneliti per 1 juta penduduk. Angka ini jauh dari standar negara maju.(sumber)

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Jadi Korban SK Bupati, Guru di Papua Selatan Kirim Surat Terbuka untuk Presiden
Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pada Kegiatan Penyerahan Hasil Kerja Satgas PKH
Pemko dan DPRD Pekanbaru Setujui Ranperda PSPD Menjadi Perda
Siap-siap! BMKG Prediksi Riau Memasuki Kemarau Akhir Mei Mendatang
Prof Dr. Elfizar Daftar Calon Rektor Unri 2026-2030, Kembalikan Marwah Kampus
Bocah di Siak Tewas Dianiaya Ibu Tiri
komentar
beritaTerbaru