Kamis, 30 April 2026 WIB

Tsunami COVID-19 Menerjang, Dokter India Kirim Pesan SOS pada Dunia

Harijal - Rabu, 28 April 2021 04:57 WIB
Tsunami COVID-19 Menerjang, Dokter India Kirim Pesan SOS pada Dunia
Seorang wanita di India yang keluarganya meninggal akibat COVID-19, Minggu (25/4/2021). Dok: AP Photo/Channi Anand

NEW DELHI - Dokter di India mengirimkan pesan SOS (Save Our Souls) kepada dunia. Tsunami COVID-19 yang menerjang India telah membuat sistem kesehatan mencapai titik nadir.

Fasilitas kesehatan yang kewalahan bukan di daerah atau pedalaman, melainkan di ibu kota Delhi. Dr. Gautam Singh mulai memohon dengan putus asa agar pasiennya bisa selamat.

"Tolong kirimkan oksigen pada kita," ungkap Dr. Singhs di Twitter, dilaporkan AP News, Selasa (27/4/2021).

Baca Juga:

"Pasien-pasien saya sekarat," ujarnya dengan emosional.

Selain kehabisan oksigen, ICU di India juga mulai penuh dan nyaris semua ventilator digunakan. Upacara kremasi jenazah sudah tak dilakukan lagi di krematorium, melainkan di lapangan terbuka.

Baca Juga:

Negara-negara barat tengah mengirim bantuan. Perusahaan-perusahaan China pun turut berusaha memenuhi pesanan oksigen ke India.

Pakar kesehatan Krishna Udayakumar dari Duke Global Health Innovation Center berkata kondisi India tidak mungkin bisa bertahan dalam beberapa hari ke depan apabila situasi tidak membaik.

"Situasi di India tragis dan kemungkinan akan semakin parah dalam beberapa minggu hingga bulan," ujar Udayakumar. Ia lantas meminta adanya aksi global untuk membantu India di momen krisis ini.

Akibat Retorika Politisi?

Festival umat Hindu di India untuk melakukan ritual mandi bersama yakni Kumbh Mela di Sungai Gangga. Festival ini dilakukan di tengah masa pandemi COVID-19. (Foto: AP)

Pada akhir Maret lalu, India sudah melonggarkan protokol COVID-19. Ada jutaan orang mengikuti festival Holi di seluruh penjuru negeri.

Aturan social distancing dan masker pun diabaikan. Tak hanya itu, politisi mulai menggelar kampanye akbar dengan puluhan ribu peserta. Protokol kesehatan juga diabaikan.

Jutaan orang juga ikut berkumpul di Sungai Ganga untuk berdoa. Acara-acara itu dicurigai mempercepat lonjakan kasus COVID-19 di India.

Krishna Udayakumar lantas mengecam tindakan para politikus.

"Banyak orang di seluruh India membayar dengan nyawa mereka atas kelakuan memalukan dari para pemimpin politik," ujarnya.

Pasien COVID-19 Meninggal di Jalanan

Anggota keluarga dan kerabat membawa jenazah korban yang meninggal karena virus corona COVID-19 di tempat kremasi di New Delhi, India, Senin (26/4/2021). Penambahan kasus COVID-19 harian di India terus mencetak rekor dunia berturut-turut. (Jewel SAMAD/AFP)

Sebelumnya dilaporkan, krisis COVID-19 di India semakin parah. Pasien-pasien meninggal di pinggir jalan karena rumah sakit penuh. Warga yang butuh oksigen juga harus menunggu berjam-jam di depan rumah sakit. 

Berdasarkan laporan Sky News, Senin (26/1/2021), keluarga pasien COVID-19 sampai harus memohon-mohon agar mendapatkan oksigen setelah berjam-jam menanti. Nyawa pasien itu tak selamat dan ia merengang nyawa di depan rumah sakit, terbaring di pinggiran. 

Peristiwa itu tidak terjadi di pedalaman, melainkan di ibu kota Delhi. Pasien terus datang ke rumah sakit yang sudah penuh. Pasien tidak datang dengan ambulans, melainkan naik bajaj, tanpa alat bantu medis. Walau pasien itu sudah sulit berjalan, ia tetap disuruh mencari rumah sakit lain karena tak ada tempat.

Seorang wanita muda berteriak-teriak frustrasi karena ibunya yang sekarat tidak mendapat tempat di rumah sakit. "Rumah sakit ini tidak berguna!" jeritnya. 

Tak sedikit keluarga pasien yang emosional dan menangis karena keluarganya tak tertolong di depan rumah sakit. Pasokan oksigen sulit didapatkan dan staf rumah sakit tidak bisa berbuat banyak.

Seorang pemuda berkata sempat mengantar ayahnya ke rumah sakit, tetapi tidak ada yang menolong hingga ayahnya mengembuskan napas terakhir. Setelahnya, ia mengantar kakeknya, dan lagi-lagi tidak ada yang mengurus di RS.

Jumlah kasus COVID-19 di India sudah tembus 17 juta kasus berdasarkan data Johns Hopkins University.

(sumber: liputan6.com)

SHARE:
beritaTerkait
Komisioner KI Kecam Kadisdik Riau, Abaikan Sengketa Informasi, Minta Diberi Sanksi Keras
Prosedur Pemindahan Warga Binaan, Kalapas Bagansiapiapi Kedepankan Asas Pembinaan
Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau, Hendry Munief Beri Catatan Penting
Bupati Inhil Bangun Pasar Induk Yos Sudarso yang Megah, Pedagang Pasar Subuh Pindah ke Lokasi Baru
Dua Petinju Pekanbaru Sabet Medali Emas Kejuaraan Danlanud Bangka Belitung ‎
RSUD Arifin Achmad Berhasil Tangani Kasus Menouria Langka, Pasien Kini Dapat Haid Normal
komentar
beritaTerbaru