Minggu, 28 Juni 2026 WIB

Dikira Penculik Anak, Insinyur Google Tewas Dihakimi Massa di India

Harijal - Senin, 16 Juli 2018 18:01 WIB
Dikira Penculik Anak, Insinyur Google Tewas Dihakimi Massa di India
Foto: Reuters

MUMBAI - Seorang pria tewas dan tiga lainnya dalam keadaan kritis setelah dipukuli oleh sedikitnya 200 orang yang salah mengidentifikasi para mereka sebagai penculik anak. Keempat pria tersebut merupakan korban terbaru dari penyebaran berita palsu yang marak di India.

Insinyur perangkat lunak Google, Mohamad Azam tewas, sementara tiga rekannya, termasuk seorang warga negara Qatar menjadi korban penganiayaan massa yang dipicu oleh pesan WhatsApp yang menyebut mereka sebagai “penculik anak”.

Insiden itu terjadi pada Jumat ketika Azam dan ketiga temannya, Mohammed Salman, Mohammed Salham-eid-al-Kubaisi and Noor Mohammed berhenti di sebuah toko dekat Balkut Tanda dalam perjalanannya ke Hyderabad. Melihat anak-anak lokal berlarian, mereka menawari mereka cokelat.

Baca Juga:

Namun, dengan beredarnya kabar mengenai adanya penculik anak di daerah itu, warga lokal mengira Azam dan kawan-kawannya sedang berusaha untuk memancing anak-anak tersebut. Untuk mencegah apa yang mereka kira sebagai upaya penculikan, massa kemudian menyerang para pria itu.

Meskipun keempatnya awalnya berhasil lolos dari kekerasan, pesan WhatsApp yang disebarkan dari dari serangan itu memicu tanggapan lanjutan yang lebih besar. Pria dari desa-desa sekitarnya langsung mengejar mobil empat orang itu dengan sepeda motor. Di tengah pengejaran, mobil tersebut keluar dari jalan dan masuk ke sebuah gorong-gorong di luar Desa Murki.

Baca Juga:

Massa yang kalap segera mengepung mobil itu dan menyeret keempat pria tersebut keluar dan memukuli mereka. Bahkan, polisi yang datang ke lokasi tidak dapat membujuk massa berjumlah lebih dari 200 orang untuk menjauh dari para korban. Tiga anggota pasukan keamanan terluka dalam upaya tersebut.

Azam meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam perjalanan ke rumah sakit dan ketiga temannya berjuang untuk tetap hidup di Rumah Sakit Hyderabad. Superintendent Polisi, D. Devaraja telah menangkap sedikitnya 32 orang terkait kekerasan ini, 28 di antara masih ditahan, termasuk admin grup WhatsApp yang menyebarkan pesan minta tolong. Keluarga Azam menuntut pihak yang bertanggungjawab mendapatkan hukuman yang setimpal.

“Dia adalah seorang insinyur perangkat lunak yang bekerja dengan Google. Dia tampak sangat cerdas dan terpoles dalam perilakunya. Bagaimana orang bisa mencurigainya menjadi penculik anak-anak? Jelas, itu tidak akan menjadi alasannya, ” kata saudara dari Azam, Mohammad Akram sebagaimana dilansir RT, Senin (16/7/2018).

"Orang yang bersalah harus dihukum sehingga tidak ada orang lain yang tidak bersalah kehilangan nyawanya dengan cara ini."

Dalam beberapa bulan terakhir, telah terjadi sejumlah insiden “penghakiman massa” yang dipicu oleh desas-desus media sosial mengenai penculikan anak yang beroperasi di bagian-bagian tertentu di India. Di tengah pecahnya kekerasan seperti itu, pemerintah mendesak platform media sosial untuk menekan penyebaran pesan-pesan tersebut.


(okezone.com)

SHARE:
beritaTerkait
Bupati Afni Zulkifli Pimpin Langsung Pawai Taaruf MTQ Ke 44 Propinsi Riau di Kuansing
Bandar dan Kurir Sabu di Siak Ditangkap, Senpi Rakitan Ikut Diamankan
Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Kawal Produktivitas Ketahanan Pangan hingga Masa Panen
Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau, Stand Bazar Inhil Jadi Primadona
Pekanbaru Target Juara Umum, 70 Kafilah MTQ Riau Ke-44 Dilepas ke Kuansing
TRC 112 Pekanbaru Ditargetkan Tujuh Menit Sampai di Lokasi
komentar
beritaTerbaru