19 Tahun PPWI, Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia
kabarmelayu.com,LAMPUNG Ketika arus informasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya dan setiap orang dapat menjadi penyampai berita m
TNI/Polri
DALAM beberapa tradisi, menstruasi dianggap sebagai hal yang tabu dan kotor. Nepal adalah salah satu negara yang punya tradisi untuk mengasingkan perempuan yang tengah datang bulan.
Tradisi ini dikenal dengan nama Chhaupadi. Dalam tradisi ini, perempuan yang tengah datang bulan atau menstruasi dilarang untuk menyentuh makanan, lambang atau simbol agama, hewan ternak, dan pria selama masa menstruasi. Tak cuma itu, mereka juga harus tidur jauh dari orang lain.
Mengutip AFP, praktik ini terkait dengan agama Hindu, di mana mereka beranggapan bahwa perempuan menjadi ‘tak tersentuh’ selama menstruasi dan setelah melahirkan.
Baca Juga:
Mereka dilarang juga untuk berinteraksi dengan komunitas mereka.
Mengutip berbagai sumber, perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan keluarga yang normal. Mereka dianggap sedang dalam masa ‘tidak murni’ dan juga membawa sial.
Baca Juga:
Oleh karena itu, mereka pun diasingkan ke sebuah kandang ternak, gubug darurat selama periode menstruasi.
Di Nepal, praktik pengucilan kuno ini sudah dilarang pada 2005. Namun masih diberlakukan di beberapa bagian Nepal, khususnya daerah barat yang terpencil dan konservatif.
Tahun lalu, Kathmandu memberlakukan hukuman penjara tiga bulan dan denda 3.000 rupee bagi siapa pun yang tertanggap melakukan chhaupadi.
Namun sebuah kasus yang melibatkan praktik ini di Nepal menelan korban lagi. Seorang ibu dan dua anaknya meninggal karena diduga menghirup asap setelah dikucilkan di gubuk tanpa jendela saat menstruasi.
Polisi mengungkapkan fakta tersebut pada Rabu (9/1). Korban yang bernama Amba Bohara (35) sedang tertidur di sebuah gubuk di distrik Bajura barat pada Selasa malam bersama dengan dua putranya yang berusia 12 dan 9 tahun.
Ketiganya berkumpul di depan api untuk membuat tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin.
Kepala polisi setempat Uddhab Singh Bhat mengatakan bahwa ibu mertua perempuan itu membuka pondok darurat pada hari berikutnya dan menemukan ketiganya sudah tewas.
"Kami menunggu hasil postmortem untuk mengonfirmasi penyebab kematian, tapi kami yakin mereka meninggal karena mati lemas," kata Bhat.
"Kami sedang menyelidiki."
Ini bukan kasus pertama yang terjadi. Tahun lalu, seorang perempuan 21 tahun juga tercekik karena asap saat dibuang ke gubuk darurat. Selain itu ada juga perempuan yang meninggal karena gigitan ular.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengatakan kalau polisi harus bertindak lebih lanjut untuk menegakkan hukum.
"Perempuan akan makin banyak yang meninggal kecuali ada konsekuensi untuk menegakkan tradisi ini," kata Mohna Ansari dari Komnas HAM.
(cnnindonesia.com)
kabarmelayu.com,LAMPUNG Ketika arus informasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya dan setiap orang dapat menjadi penyampai berita m
TNI/Polri
Menaker Ungkap Poin Penting UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Pekerja
TNI/Polri
kabarmelayu.com,PEKANBARU Kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 251,4 g/mda
Pemerintahan
Panglima TNI Hadiri Penyerahan Hasil Penertiban Kawasan Hutan Tahap Kedelapan
TNI/Polri
Kepala BNNK Pekanbaru Bekali 2.900 Mahasiswa Baru Unilak tentang Bahaya Narkoba
Sosial
kabarmelayu.com,INHIL Bupati Indragiri Hilir (Inhil) H. Herman, SE, MT menghadiri pengukuhan Dewan Pengurus Korpri Kabupaten Inhil untuk m
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dua pesawat gagal mendarat akibat rendahnya Jarak pandang rendah di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) Peka
Peristiwa
Sambut HUT ke27 Siak, BRK Syariah Gelar Safari Haji, Realisasi Porsi Haji Capai 614
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali melonjak, Rabu (7/10/2026). Dari angka 2500an, pagi ini
Lingkungan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Cabang Pekanbaru menggandeng Universitas Riau (UNRI) menggelar Seminar
Ekbis