Minggu, 28 Juni 2026 WIB

Disnakbun Rohul Belum Terima Data Baru, Wabah Virus Jembrana Serang Sapi

- Senin, 06 Februari 2017 17:07 WIB
Disnakbun Rohul Belum Terima Data Baru, Wabah Virus Jembrana Serang Sapi
Ilustrasi (net)

PASIRPANGARAIAN, kabarmelayu.com - Selain wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), virus jembrana yang menyerang sapi jenis Bali di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) juga ikut mewabah. Sudah ratusan ekor sapi Bali mati mendadak.

Virus yang berasal dari asal sapi Bali, Jembrana ini sudah terjadi di Rohul sejak November 2016 lalu. Dan pada Desember 2016 dan Januari 2017, virus jembrana semakin mengganas dan menewaskan sekira 300 sapi tersebar di 14 kecamatan.

"Sementara masih 300 sapi mati akibat (virus) jembrana ini. Kita masih menunggu laporan dari lapangan (Petugas Teknis Peternakan)," ujar Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rohul, Ade Hapari, SPt, Senin (6/2/17).

Baca Juga:

Ade mengakui pada Februari 2017 ini, virus jembrana cenderung menurun. Namun demikian, Disnakbun Rohul tetap memantau rutin perkembangan sapi jenis Bali milik peternak yang ada di 14 kecamatan, sedangkan Kecamatan Rambah dan Bonai Darussalam masih aman dari virus jembrana.

"Dinas akan mengadakan vaksin dibantu Pemerintah Provinsi (Riau) dan akan dicarikan di pusat. Yang terinpeksi sudah dikasih antibiotik, dan sekarang jumlah yang terinpeksi sudah menurun," jelasnya.

Baca Juga:

Ade Hapari menerangkan vaksin diberikan kepada sapi Bali yang belum terinpeksi, sedangkan untuk sapi yang sudah terinpeksi diberi obat dan antibiotik.

"Sementara untuk obat-obatan belum ada dari Pemkab, masih swadaya (peternak)," ungkapnya.

Berdasarkan data Disnakbun, ada sekira 2.321 sapi yang terinpeksi virus jembrana di Rohul dan sudah dinyatakan sembuh atau diobati. Sapi Bali yang sudah diberi vaksin sendiri ada sekira 2.633 ekor.

Sedangkan untuk sapi yang mati ada 300 ekor, sapi yang mati dan dipotong paksa 322 ekor, dan sapi yang tidak sakit dijual oleh peternak 1.103 ekor.

Disnakbun Rohul Keluarkan Surat Edaran

Mewabahnya virus jembrana cepat ditanggapi oleh Plt Bupati Rohul H. Sukiman dengan meminta Kepala Disnakbun Rohul Ir. H. Sri Hardono, MM melakukan penanganan.

Sebagai salah satu penanganan dan pencegahan, diakui Ade Hapari, Kepala Disnakbun Rohul Sri Hardono sudah mengeluarkan surat edaran yang berisi tiga poin.

Surat edaran dikeluarkan Kadisnakbun Rohul sudah dikirimkan ke pemerintah desa, pemerintah kecamatan, termasuk ke para belantik atau agen sapi.

Bagi siapa pun tidak boleh membawa atau mengeluarkan sapi di daerah Rohul. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi, pertama ada surat jual beli sapi, kedua harus ada surat jalan dari desa, dan ketiga harus ada surat keterangan bahwa sapi sehat yang dikeluarkan dokter hewan setempat.

Disnakbun sendiri wacanakan Rohul masuk KLB, namun hal itu belum dilakukan karena masih dikonsep, dan menunggu intruksi kepala daerah.

Meski sudah KLB, diakui Ade, namun Pemkab atau Pemprov Riau tidak bisa anggarkan dana darura untuk pembelian vaksin atau obat-obatan, karena virus jembrana tidak menular kepada manusia.

Perlu diketahui, virus jembrana hanya menyerang sapi Bali. Cirinya, sapi yang terserang virus ini akan keluar keringat darah, dan biasanya ditularkan oleh lalat, caplak, dan nyamuk.

Virus jembrana sendiri menyerang tiga bagian sapi jenis Bali hingga hancur, seperti bagian hati, ginjal, dan limpa sapi.

Ade Hapari mengakui sekira 85 persen virus jembrana disebabkan lalulintas ternak dari luar daerah ke Rohul. Demikian juga dari kecamatan satu ke kecamatan lain. Kabupaten Rohul yang awalnya sebagai "virgin area" juga terpapar virus jembrana.

"Namun, setelah wabah ini, biasanya sapi akan kebal dari virus," jelas Ade Hapari.

Ade menambahkan, adanya wabah virus jembrana ini dimanfaatkan sejumlah oknum belantik atau agen sapi.

Oknum belantik (agen sapi) mengambil keuntungan adanya isu virus jembrana ini. Seperti ketika ada sapi mati, maka oknum tersebut menakut-nakuti pemilik sapi yang ada disekitarnya dengan membeli sapi dengan harga murah.

Seperti terjadi di Kecamatan Tambusai Utara, banyak sapi jenis Bali yang sakit dan sudah dijual. Demikian juga sapi yang sehat dijual oleh peternak karena takut tertular.

 

sumber: riauterkini.com

SHARE:
beritaTerkait
Siswa SMAN 8 Pekanbaru Bawa Pulang Emas dan Perunggu Olimpiade Nasional POSI IPB
Korban Tewas Akibat Gempa Venezuela Sudah Hampir 1.000 Orang
Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Optimalkan Pengelolaan Budidaya Jagung Bersama Kelompok Tani Jambai Makmur
Kemenhan Akui 5 Calon Manajer Kopdes dan KNMP Meninggal Saat Latsarmil
Siap Berlaga, Utusan Bengkalis pada MTQ ke-44 Riau di Kuansing Tuntas Registrasi Ulang
Bupati Inhil Hadiri Malam Ta’aruf dan Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke -44 Tingkat Provinsi Riau 2026
komentar
beritaTerbaru