Kamis, 08 Oktober 2026 WIB

Peringatan untuk Kelompok Rentan, Asap Karhutla Berisiko Hingga Mengancam Jiwa

Redaksi - Kamis, 08 Oktober 2026 13:59 WIB
Peringatan untuk Kelompok Rentan, Asap Karhutla Berisiko Hingga  Mengancam Jiwa
Ilustrasi.(Foto: AI Gemini)
kabarmelayu.com,PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti armosfer Riau, akan menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia dan orang yang telah memiliki penyakit paru dan saluran nafas seperti asma, TB, PPOK, kanker paru, sinusitis, rhinitis.

Peningkatan Kasus ISPA dan bronkitis, baik rawat jalan dan rawat inap meningkat signifikan pada bulan Agustus dan September ini dibandingkan bulan Mei-Juni dan Juli.

Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Provinsi Riau, Dr. dr. Indra Yovi Sp. P (K) mengatakan, dampaknya akan semakin lebih terasa dan semakin berat seiring dengan semakin tingginya kosentrasi PM 2,5.

Baca Juga:

"Paparan asap yang terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada orang-orang yang menderita asma, bronkiektasis dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).

"Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi baru dan penurunan fungsi paru," papar dr Indra Yovi, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga:

Selain itu, pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas.

Karena itu, Pemprov, Pemkab dan Pemko se-Riau sebaiknya sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan rumah oksigen/tenda oksigen yang diperuntukkan untuk masyarakat membutuhkan bantuan oksigen.

Edukasi pentingnya pemakaian masker harus lebih ditingkatkan. Pemerintah tidak boleh ragu membuat keputusan yang bijak terutama dalam melarang kegiatan outdoor pada kondisi seperti sekarang.

Dengan kondisi kabut asap seperti saat ini, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker. Yang paling direkomendasikan adalah masker N95, karena dapat menyaring polutan asap kebakaran hutan yang ukurannya PM 2,5.

"Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup, karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal," katanya.

Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah juga agar selalu dievaluasi. Pemerintah diminta untuk tidak ragu memperpanjang PJJ seandainya kondisi udara masih pada level berbahaya untuk kesehatan.

Penggunaan air purifier juga direkomendasikan untuk membersihkan asap yang masuk ke ruangan, sehingga tidak terjadi indoor pollution.

"Aktifitas olahraga diluar rumah seperti bersepeda ataupun jogging dengan kondisi sekarang ini sebaiknya ditunda," kata dr. Indra Yovi sembari mengingatkan untuk minum air putih yang cukup

Kelompok rentan terutama lansia dan orang yang punya masalah dengan paru, agar menghindari aktivitas di luar rumah.

Editor
: Andi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Sekolah Swasta Wajib Patuhi PJJ
Sempat Tertahan di Langit Riau Akibat Kabut Asap, Tiga Pesawat Akhirnya Mendarat di Bandara SSK II Pagi Ini
Jumlah Hotspot Riau Naik Jadi 19 Titik, Sumatera 4.845, Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat
Kecamatan Tenayan Raya dan Lintas Sektor Bagikan Ribuan Masker
Jarak Pandang 800 Meter, Dua Pesawat Gagal Mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru
Pasca Karhutla, BPBD PK Riau dan Pekanbaru Sisir Lahan Bekas Terbakar
komentar
beritaTerbaru