Polsek Kampar Kiri Ungkap Dugaan Peredaran Sabu di Gunung Sahilan, 0,55 Gram Diamankan
Polsek Kampar Kiri Ungkap Dugaan Peredaran Sabu di Gunung Sahilan, 0,55 Gram Diamankan
Hukrim
JAKARTA - Penggunaan high heels atau sepatu hak tinggi kini tengah menjadi kontroversi di Jepang. Sejak bertahun-tahun lalu, perusahaan di Jepang mengharuskan perempuan yang bekerja mesti menggunakan sepatu hak tinggi.
Namun, beberapa waktu lalu, lebih dari 19 ribu orang di Jepang menandatangani petisi untuk menghapus larangan yang mengharuskan perempuan memakai high heels.
Petisi ini diinisiasi oleh seorang artis, penulis dan aktivis feminis Jepang, Yumi Ishikawa.
Baca Juga:
"Saya berharap untuk menghilangkan kebiasaan bahwa perempuan harus memakai sepatu hak di tempat kerja," tulis Ishikawa, dikutip dari CNN.
Tak dimungkiri, menggunakan sepatu hak tinggi dalam jangka waktu yang lama secara terus menerus dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh.
Baca Juga:
Temuan dari Society of Chiropodists and Podiatrists menyatakan 25 persen perempuan yang memakai sepatu hak tinggi setiap hari meningkatkan risiko artritis. Kondisi ini menyebabkan persendian kaku dan nyeri.
Studi juga mengungkapkan bahwa memakai sepatu hak tinggi menyebabkan masalah kaki jangka panjang seperti lecet, kalus, nyeri lutut dan punggung, serta sendi yang rusak.
Kondisi itu dapat terjadi karena saat memakai sepatu hak tinggi, seluruh berat badan akan tertumpu pada satu titik di kaki.
"Ini menyebabkan masalah mulai dari jempol kaki hingga tulang belakang," kata ahli osteopati Tim Allerdyce kepada Metro.
Menurut Allerdyce, area pertama yang bermasalah biasa pada bagian jempol luar kaki yang terasa menyakitkan dan muncul benjolan. Lama kelamaan jempol dapat menjadi kaku.
Selain itu, masalah juga akan menjalar pada bagian otot betis yang kencang. Ini terjadi karena tumit berada pada posisi yang terangkat sehingga otot-otot betis menjadi lebih pendek.
Memakai sepatu hak tinggi terus menerus juga memberikan tekanan pada tulang kering sehingga dapat menyebabkan masalah seperti timbul rasa nyeri.
Kapalan dan bercak kulit yang keras juga merupakan efek samping dari memakai high heels.
Untuk mengurangi bahaya yang mengintai dari memakai sepatu hak ini, Allerdyce menyarankan untuk memberikan kaki waktu beristirahat.
"Batasi jumlah waktu saat memakai sepatu hak tinggi, terutama selama perjalanan dan jika Anda perlu memakainya untuk bekerja," ucap Allerdyce.
Jika berjalan kaki dalam waktu yang lama dan jarak yang jauh gunakanlah sepatu flat agar kaki, lutut, dan pinggul tidak pegal.
Jika kaki mulai merasakan sakit, lakukanlah peregangan sesegera mungkin. Memijat telapak kaki dan juga mandi air panas juga dapat melancarkan peredaran darah dan mengurangi rasa sakit.
(cnnindonesia.com)
Polsek Kampar Kiri Ungkap Dugaan Peredaran Sabu di Gunung Sahilan, 0,55 Gram Diamankan
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah kondisi kabut asap ditunjukkan Komunitas Sosial Alat Berat Pe
Sosial
Jaga selalu marwah Bumi Melayu Seri Gemilangkabarmelayu.com,INHIL Menjelang keikutsertaannya dalam ajang Duta Budaya Indonesia 2026, Mau
Budaya
kabarmelayu.com,PEKANBARU Hotspot atau titik panas di pulau Sumatera masih berada di angka ribuan. Sore ini. Kamis (8/10/2026) terpantau 2
Lingkungan
kabarmelayu.com,INHIL Persoalan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kembali menjadi perhatian. Bukan hanya soal bantuan Corpora
Sosial
kabarmelayu.com,PEKANBARU Kabut asap yang menyelimuti armosfer Riau, akan menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan s
Kesehatan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengingatkan seluruh sekolah swasta di bawah kewenangan Dinas Pendidikan (Disd
Pendidikan
Kelompok 7 PBL Mahasiswa UHTP Gelar Pengabdian Masyarakat di RW 7 Kelurahan Simpang Baru
Pendidikan
kabarmelayu.com,INHIL Bupati inhil H.Herman, SE.MT hadiri Panen Padi Perdana Semaram kelompok Tani sekayan Subur di Desa Sekayan Dusun sem
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru menyerahkan bantuan untuk tujuh kepala keluarga (KK) yang kehilangan tempat ti
Pemerintahan