Minggu, 30 Agustus 2026 WIB

‘Rapor Merah’ Pertamina: Produksi Loyo, Laba Masih Teka-Teki

Harijal - Senin, 13 Mei 2019 12:12 WIB
‘Rapor Merah’ Pertamina: Produksi Loyo, Laba Masih Teka-Teki
(dok. SKK Migas)
Foto: Profile 100 KKS Utama Produksi Minyak dan Kondensat

JAKARTA - Kinerja PT Pertamina (Persero) tengah menjadi sorotan di kuartal I-2019. Terutama, setelah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) merilis angka produksi di tiga bulan pertama. 

SKK Migas bahkan mencatat kinerja ini masih menurun hingga 30 April 2019. Dari lima unit hulu Pertamina, hanya PT Pertamina Hulu Kaltim saja yang mampu mencapai realisasi lifting di atas target harian APBN, sedangkan sisanya memiliki rapor merah.

Berdasarkan data SKK Migas, untuk lifting minyak, dari PT Pertamina EP (PEP) hanya terealisasi 93% atau sebesar 79.340 BOPD dari target harian APBN yang sebesar 85.000 BOPD. SKK Migas mencatat, decline rate ini lebih tinggi dari prognosis awal, ditambah hasil beberapa kegiatan yang belum mencapai ekspektasi. Untuk produksi minyaknya, sampai dengan 30 April 2019 sebesar 82.201 BOPD.

Baca Juga:

Selanjutnya kinerja lifting minyak Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Sampai dengan akhir April 2019 lifting minyaknya sebesar 42.717 BOPD atau 85% dari target APBN yang sebesar 50.400 BOPD. Berdasarkan catatan SKK Migas, terjadi decline rate yang lebih tinggi di akhir 2018, serta belum berproduksinya beberapa sumur yang sudah selesai dibor. Untuk produksi minyak dan kondensat di PHM, tercatat sebesar 37.519 BOPD.

Kinerja di blok Mahakam ini memang jadi catatan tersendiri. Untuk kinerja lifting gas PHM sampai 30 April 2019, realisasinya baru 61% dari target APBN yang sebesar 1.100 MMSCFD, atau baru sebesar 667 MMSCFD. Sedangkan realisasi produksi gas PHM di Blok Mahakam hingga akhir April 2019 tercatat sebesar 725 MMSCFD. Decline rate yang lebih tinggi di akhir 2018, serta belum berproduksinya beberapa sumur yang sudah dibor dinilai menjadi penyebab belum tercapainya target.

Baca Juga:

Kepala SKK Migas menyinggung BUMN Migas ini atas kinerjanya yang loyo saat berkunjung ke CNBC Indonesia. 

"Kecepatan Pertamina dalam investasi dan keberanian, Pertamina kan BUMN kalau dia mengebor lalu tidak berhasil mereka takut dicatat kerugian negara," ujar Dwi, Jumat (10/5/2019).

Jika dilihat dari data rasio kesuksesan Pertamina lebih tinggi dibanding perusahaan migas lain. Tapi itu sebenarnya bukan hal yang harus dibanggakan. "Karena itu ngebornya di lokasi yang sudah pasti-pasti, tidak ada risiko," jelas Dwi. 

Dwi menyadari keraguan dalam investasi ini, apalagi belakangan marak kasus pejabat-pejabat BUMN dipanggil aparat hukum karena kebijakan korporasi. 

(cnbcindonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Babinsa Koramil 06/Siak Hulu Hadiri Malam Puncak Peringatan HUT RI ke-81 Desa Tanah Merah
Pemkab Bengkalis Usul Pembangunan RSUD Bukit Batu dan Pengembangan Layanan Jantung-Kanker ke Kemenkes
Pria di Pekanbaru Diancam dan Diperas, 5 Pelaku Ditangkap
Tim Alpha Lakukan Fastrope ke Titik Api di Riau, Buka Jalan Tim Free Fall
PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta, Komitmen Bersama Kawal Industri Sawit Nasional
Ratusan Anggota Koperasi Produsen Tani Aman Makmur Didampingi Pengacara dan LSM Penjara Rohul Tuntut PT. SRL Tinggalkan Lahan 2.050 Hektare
komentar
beritaTerbaru