Minggu, 03 Mei 2026 WIB

Ali Jaber Sebut Penusuk Terlatih, Tak Percaya Pelaku Gila

Harijal - Senin, 14 September 2020 17:44 WIB
Ali Jaber Sebut Penusuk Terlatih, Tak Percaya Pelaku Gila
(Akhmad Mustaqim/ detikcom)
Pendakwah Syekh Ali Jaber.

LAMPUNG - Pendakwah Syekh Ali Jaber merespons kabar dan rumor yang menyebut pelaku penusukan dirinya di Bandar Lampung, Lampung memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Ali Jaber mengatakan, dari cara menyerangnya sang pelaku sangat terlatih.

"Saya tidak percaya kalau pelaku gila. Cara dia (pelaku) memburu targetnya yakni saya menuju ke bagian yang paling vital (nyawa). Menurut saya, pelaku ini bukan gangguan jiwa karena dia sangat berani dan terlatih saat menusuk saya," kata Ali Jaber kepada wartawan di Bandar Lampung, Senin (14/9).

Syekh Ali Jaber menyakini tindakan pelaku menyerang dirinya sepertinya memang sudah terorganisasi. Hal itu dirasakan dirinya saat pelaku menyerang dengan menghujamkan pisau ke arah dirinya.

Baca Juga:

"Kalau saya tidak gerak refleks cepat, saya sangat yakin pisau yang dihujamkan pelaku pasti tepat mengenai leher saya," kata dia.

Dalam kesempatan itu Ali Jaber meminta pihak kepolisian agar dapat tenang untuk segera bisa mengungkap kasus penyerangan terhadap dirinya. Tidak hanya pelaku yang menusuk dirinya, tapi juga siapa orang yang ikut berperan di balik pelaku penusukan tersebut.

Baca Juga:

Selain itu juga, ia meminta kepada pihak kepolisian janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan kalau pelaku gangguan kejiwaan.

"Saya punya kepercayaan besar sama kepolisian, jangan disalahgunakan. Jadi selesaikan dengan fokus kasusnya, selidiki dan jangan terburu-buru, saya akan sabar menunggu proses keadilan yang menimpa saya ini," kata dia.

Hal serupa juga sebelumnya disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD. Dia mengaku tak percaya begitu saja bahwa pelaku penusukan merupakan orang dengan gangguan jiwa.

"Spekulasi di masyarakat ada dugaan berdasarkan pengakuan keluarganya, si penusuk ini sakit jiwa. Tapi kita belum percaya. Kita akan tahu dia sakit jiwa betul atau tidak setelah diselidiki," kata dia dikutip dari instagram resminya, Senin (14/9).

Menurut Mahfud, untuk menyimpulkan bahwa pelaku penyerangan itu merupakan orang dengan gangguan jiwa, bisa juga dibuktikan dengan mengambil keterangan dari teman, tetangga hingga memeriksa jejak digital pelaku.

"Ada jejak digitalnya. Kalau orang sakit jiwa jejak digitalnya kayak apa, keluarganya melihatnya kayak apa, tetangganya melihat kayak apa, teman-temannya melihatnya kayak apa. Baru kita dapat menyimpulkan dia sakit jiwa," ucap dia.

(CNNIndonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin
Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar
Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu
Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025
Kelompok Tani SKB Pangean Merasa Dibohongi PT. RAPP, Tuntut Penyelesaian Lahan
Komisioner KI Kecam Kadisdik Riau, Abaikan Sengketa Informasi, Minta Diberi Sanksi Keras
komentar
beritaTerbaru