Selasa, 03 Maret 2026 WIB

Tersangkut di Pohon, Bayi Tiga Bulan Selamat Saat Banjir Bandang Sumbar

Redaksi - Rabu, 03 Desember 2025 20:08 WIB
Tersangkut di Pohon, Bayi Tiga Bulan Selamat Saat Banjir Bandang Sumbar
Fathan digendong salah seorang warga. Dia selamat dari bencana galodo yang menyebabkan seluruh keluarganya meninggal.(Foto: Instagram)
kabarmelayu.comSUMBAR - Seornag bayi berusia 3 bulan, Fathan, ditemukan selamat saat peristiwa banjir bandang yang melanda Desa Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada Kamis (27/11/2025) lalu. Fathan merupakan satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari amukan alam itu.

Keluarga Fathan tinggal di tepi Sungai Selaras, satu dari lima hingga enam rumah yang berjejer di pinggiran sungai, jembatan penghubung desa. Saat air bah datang, rumah mereka habis tersapu.

Bayi itu sebelumnya tinggal bersama ibu, ayah, nenek, om, tante, dan kakaknya, total tujuh orang. Kini ia tinggal sebatang kara setelah seluruh keluarganya meninggal disapu galodo (demikian warga setempat menyebut bencana banjir bandang dan longsor).

Baca Juga:

Wali Nagari (Kepala Desa) Salareh Aia Timur, Ahmad Fauzi menuturkan, Fathan ditemukan saat evakuasi, tepatnya malam setelah banjir bandang.

Fathan ditemukan ditengah kegelapan pencarian korban galodo, ia tersangkut di sebuah pohon. ,Bayi Titipan Tuhan', sebutan itu melekat kepada Fathan setelah keajaiban malam itu.

Baca Juga:

Diketahui, ayah Fathan sebelumnya sempat dilarikan ke RSUD Lubuk Basung, namun sehari setelah peristiwa itu nyawanya tak tertolong. Nasib serupa dialami paman Fathan yang juga sempat dibawa ke rumah sakit bersama Fathan. Namun, sang paman pun tak tertolong.

Wali Nagari Fauzi mengisahkan, kehidupan warga di tepi sungai Salareh ini telah berlangsung turun temurun sejak masa nenek moyang mereka. Kejadian galodo diakui Fauzi tak pernah sedahsyat ini.

Galodo kali ini harus dibayar mahal oleh warga yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Saat ini, Fathan berada dalam perawatan, dia menjadi tumpuan kasih sayang bagi warga yang selamat. Komunitas Desa Selaras Aia Timur kini mengemban tugas memastikan Fathan mendapatkan kehidupan yang layak, menggantikan keluarga yang telah direnggut oleh air bah.

Saat ini masih banyak warga yang belum ditemukan. Proses evakuasi terhambat karena keterbatasan. Alat berat yang ada saat ini belum cukup untuk melakukan pencarian dan penggalian maksimal di area bencana yang luas dan sulit dijangkau.

Bantuan untuk saat ini sangat krusial untuk menggerakkan kembali roda kehidupan pasca-bencana.

Peristiwa galodo di Selaras Aia Timur memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai pentingnya mitigasi bencana dan pemahaman risiko geografis. Kisah Fathan dan kehancuran desanya menjadi refleksi bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana alam.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Sepanjang 900 Kilometer Drainase di Pekanbaru Dinormalisasi Tahun Ini
Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Naik Tipis Malam Ini, di Hilir Terjadi Kenaikan Permukaan Air Sungai Kampar
Tembilahan Dilanda Banjir Rob
Hujan Seharian, Wako Agung Nugroho Tinjau Lokasi Rawan Banjir di Pekanbaru
Atasi Banjir, 10 Danau Unri di Binawidya Dijadikan Embung
Catatan Akhir Tahun 2025 Jikalahari: Menata Ulang Tata Ruang, Cabut Izin Korporasi di DAS
komentar
beritaTerbaru