Senin, 05 Oktober 2026 WIB

Timbang-timbang Gibran-Achmad Purnomo dan Galau PDIP di Solo

Harijal - Kamis, 12 Maret 2020 00:04 WIB
Timbang-timbang Gibran-Achmad Purnomo dan Galau PDIP di Solo
(CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Salah satu bakal calon wali kota Solo dari PDIP, Gibran Rakabuming Raka.

JAKARTA - DPP PDIP hingga saat ini belum mengumumkan nama yang akan diusung sebagai calon wali kota Solo dalam Pilkada 2020. Meski mengklaim telah mengantongi satu nama, namun Ketua Umum Megawati yang bakal mengumumkan sendiri.

Di Solo tersisa dua calon yang bakal diusung PDIP: Gibran Rakabuming dan Achmad Purnomo. Pedabatan memanas usai PDIP Solo menyatakan lebih memilih Achmad Purnomo ketimbang Gibran.

Purnomo dipasangkan bersama Teguh Prakosa oleh DPC PDIP Solo. Sementara Gibran yang merupakan putra Presiden Joko Widodo maju mendaftarkan diri melalui DPD PDIP Jawa Tengah.

Baca Juga:

Pengamat politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto menilai alotnya nama yang muncul lantaran belum ada titik temu antara akar rumput Solo dengan DPP PDIP. Menurutnya, banyak yang harus dipertimbangkan jika DPP PDIP  ingin mengusung Gibran.

"Ini tarik ulur posisi tawar. Putusan Gibran maju atau tidak, bergantung pada apa yang bisa ditawarkan DPP kepada DPC PDIP. Misal Gibran akan maju dengan syarat, atau Purnomo maju dengan syarat," ujar Arif saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).

Baca Juga:

Arif menuturkan, apabila DPP berkukuh mengajukan Gibran sebagai cawalkot Solo, risiko terjadi friksi dengan DPC PDIP akan lebih besar. Menurutnya, dominasi elite PDIP Solo sangat kuat. Kebanyakan preferensi pemilih di wilayah tersebut juga sangat dipengaruhi kerja mesin politik DPC PDIP Solo.

"Kalau di Solo yang bisa menggerakkan pemilih itu ya DPC karena mereka punya akar. Sesuatu yang tidak dimiliki Gibran. Dia pendatang baru," katanya.

Embel-embel Gibran sebagai anak Jokowi disebut Arif akan mendongkrak elektabilitasnya sebagai cawalkot Solo. Namun, menurut dia, hal itu tak akan berdampak signifikan jika mesin politik di DPC PDIP mogok karena ogah mendukung Gibran.

"DPC di Solo ini bukan tipe elite yang tidak bekerja dan mereka juga punya pendukung di bawah. Mereka lebih punya loyalitas pada DPC ketimbang DPP," ucap Arif.

Meski demikian, Arif memprediksi DPP PDIP cenderung akan mengusung calon selain Gibran alih-alih memaksakan mengajukan putra sulung Jokowi itu.

"Dugaan saya Solo masih terlalu besar untuk dikorbankan. Saya cenderung pada akhirnya ketemu (kesepakatan) dan itu lebih baik daripada memaksa mengajukan Gibran," katanya.

Pendapat berbeda disampaikan pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio. Dia meyakini Gibran bakal melenggang mulus menerima tanda tangan Megawati. 

"Gibran ini dari berbagai angle ya potensial, sangat memungkinkan. Nampaknya hampir pasti Gibran kemungkinan besar dapat rekomendasi dan kemungkinan besar menang," katanya.

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI ini tak terlalu mempermasalahkan polemik yang terjadi di tingkat DPC PDIP Solo saat ini. Menurutnya, Mega telah memiliki pertimbangan sendiri sebelum memutus untuk mengajukan Gibran atau siapa pun dalam bursa pemilihan cawalkot.

Di sisi lain, pertimbangan memilih Gibran juga diyakini Hendri akan memberi keuntungan besar bagi PDIP. Selain regenerasi, Gibran juga dinilai dapat meraup popularitas dan elektabilitas tinggi.

"PDIP juga akan dapat suara anak muda, baik di Solo maupun nasional. Jadi ini memang momentumnya dia, kalau enggak sekarang hilang momentum dia," ucapnya.

(CNNIndonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
PSPS Curi Tiga Poin dari Semen Padang FC
Ditreskrimsus Polda Riau Selidiki Dugaan Penimbunan 69,2 Ton Pupuk Diduga Bermasalah Temuan Personil Deninteldam XIX/Tuanku Tambusai
Resmi Jadi Kapolda Riau, Irjen Arman Achdiat Bawa Misi Polisi Berempati dan Peduli
Dilantik Jadi Kabaharkam Polri, Komjen Herry Heryawan Bicara Amanah dan Pengabdian
Kemkomdigi Minta Operator Seluler Optimalkan Perlindungan Sisa Kuota
Kelangkaan Solar Subsidi di Riau Berkepanjangan, LAMR Dorong Dibentuknya Tim Terpadu
komentar
beritaTerbaru