Kelompok Tani SKB Pangean Merasa Dibohongi PT. RAPP, Tuntut Penyelesaian Lahan
kabarmelayu.comKUANSING Puluhan tahun menunggu kepastian, kesabaran Kelompok Tani Kelompok Tani SKB akhirnya memuncak Rabu (29/4/2026). Me
Sosial
JAKARTA - Debat Cawapres yang mempertemukan Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno berjalan adem ayem. Debat ketiga pilpres 2019 itu baru menyentak publik saat kedua kandidat mengutarakan pernyataan penutup.
Ma’ruf dan Sandi yang sepanjang debat tampil tenang, tiba-tiba saling melontarkan sindiran. Sandi memulai ’perang sindiran’ dengan aksi pamer kartu tanda penduduk (KTP).
Di ujung pernyataan penutup, Sandi berjanji menghadirkan pendidikan yang baik, lapangan kerja yang luas, dan jaminan kesehatan yang merata.
Baca Juga:
Sandi langsung memberi komando kepada pendukungnya untuk mengeluarkan KTP. Ia menegaskan tak butuh banyak kartu, cukup KTP, untuk menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat.
"Mari kita ambil dompet masing-masing, keluarkan kartu yang sudah dimiliki yaitu kartu tanda penduduk. Ini super canggih, sudah memiliki chip," ujar Sandi sembari mengacungkan KTP.
Baca Juga:
Para pendukung 02 pun mengacungkan KTP masing-masing sambil berdiri.
"Dengan big data semua fasilitas layanan baik tenaga kerja, kesehatan, semua hanya membutuhkan KTP ini yang menjadi kartu kami," lanjut dia.
Aksi tak kalah heboh juga datang dari Ma’ruf. Dalam kalimat penutup ia bersumpah memerangi hoaks.
Ma'ruf sempat menyinggung beberapa hoaks yang menyudutkan Jokowi, seperti legalisasi zina dan pelarangan azan.
"Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan lawan upaya-upaya yang akan melakukan itu semua," ucapnya.
Pengamat komunikasi politik Silvanus Alvin menilai dua gimmick itu menunjukkan pesan terselubung yang menjadi sorotan masing-masing kandidat.
"Itu pesan terselubung untuk menyampaikan ke publik kalau bagi kubu 01, mereka kerap diserang hoaks. Sementara, sebaliknya pesan terselubung Sandi mengkritik kartu-kartu petahana," kata Alvin kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/3).
Alvin menilai dua aksi itu menunjukkan kandidat bermain aman dan telat panas. Mereka menyimpan keseruan di detik akhir.
Padahal pernyataan penutup Ma’ruf dan Sandi sebenarnya inti dari pertarungan wacana antara 01 dan 02 selama ini.
"Esensi keseruan debat sebenarnya malah muncul di poin penutup itu dengan gimmick politik tersebut. Ada serangan politik dari kedua pihak," tuturnya.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago debat yang datar terjadi karena kedua kandidat bermain aman.
Baik Ma’ruf dan Sandi tak ada yang secara langsung melakukan serangan seperti Jokowi vs Prabowo. Keduanya lebih memilih menggunakan sindiran-sindiran halus.
"Mereka tidak ada yang menyerang karena mereka berlomba soal kesantunan," ucap Pangi kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/3).
Drama Kiai vs Santri
Alvin menilai Debat Cawapres lebih adem ketimbang dua debat sebelumnya karena ada gimmick kiai yang diperankan Ma'ruf dan santri yang diperankan Sandi.
Keduanya memainkan bahasa tubuh saling menghormati layaknya guru dan murid saat proses belajar-mengajar.
"Ketika Ma’ruf bicara, tampak sandi memperhatikan seksama dan mencatat. Berbeda ketika Sandi bicara, Ma’ruf hanya mendengar ibarat guru yang mendengar murid presentasi di depan kelas," Alvin menjelaskan.
Sandi dinilai menang dari segi gimmick politik dalam debat kali ini. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu dianggap berhasil tampil dengan pembawaan yang sangat tenang. Ia bisa memaparkan gagasan layaknya CEO yang sedang mempresentasikan perusahaannya.
Sandi juga dinilai Alvin menang karena berhasil menampilkan sosok muda yang sopan terhadap ulama. Terlihat dari bahasa tubuh Sandi saat hendak berbicara.
Ia selalu menundukkan kepala ke arah Ma’ruf seraya meminta izin. Saat mendebat pun Sandi meminta maaf terlebih dulu kepada Ma’ruf.
"Patut diakui pula, secara gimmick politik Sandiaga menurut saya lebih unggul, dia lebih ekspresif," ujarnya.
Sementara Pangi menilai Ma’ruf mampu tampil mengejutkan. Berkat penampilannya di debat pertama, publik meragukan Ma’ruf bisa tampil lepas.
Namun di debat kali ini, Ma’ruf bisa memaparkan gagasan secara jelas dan lugas. Meski beberapa kali terbata dan harus mencontek kertas di genggamannya.
"Beliau tidak punya beban, kalau pas sama Pak Jokowi memang tidak banyak bicara. Tadi beliau bebas bicara apapun," jelas Pangi.
Pemilihan kata Ma’ruf pun begitu mencerminkan keilmuan dan posisinya sebagai ulama. Selain membacakan serentetan ayat dan hadis, Ma’ruf juga menggunakan bahasa agamis seperti kata "bersyukur".
"Lebih sejuk, kritik diungkapkan dengan bijak. Pak Ma’ruf lebih banyak mensyukuri kinerja pemerintah saat ini," Pangi berucap.
(cnnindonesia.com)
kabarmelayu.comKUANSING Puluhan tahun menunggu kepastian, kesabaran Kelompok Tani Kelompok Tani SKB akhirnya memuncak Rabu (29/4/2026). Me
Sosial
kabarmelayu.comPEKANBARU Komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Riau, H Zufra Irwan SE, MM, SpAp mengecam sikap Kadisdik Provinsi Riau,
Pemerintahan
kabarmelayu.comROHIL Warga binaan Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi berinisial SN alias KN menjadi sorotan di kalangan masyarakat Rokan Hilir.
Hukrim
kabarmelayu.comPEKANBARU Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musr
Parlemen
kabarmelayu.comINHIL Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Herman, akan membangun pasar induk Jalan yos sudarso yang megah, seluruh pedagang
Pemerintahan
kabarmelayu.comPEKANBARU Dua atlet petinju Pekanbaru berhasil menyabet dua medali emas pada event Kejuaraan Tinju Amatir Terbuka Piala Da
Sport
RSUD Arifin Achmad Berhasil Tangani Kasus Menouria Langka, Pasien Kini Dapat Haid Normal
Kesehatan
kabarmelayu.comPEKANBARU Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasinal Rencana Kerja Pemerintah D
Parlemen
Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri dan Pejabat Pemerintah Kabinet Merah Putih
TNI/Polri
kabarmelayu.comPEKANBARU Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Wilayah &039Aisyiyah (PW &039Aisyiyah) Riau sukses menyeleng
Parlemen