Jumat, 03 Juli 2026 WIB

Pembelajaran Inovatif di Era Digital: Tantangan dan Strategi

Harijal - Senin, 05 Februari 2024 22:31 WIB
Pembelajaran Inovatif di Era Digital: Tantangan dan Strategi
Arief Tito

JAKARTA - Totok Amin Soefijanto, Ed.D. memandang bahwa pada dasarnya kita tidak boleh menggantungkan diri pada teknologi, karena teknologi bisa saja salah. Hal ini disampaikannya dalam Seminar Internasional sebagai Rangkaian Dies Natalis ke-26 Universitas Paramadina bekerjasama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia dengan tema “Pembelajaran Inovatif di Era Digital: Tantangan & Strategi”. Bertempat di Aula Universitas Paramadina Kampus Cipayung ini dimoderatori oleh Dr. Devi Wulandari, Senin (5/2/2024).

Totok yang juga Dosen Universitas Paramadina ini mengingatkan bahwa kampus merupakan salah satu institusi yang terancam di masa depan. Agar tidak terjadi demikian, manusia harus mengatur waktu dalam penggunaannya, mengatasi gangguan digital dan sebagainya.

Kinerja dari guru atau tenaga pendidik lanjut Totok, sangat berpengaruh bagi orang tua dan murid atau mahasiswa. 

Baca Juga:

“Terkadang saya sendiri sewaktu menjabat sebagai wakil rektor sempat menangani berbagai permasalahan sebagai contoh padahal mahasiswa yang bersalah sehingga mengulang mata kuliah, akan tetapi yang disalahkan adalah dosen dan pihak universitas,” kata Totok.

Ia juga menekankan bahwa beberapa hal yang dapat mendorong anak menjadi lebih aktif dan berpikir kritis adalah melakukan kolaborasi, interaksi, serta aktivitas pendukung lainnya. 

Baca Juga:

Prof. Dr. Novel Anak Lyndon dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia memaparkan prediksi mengenai beberapa negara yang akan sangat berhasil kedepannya adalah Cina dan India. 

"Perbedaan culture, value dan berbagai hal lainnya dalam sebuah negara harus disatukan dan dicetuskan menjadi suatu hal yang dapat dijadikan acuan dan tujuan," kata Novel. 

Lyndon juga mengingatkan pentingnya masyarakat Indonesia membawa isu mengenai pemikiran, budaya, makanan dan lain sebagainya terkhusus pada bagi pekerja Indonesia di Malaysia. Sehingga masyarakat Malaysia dapat menerima masyarakat Indonesia karena menganggap bahwa serumpun dan seagama Islam. 

Pembicara selanjutnya Prof. Madya Dr. Mohd Nor Shahizan Ali dosen Universitas Kebangsaan Malaysia memaparkan bahwa tren komunikasi berubah 360 derajat dalam membuat semua pemikiran dan makna, sehingga sekarang dikenal dengan smart society. "Society sudah berubah karena mengubah kemahiran dengan adanya teknologi, terkhusus dengan  hadirnya Artificial Intelligence AI)" kata Shahizan.

"Smart society ini sudah mengubah kebiasaan masyarakat dan remaja dimana dengan kehadiran smartphone, dikhawatirkan akan menjadi sesat dan hilang didalam kegelapan" tambah Shahizan.

“Saat ini banyak anak remaja khususnya siswa dan mahasiswa tidak menggunakan pemikirannya, sehingga tidak dapat berpikir dengan baik dan hanya mengandalkan AI,” pungkasnya.(*)

SHARE:
beritaTerkait
Ternyata Wabup Kuansing Sempat Diperiksa KPK Saat OTT Bupati dan Sekda
Lapas Bagansiapiapi Terima Kunjungan Kakanwil Ditjenpas Riau
Mukhlisin Terima SK Plt Bupati Kuansing
Hadapi Perang Modern, Panglima TNI Pimpin Pengesahan Doktrin "Perisai Trisula Nusantara"
Bupati Siak Afni Zulkifli Masuk Daftar 22 Sosok Reset Indonesia
Pemkab Bengkalis Gelar Kick Off Bulan Vaksinasi Rabies 2026
komentar
beritaTerbaru