15 Calon Komisioner KI Riau Dinilai Kompeten, Zufra Irwan Minta DPRD Profesional
kabarmelayu.com,PEKANBARU Sebanyak 15 nama calon komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Riau periode 20262030 yang telah dikirimkan ol
Pemerintahan
Kabar Melayu (PEKANBARU) - Keberadaan hutan alam bagi masyarakat adat Petalangan, Kecamatan Bandar Petalangan, Provinsi Riau, dulunya sangat strategis. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidup pada hasil hutan. Mulai dari berburu, menangkap ikan, hingga mencari madu dari pohon sialang yang disebut dengan Menumbai.
Menumbai atau tradisi memanjat madu sialang, merupakan prosesi ritual unik yang kental dengan nuansa adat masyarakat Petalangan. Ritual ini diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat Petalangan.
Menumbai hanya dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun. Prosesnya pun melalui ritual yang sangat kompleks. Menumbai dilakukan di malam hari yang dilengkapi beberapa peralatan tradisional. Di antaranya tunam, semacam suluh (obor) untuk menguak lebah dari sarangnya sekaligus sebagai penerang ketika menumbai di malam hari. Tunam terbuat dari sabut kelapa yang dibalut kulit kayu.
Baca Juga:
Selanjutnya timbo, yakni alat penampung sarang lebah yang telah terisi madu, biasanya terbuat dari rotan. Lainnya adalah tali panjang untuk menurunkan madu di dalam timbo serta tangga panjang berupa susunan kayu kecil yang dinamakan semangkat.
Semangkat ini dibuat untuk memanjat pohon sialang, karena biasanya diameter pohon sialang ini tak bisa dipeluk oleh tangan orang dewasa.
Baca Juga:
Ketika menumbai, terdapat sebuah tim yang bekerja sama, dipimpin oleh seorang yang dituakan yang disebut dengan Juagan Tuo (juru panjat). Juragan Tuo dibantu oleh beberapa juru panjat lainnya yang disebut juagan mudo. Juagan mudo yang bertugas membantu juragan tuo pada saat menyapu lebah.
Di bawah, dibantu pula oleh beberapa orang sebagai pengumpul timbo yang berisi madu yang diturunkan melalui tali ke bawah.
Upacara menumbai ini dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Ada kepercayaan bahwa di pohon sialang didiami oleh makhluk halus, waktu melakukan menumbai sering pula berhadapan dengan hal-hal yang ghaib, maka untuk itu pada setiap tahapan memanjat pohon selalu diiringi dengan membaca monto (mantera).
Dari sumber lainnya, menumbai yang dilengkapi mantra karena lebah harus diperlakukan dengan baik. Tujuan mantera adalah untuk menjinakkan lebah, membuat mereka nonap (tidur) dan minta perlindungan Tuhan dari bahaya.
Dalam adat Petalangan, pembagian madu yang didapat diatur secara adat. Juagan yang berasal dari suku pengelola rimba mendapatkan 40 persen. Sebanyak 40 persen lagi untuk warga suku yang mengelola rimba kepungan sialang. 20 persen lagi untuk batin (kepala suku), tukang sambut dan pemuka masyarakat.
Sarang lebah yang terdapat di pokok sialang ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian yang dekat dengan dahan kayu disebut kepala sarang yang berisi madu, sedangkan bagian tengah disebut lambuk (perut sarang) yang berisi anak lebah, sedangkan yang terletak di ujung bawah sarang disebut pula ujung lambuk (ekor sarang) yang berisi lilin lebah atau tahi lebah.
Terancam Ekspansi Lahan
Meskipun Menumbai saat ini masih bisa disaksikan di beberapa tempat di Kabupaten Pelalawan, namun pesatnya ekspansi perkebunan kelapa sawit serta perluasan areal Hutan tanaman Industri (HTI) di daerah ini, menyebabkan kekayaan adat dan budaya ini nyaris punah.
Saat ini, hanya pada sebahagian kecil masyarakat saja tradisi menumbai itu bisa ditemukan. Banyak faktor penyebab mulai hilangnya tradisi unik yang syarat dengan ritual itu, salah satunya pembukaan lahan (ekspansi perkebunan) besar-besaran yang dilakukan perusahaan.
"Banyak perusahaan perkebunan membuka lahan, mutlak pohon sialang yang merupakan hutan larangan dan dilindungi itu, kini digantikan dengan tanaman sawit," ujar Herman Maskar, Ketua Dewan Kesenian Pelalawan dilansir goriau.
Saat ini, hanya di kawasan tertentu di dalam Pebatinan (pemangku adat Petalangan) yang memegang teguh adat dan istiadat pohon sialang penghasil madu masih berdiri kokoh.
Seperti di kawasan Pebatinan Bunut, masih bisa dijumpai beberapa kepungan sialang tempat lebah bersarang. Seperti Kepungan Sialang De Bakal, Sialang Tungkat Tembonsu, Tungkat Nago Seai, Sialang Kawan, Sialang Gumpal Bonang, Sialang Pulau Bose, Sialang Tengkorak, Sialang Pulau Tujuh, Sialang Pulau Panjang, Ombau Ulu.
Pokok kayu jenis Keriung tempat lebah liar bersarang itu, kondisinya masih utuh dan terus dinaiki lebah setiap tahunya.(ndi)
kabarmelayu.com,PEKANBARU Sebanyak 15 nama calon komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Riau periode 20262030 yang telah dikirimkan ol
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dunia pendidikan profesi advokat di Provinsi Riau memasuki babak baru dengan terjalinnya kerja sama strategis
Hukrim
kabarmelayu.com,KAMPAR Dalam rangka menyambut dan menyemarakkan HUT RI ke81 tahun 2026, Pemerintah Desa (Pemdes) Tanah Merah Kecamatan Si
Sport
Gudang Narkoba Dibongkar, Polisi Buru Otak Jaringan dan Kejar Aset Lewat TPPU
Hukrim
Personel Polsek Kandis Bersama Petani Merawat Tanaman Jagung, Jaga Hingga Panen
Lingkungan
Geram Lihat Mangrove Dirusak, Kapolda Riau Ini Benteng Masyarakat Pesisir, Tempat Satwa Berkembang Biak!
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Riau bersama Polres Kampar berhasil menggerebek sebuah rumah
Hukrim
kabarmelayu.com,JAKARTA Pernyataan Kepala Bidang Hukum (Kabidkum) Polda Riau, Kombes Pol Mohamad Qori Oktohandoko di salah satu media si
Hukrim
kabarmelayu.com,SIAK Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Siak meminta kepolisian mengusut tuntas tindakan kekerasan terhadap wart
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dua pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di wilayah hukum Polsek Sukajadi, berhasil diringkus hanya da
Hukrim