Selasa, 21 Juli 2026 WIB

Sumber Air Kian Menipis, Manggala Agni Kuras Lumpur Kanal demi Padamkan Karhutla di Bengkalis

Redaksi - Senin, 20 Juli 2026 17:24 WIB
Sumber Air Kian Menipis, Manggala Agni Kuras Lumpur Kanal demi Padamkan Karhutla di Bengkalis
Personil Manggala Agni harus rela terjun ke kanal menguras lumpur demi mendapatkan sumber air untuk memadamkan karhutla di Pematang Pudu Bengkalis.(Foto: Istimewa)
kabarmelayu.com,BENGKALIS - Perjuangan personel Manggala Agni demi memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, tak hanya menghadapi sesaknya asap dan bara yang masih tersimpan di dalam gambut. Mereka juga harus rela menguras lumpur kanal demi mendapatkan sumber air.

Di sejumlah titik pemadaman, satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan hanyalah kanal-kanal kecil atau yang biasa disebut kanal cacing. Namun, memasuki musim kemarau, debit air di kanal tersebut mulai surut sehingga petugas harus bekerja ekstra sebelum air dapat dipompa untuk memadamkan api.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, minimnya sumber air itu menjadi tantangan tersendiri bagi tim yang hingga Senin (20/7/2026) hari ini masih berjibaku di lokasi karhutla.

Baca Juga:

"Di beberapa titik di Pematang Pudu, sumber air yang tersedia hanya berasal dari kanal-kanal cacing yang debitnya mulai surut. Sebelum digunakan, anggota harus membersihkan lumpur terlebih dahulu agar air bisa dipompa untuk mendukung operasi pemadaman. Ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi di lapangan," ujar Ferdian.

Meski api aktif telah berhasil dipadamkan, pekerjaan personel belum selesai. Asap tipis masih terlihat keluar dari sejumlah titik lahan gambut sehingga proses pendinginan harus terus dilakukan agar api tidak kembali muncul.

Baca Juga:

"Pagi ini asap tipis masih terlihat di lokasi, sehingga upaya pemadaman tetap dilanjutkan. Prinsip kami, penanganan tidak berhenti sampai benar-benar tuntas. Api aktif memang sudah padam, tetapi selama masih ada asap berarti masih ada potensi bara di bawah permukaan gambut yang harus dipadamkan," kata Ferdian.

Berdasarkan hasil pemantauan drone pada Ahad (19/7/2026), kawasan yang terbakar di Pematang Pudu diperkirakan mencapai sekitar 81 hektare. Dari udara, kepulan asap masih terlihat di beberapa bagian sehingga operasi pemadaman kembali dilanjutkan pada hari keenam.

Empat regu Manggala Agni kembali diterjunkan sejak pagi untuk melakukan pendinginan di titik-titik yang masih berasap. Fokus utama tim adalah memastikan bara api di bawah permukaan gambut benar-benar padam sehingga tidak memicu kebakaran susulan.

Karakteristik lahan gambut, kata Ferdian membuat proses pemadaman jauh lebih sulit dibanding kebakaran di lahan mineral. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah selama berhari-hari sehingga membutuhkan penyiraman secara menyeluruh hingga lapisan gambut benar-benar basah.

"Kami akan terus bertahan di lokasi sampai dipastikan tidak ada lagi asap maupun bara yang tersisa. Keselamatan kawasan dan mencegah kebakaran kembali menyala menjadi prioritas utama kami," tegas Ferdian.

Operasi pemadaman di Pematang Pudu hingga kini masih terus berlangsung dengan dukungan berbagai pihak, mengingat lokasi tersebut menjadi salah satu titik karhutla terbesar yang ditangani di Riau selama Juli 2026.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ini 6 Poin Maklumat Forkopimda Riau Terkait Karhutla!
Dibantu Tiga Heli, Tim Gabungan Jinakkan 80 Hektare Karhutla di Bengkalis
Kunjungi Riau, Lembaga Riset Singapura  Bahas Tata Kelola Lingkungan dan Karhutla
90 Personil BPBD Pekanbaru Siaga Antisipasi Karhutla
Setelah 2 dari 7,5 Hektare Karhutla di Kubu Rohil Berhasil Dipadamkan, Muncul Titik Baru di Bangko
Karhutla Pulau Serdang, 7 Hektare Gambut Terbakar
komentar
beritaTerbaru