Selasa, 07 Juli 2026 WIB

Rahasia Rendang Indonesia Tahan Lama Meski Dikirim ke Nepal

Harijal - Sabtu, 14 Desember 2019 18:05 WIB
Rahasia Rendang Indonesia Tahan Lama Meski Dikirim ke Nepal
(Foto: Dok Batan)
Tempat iradiasi gamma milik Batan

JAKARTA - Pada tahun 2015 pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada para korban gempa Nepal. Bantuan itu dikirim dalam bentuk makanan siap saji seperti rendang dan semur daging yang sebelumnya diiradiasi gamma di fasilitas milik Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan).

Dengan teknik iradiasi gamma, makanan siap saji ini mampu bertahan dalam perjalanan yang panjang dan penyimpanan minim menuju wilayah terdampak bencana. Sumbangan ini pun diapresiasi oleh Badan Tenaga Atom Nasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) dalam Sidang Umum IAEA pada tahun yang sama.

Tak hanya makanan, berbagai produk di bidang pangan dan lainnya juga bisa tahan lama hingga 18 bulan menggunakan teknik iradiasi gamma. Menariknya, teknik ini tidak memiliki efek kesehatan sama sekali dibanding menggunakan bahan pengawet yang terbuat dari zat kimia.

Baca Juga:

Saat ini, iradiasi gamma pangan telah disetujui oleh lebih 50 negara dan telah banyak diterapkan secara komersil selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Di Indonesia, Batan menjadi satu dari dua institusi yang melayani jasa iradiasi gamma. Sampai saat ini, Batan melayani produk pangan 60 perusahaan yang hendak diekspor ke berbagai negara.

Baca Juga:

Sebagai contoh, untuk menembus pasar global, komoditas mangga Indonesia harus melalui tahapan karantina yang bertujuan mengeliminasi keberadaan hama sternochetus frigidus yang persebarannya dicegah di seluruh dunia.

Iradiasi mangga dengan dosis kurang dari 0,5 kG akan mengeliminasi hama tersebut tanpa merusak kualitas dan mengubah cita rasa dan aman dikonsumsi. Hasilnya, teknik ini dapat membuat komoditas mangga nasional bersaing di pasar global.

Teknologi iradiasi memiliki beberapa keunggulan di antaranya hemat energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu, dan ramah lingkungan.

Para pakar di International Food Irradiation Project (IFIP) membuktikan teknik iradiasi yang diterapkan pada bahan pangan jauh lebih aman dibandingkan teknik pengolahan konvensional lainnya.

Tak hanya pangan, teknik iradiasi juga bisa diterapkan di berbagai bidang lainnya. Misalnya di sektor manufaktur, untuk menjaga kualitas kayu yang akan diekspor dari jamur, para pengusaha disarankan lebih bagus menggunakan teknik ini. 

(cnnindonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Pertama di Riau, Bupati Herman Resmikan Layar Digi Tembilahan
Pemkab Solok Sambangi TRC 112 Pekanbaru
Unik, Nenek Gajah 60 Tahun di Ukui Ini Pilih Hidup Soliter
Bupati Afni: Keterbatasan Fiskal Tidak Mengurangi Komitmen Pemkab Siak Membangun Daerah
PSPS Ungkap Strategi Jelang Musim 2026-2027
Restorative Justice, Kejari Rohul Bebaskan Tersangka Pencurian dan Pengancaman
komentar
beritaTerbaru