Minggu, 30 Agustus 2026 WIB

1 Januari 2019, Pertamina Sewakan Kapal Penyimpanan Terapung

Harijal - Selasa, 20 November 2018 11:28 WIB
1 Januari 2019, Pertamina Sewakan Kapal Penyimpanan Terapung
(CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
PT Pertamina bakal menyewakan dua kapal penyimpanan terapung (floating storage) kepada produsen bahan bakar nabati (BBM) di Balikpapan mulai 1 Januari 2019.

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) bakal menyewakan dua kapal penyimpanan terapung (floating storage) kepada produsen bahan bakar nabati (BBN) di Balikpapan mulai 1 Januari 2019. 

Penyewaan dilakukan untuk memperlancar penyaluran bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) yang akan dicampur pada minyak Solar dalam program B20, khususnya di wilayah Indonesia Bagian Timur.

"Floating storage punya Pertamina karena kalau kita urus (kapal) dari luar itu perlu izin lingkungan lagi, perlu izin macam-macam," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution usai menghadiri rapat koordinasi di kantornya, Senin (19/11).

Baca Juga:

Selain tak perlu lagi mengurus perizinan, penggunaan kapal Pertamina juga akan menghemat waktu karena kapal sudah dilengkapi koordinat lokasi yang dibutuhkan. Nantinya, skema penyewaan akan dilakukan antar badan usaha (business to business/BtoB).

"Jadi itu tidak sekedar menaruh (FAME) di kapal," ujar Darmin.

Baca Juga:

Setelah menerima pasokan fame, kilang atau TBBM akan melakukan pencampuran dengan minyak Solar untuk menghasilkan produk B20. Setelah itu distribusi ke SPBU akan dilakukan oleh Pertamina.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, tadinya, produsen ingin menggunakan floating storage untuk pengiriman mulai 1 Desember 2018 di mana pengadaan sewa kapal dilakukan oleh produsen biodiesel. Namun, dalam rapat koordinasi mengemuka bahwa kapal yang digunakan tidak boleh sembarang kapal karena harus memenuhi persyaratan dan sertifikat perizinan tertentu.

"Harus ada sertifikat dari Pertamina, tangkinya. Pada saat itu, belum terpikir,"ujarnya. 

Senior Vice President of Shipping Pertamina Alfian Nasution menyatakan kesiapan perseroan untuk menyediakan floating storage.

"Kami siap menyediakan. Biaya sewanya belum diputuskan tetapi BtoB. 1 Januari 2019 mudah-mudahan bisa jalan," ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana mengungkapkan pemerintah, Pertamina, dan badan usaha produsen BBN telah menyepakati jumlah titik penyaluran BBN dipangkas dari 112 titik menjadi 25 titik mulai 1 Januari 2019. Sebanyak 22 sisanya merupakan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) dan tiga sisanya merupakan kilang pengolahan.

"Pertimbangannya dengan melihat efektifitas, kemampuan, efisiensi, serta mempertimbangkan ketersediaan kapal," ujarnya. 

(cnnindonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Babinsa Koramil 06/Siak Hulu Hadiri Malam Puncak Peringatan HUT RI ke-81 Desa Tanah Merah
Pemkab Bengkalis Usul Pembangunan RSUD Bukit Batu dan Pengembangan Layanan Jantung-Kanker ke Kemenkes
Pria di Pekanbaru Diancam dan Diperas, 5 Pelaku Ditangkap
Tim Alpha Lakukan Fastrope ke Titik Api di Riau, Buka Jalan Tim Free Fall
PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta, Komitmen Bersama Kawal Industri Sawit Nasional
Ratusan Anggota Koperasi Produsen Tani Aman Makmur Didampingi Pengacara dan LSM Penjara Rohul Tuntut PT. SRL Tinggalkan Lahan 2.050 Hektare
komentar
beritaTerbaru