Jumat, 05 Juni 2026 WIB

Isu-Isu Kontemporer Ekoteologi: Tafsir Naskah Kalam Kekhalifahan dan Reformasi Bumi Prof. Dr. Nurcholish Madjid

Harijal - Rabu, 15 Mei 2024 18:21 WIB
Isu-Isu Kontemporer Ekoteologi: Tafsir Naskah Kalam Kekhalifahan dan Reformasi Bumi Prof. Dr. Nurcholish Madjid
Arief Tito

KONSEP kekhalifahan tentang ekologi yang diadopsi, di mana agama merupakan penyebab krisis lingkungan yang diungkapkan oleh teolog bernama Lim White banyak disanggah oleh teolog lain yang berpendapat bahwa krisis lingkungan terjadi karena ekosistem bukanlah agama.

Hal ini disampaikan oleh Budhy Munawar-Rachman dalam diskusi yang diselenggarakan Paramadina Institute of Ethics and Civilizations (PIEC)  bertema "Isu-Isu Kontemporer Ekoteologi: Tafsir Atas Naskah Kalam Kekhalifahan dan Reformasi Bumi Prof. Dr. Nurcholish Madjid" yang diselenggarakan secara luring di Universitas Paramadina Cipayung, Selasa (14/5/2024).

Budhy yang juga Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy ini  juga menyoroti bahwa Isu ekologi belum menjadi isu penting saat ini karena masih jarangnya pembicaraan mengenai krisis lingkungan di masjid-masjid. Saat ini belum ada komunitas yang bergairah dalam menulis mengenai ekologi Islam, yang muncul hanya karena tuntutan administratif semata.

Baca Juga:

“Saat ini masyarakat belum memiliki repons yang kuat mengenai ekologi. Sehingga harus dikembangkan, saya berharap Universitas Paramadina juga bisa menjadi pioner kampus hijau,” ujarnya.

Kalam dan sejarahnya, terutama pertumbuhannya yang dipicu oleh kemakmuran dan stabilitas politik di bawah pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid berfungsi sebagai cara untuk memperdebatkan dan membela doktrin Islam, seringkali dalam konteks dialog fiqih, falsafah dan tasawuf. Pertumbuhan kalam menyoroti sebagai bentuk menghadapi dan merespons berbagai tantangan intelektual, baik dari dalam maupun dari luar islam.

Baca Juga:

"Sebenarnya kalam memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman dan penerapan ajaran Islam dalam konteks sosial, politik dan lingkungan yang lebih luas," kata Budhy.

Ekologi transformatif berisi tentang spiritualitas bumi atau ekologi, adanya ilmu pengetahuan tentang ekologi didasarkan adanya iman, ilmu, amal dalam pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid atau Cak Nur. 

"Dalam ekoteologi Cak Nur menawarkan perspektif yang mendalam dan transformatif secara menyeluruh tentang hubungan manusia dengan ciptaan dan penciptanya," tuturnya.

Ekoteologi tak hanya dari aspek biologis atau kimia, tetapi sebagai sebuah sistem yang kompleks dan dinamis di mana segala aspek kehidupan saling terkait keadilan, etika dan spiritualitas. Perlu keterlibatan aktif dari tiap individu untuk merenungkan bagaimana tindakan mereka dapat mempengaruhi dunia di sekitar mereka dan bagaimana mereka dapat berkontribusi pada pemulihan dan pelestarian alam.

"Dengan ini ekoteologi Cak Nur mengajak tiap komunitas untuk tidak hanya terlibat dalam aktivitas pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam skala yang lebih besar," tegasnya.***

SHARE:
beritaTerkait
Sepakat! Kecamatan Pulau Burung Tuntaskan Tapal Batas Desa, Jadi Percontohan di Inhil
Wako Agung Nugroho Launching Logo HUT Pekanbaru Ke-242, Ini Maknanya
Terbitkan SP3 Dugaan Pemerasan dan Penggelapan, Kapolri hingga Jajaran Polda Lampung Dipraperadilankan di PN Jaksel
Jeritan Transmigran Air Balui, Menuntut Keadilan di Tengah Sengkarut Agraria
Pelaku Teror Pocong di Kulim Diamankan Polisi Tak Benar, Ternyata ODGJ
Setelah Tuntaskan Rukun dan Wajib Haji, Jemaah Asal Desa Pulau Payung Kampar Wafat di Tanah Suci
komentar
beritaTerbaru