Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Sambut HPN ke80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Sosial
JAKARTA - Usulan Kamar Dagang dan Industri Indonesia yang menginginkan pemerintah menambah stimulus fiskal dari saat ini sebesar Rp 405 triliun menjadi Rp 1.600 triliun dianggap tak masuk akal dan berpotensi menimbulkan risiko yang berbahaya.
Angka tersebut terdiri dari sebesar Rp 600 triliun yang diperuntukkan untuk jaring pengaman sosial, Rp 400 triliun dana kesehatan, dan Rp 500 triliun untuk sektor perbankan. Stimulus yang diusulkan ini, memang tak jauh berbeda dari rata-rata stimulus negara lain di angka 10% dari PDB.
"Jika Kadin ingin menggerakkan sektor riil, harusnya memiliki skema penyelamatan UMKM karena 129 juta tenaga kerja aktif mayoritas berada di sektor UMKM sekitar 96%," kata Anggota Komisi XI Fraksi Gerindra Kamrussamad, Selasa (28/4/2020).
Baca Juga:
Sebagai informasi, pemerintah saat ini telah mengucurkan dana stimulus setidaknya Rp 405,1 triliun untuk menangani pandemi Covid-19. Stimulus yang dikeluarkan pemerintah setara dengan 2,5% dari PDB.
Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara yang mengeluarkan stimulus serupa, angka yang dikucurkan pemerintah Indonesia terbilang lebih rendah. Misalnya saja, seperti Australia yang mencapai 10% dari PDB maupun Singapura 10,5% dari PDB.
Baca Juga:
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan gegabah dengan begitu saja mengeluarkan stimulus yang mencapai ribuan triliun.
"Pemerintah akan evaluasi. Tapi pemerintah tidak akan sembrono. Artinya, pemerintah akan jaga kredibilitas daripada keuangan. Setiap evaluasi bisa dilakukan," jelas Airlangga dalam konferensi pers usai rapat terbatas.
Stimulus yang dikeluarkan pemerintah saat ini, sambung dia, pun belum menghitung secara keseluruhan dampak lanjutan dari Covid-19. Airlangga menegaskan, apabila memang diperlukan pemerintah pun tidak akan ragu menggelontorkan stimulus tambahan.
"Kita tentu akan mengakses seberapa jauh dan seberapa dalam. Ini semua masih hitung kedalaman dan kelamaan dari pandemi. Pemerintah akan evaluasi," katanya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan tetap melakukan evaluasi secara berkala terkait stimulus yang sudah diberikan. Evaluasi perlu dilakukan, mengingat kondisi keuangan negara saat ini dalam situasi tertekan.
"Kalau bicara apakah ada anggarannya atau tidak, semua negara dengan apa yang disebut stimulus mereka melakukan issuance utang. Dalam hal ini kita berhati-hati. Yang disampaikan pak Menko tidak sembrono, tapi berusaha seefektif mungkin," jelasnya.
(CNBCIndonesia.com)
Sambut HPN ke80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Sosial
Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Pemerintahan
Aksi Hardiknas Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin
Peristiwa
kabarmelayu.comJAKARTA Indonesia pernah menjadi kiblat pendidikan di Asia Tenggara, bahkan sampai diminta negara tetangga untuk membantu m
Article
Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu
Hukrim
kabarmelayu.comINHIL Wakil Bupati Indragiri Hilir Yuliantini S.Sos, M.Si menghadiri Rapat Paripurna Ke 7 DPRD Kab. Inhil Masa Persidan
Pemerintahan
kabarmelayu.comKUANSING Puluhan tahun menunggu kepastian, kesabaran Kelompok Tani Kelompok Tani SKB akhirnya memuncak Rabu (29/4/2026). Me
Sosial
kabarmelayu.comPEKANBARU Komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Riau, H Zufra Irwan SE, MM, SpAp mengecam sikap Kadisdik Provinsi Riau,
Pemerintahan
kabarmelayu.comROHIL Warga binaan Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi berinisial SN alias KN menjadi sorotan di kalangan masyarakat Rokan Hilir.
Hukrim
kabarmelayu.comPEKANBARU Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musr
Parlemen