Minggu, 03 Mei 2026 WIB

Kepanikan Warga Saksikan Awan Bak Tsunami di Langit Aceh

Harijal - Senin, 10 Agustus 2020 17:59 WIB
Kepanikan Warga Saksikan Awan Bak Tsunami di Langit Aceh
(Dok. Istimewa).
Kemunculan awan Arcus atau awan Tsunami di Aceh Barat, Senin (10/8) pagi.

JAKARTA - Kondisi cuaca yang mendung pada Senin (10/8) pagi membuat warga di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh merinding dan panik karena tiba-tiba di langit muncul awan hitam besar menyerupai gelombang tsunami.
Fenemona 'mengerikan' itu membuat sebagian warga memilih untuk beribadah dan berdoa agar dijauhkan dari marabahaya dan bencana.

"Kemunculannya sempat membuat warga panik, karena tiba-tiba, awan itu seperti gelombang laut," kata Ilyas seorang warga Aceh Barat kepada CNNIndonesia.com.

Ilyas mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat awan berbentuk gulungan ombak, wilayah Aceh Barat sempat gelap, namun tidak lama kemudian kembali cerah.

Baca Juga:

Badai awan yang menutup sebagian Aceh Barat tersebut tidak berlangsung lama, setelah itu disambut dengan hujan dan angin kencang.

"Muncul awan dulu baru hujan. Langit gelap dan tiba-tiba angin kencang bersama hujan," katanya.

Baca Juga:

Menurutnya, warga sekitar sempat mengira fenomena tersebut merupakan tanda bala atau malapetaka seperti peristiwa tsunami 2004 silam yang meluluhlantakkan Aceh, termasuk Aceh Barat.

"Rata-rata (warga) berdoa meminta agar dijauhkan dari bencana ketika menyaksikan fenomena itu," ujar Ilyas.

Ia berujar awan yang berbentuk ombak tersebut tidak berlangsung lama, sekira pukul 09:30 WIB, awan tersebut mulai hilang.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun I Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh, Zakaria menjelaskan awan tersebut merupakan awan Arcus atau awan tsunami.

"Namanya awan Arcus atau disebut juga awan tsunami. Awan ini merupakan bagian dari awan CB (Cumulonimbus)," kata Zakaria.

Zakaria menjelaskan, awan raksasa itu merupakan awan rendah dan biasanya berada pada satu level. Awan ini juga dapat menimbulkan angin kencang, hujan lebat disertai kilat, petir, angin puting beliung atau hujan es.

"Awan ini biasanya terjadi di daerah yang tidak begitu luas sehingga tidak dapat dipantau oleh satelit," kata Zakaria.

BMKG mengimbau kepada masyarakat agar tak panik dengan munculnya fenomena tersebut. Namun, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati. Kemudian dia juga meminta nelayan untuk tidak melaut sementara waktu hingga awan tersebut hilang.

"Bila terlihat awan itu agar cepat-cepat mencari perlindungan, jangan bertahan di lapangan terbuka dan bagi nelayan agar segera berlabuh ke darat," katanya.

(CNNIndonesia.com)

SHARE:
beritaTerkait
Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin
Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar
Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu
Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025
komentar
beritaTerbaru