Selasa, 09 Desember 2025 WIB

Meski El Nino Tak Signifikan, Risiko Karhutla di Riau Tetap Tinggi

Redaksi - Senin, 28 April 2025 19:20 WIB
Meski El Nino Tak Signifikan, Risiko Karhutla di Riau Tetap Tinggi
Ilustrasi.(Foto: Ist)
kabarmelayu.comPEKANBARU - Meski pengaruh fenomena El Nino di Riau diprediksi tidak signifikan pada musim kemarau kedua tahun 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap mengingatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi.

Deputi Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan, berbeda dengan daerah lain seperti Sumatera Selatan, Jambi, atau Kalimantan, pengaruh El Nino terhadap peningkatan titik panas di wilayah Riau terbilang kecil.

"Berita baiknya, kalau kita lihat, pengaruh El Nino khususnya pada musim kemarau kedua di Riau ini tidak begitu signifikan. Namun yang harus diwaspadai, jumlah hotspot justru pernah tinggi saat musim kemarau kategori normal seperti tahun ini," kata Ardhasena di Gedung Daerah Provinsi Riau, Senin (28/4/2025).

Baca Juga:

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Riau akan memasuki musim kemarau lebih cepat, mulai akhir Mei hingga awal Juni, dan puncaknya akan terjadi pada Juni hingga Juli. Akibat kemarau yang lebih panjang sekitar 20 hingga 30 hari dibanding biasanya, ancaman karhutla tetap besar, meski tidak dipicu oleh anomali El Nino.

Menurut Ardhasena, karakteristik kemarau normal di Riau justru bisa memunculkan titik panas cukup banyak meski durasi hari tanpa hujan belum terlalu ekstrem.

Baca Juga:

"Titik panas di Riau bisa muncul ketika curah hujan anomali atau neraca air belum negatif. Ini berbeda dari daerah lain yang lebih dipengaruhi El Nino," jelasnya.

Pemetaan risiko iklim BMKG menunjukkan bahwa mulai Mei, beberapa wilayah Riau sudah memasuki kategori risiko sedang hingga tinggi terhadap kemunculan hotspot, dengan puncak sebaran risiko terjadi pada Juni dan Juli.

"Dengan kondisi seperti ini, upaya pencegahan karhutla tetap harus diperkuat. Jangan lengah hanya karena El Nino tidak signifikan," tegas Ardhasena.

BMKG mengimbau semua pihak, termasuk pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat, untuk memperketat pengawasan, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat patroli di kawasan rawan.

Monitoring hotspot BMKG dari Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru update pukul 16.00 WIB hari ini, tercatat 14 titik panas terpantau oleh satelit SNNP. Empat titik di antaranya kategori kuning yang berada di level sedang dan 10 lagi kategori hijau atau level rendah yang tersebar di 6 kabupaten dan 1 kota.

Sementara, untuk Sumatera terdapat 108 titik panas. Terbanyak yakni Jambi dengan 38 hotspot.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
NGO Pasang FDRS di Desa Pematang Duku Bengkalis
Karhutla Riau Berkurang Drastis, Pemadaman Fokus di Tiga Daerah Ini
Operasi Gabungan Darat-Udara di Riau Dilakukan untuk Pemadaman Karhutla di Tujuh Daerah
Pekanbaru Panas Bedengkang,  BPBD Berjibaku Padamkan Kebakaran Lahan
Riau Panas! 118 Hotspot Terpantau
Titik Api Muncul di Rimbo Panjang, Indikasi Sengaja Dibakar
komentar
beritaTerbaru