Jusuf Kalla: Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Berikan Solusi
Jusuf Kalla Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Memberikan Solusi
Article
Ujang Holisudin, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau menyampaikan, awalnya pihak BBKSDA Riau berupaya menggabungkan kembali anak gajah dengan induk dan kelompoknya yang dilakukan oleh petugas WRU Balai Besar KSDA Riau, namun tidak
berhasil.
Anak gajah itu kemudian dievakuasi ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas Kabupaten Siak untuk memastikan satwa itu memperoleh asupan nutrisi dan perawatan yang intensif.
Baca Juga:
Selama tiga tiga hari di PLG Minas, anak gajah diberi asupan susu formula, namun tidak berhasil. Tim medis BBKSDA Riau berupaya untuk mendekatkan anak gajah tersebut ke indukan gajah lain di PLG Minas, namun indukan gajah lain itu menolak.
Upaya selanjutnya, dilakukan pemindahan anak gajah ke PLG Sebanga Kabupaten Bengkalis, dengan harapan memperoleh indukan asuh dari induk gajah yang baru melahirkan. Namun indukan gajah tersebut juga menolak, sehingga asupan nutrisi diupayakan diperoleh dari pemberian buah-buahan.
Baca Juga:
Selama itu, si anak gajah cenderung hiperaktif, sehingga dibuatkan kandang sementara untuk membatasi pergerakan dengan pengawasan intensif dari seorang dokter hewan dantiga orang mahout gajah.
Pada 8 April 2025, kondisinya menunjukkan penurunan kesehatan dan nafsu makan. Tim selanjutnya melakukan upaya penanganan dengan memberikan nutrisi berupa air gula dan elektrolit sampai dengan kondisi anak gajah mulai membaik.
Pada 10 April 2025, anak gajah tersebut kembali mengalami penurunan kondisi kesehatan dan kembali dilakukan perawatan intensif oleh tim medis BBKSDA Riau dengan memberikan cairan infus dan elektrolit.
Setelah dilakukan segala upaya perawatan secara intensif pada anak gajah tersebut, tim medis BBKSDA Riau menyatakan bahwa anak gajah tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati pada tanggal 11 April 2025 sekitar pukul 05.00 WIB.
"Tim medis BBKSDA Riau telah melakukan nekropsi terhadap bangkai anak gajah. Hasilnya menunjukkan bahwa penyebab kematian diduga karena adanya peradangan lambung dan usus," terang Ujang Holisudin, Selasa (12/8/2025).
Selanjutnya sampel bagian organ penting akan dikirimkan ke laboratorium untuk mengetahui diagnosa lebih lanjut penyebab kematian, termasuk kemungkinan dugaan adanya serangan dari virus Elephant Endothelial Herves Virus (EEHV).
Jusuf Kalla Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Memberikan Solusi
Article
kabarmelayu.com,PEKANBARU PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II menambah rute penerbangan i
Ekbis
kabarmelayu.com,PEKANBARU Tim Opsnal Polsek Senapelan meringkus sorang pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang selama ini mere
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Sebanyak enam jemaah haji asal Provinsi Riau saat ini dilaporkan masih harus menjalani perawatan intensif di rum
Muslim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Hj. Katerina Susanti Herma
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Wakil Wali Kota (Wawako) Pekanbaru, Markarius Anwar, memimpin langsung prosesi pelantikan puluhan pejabat di lin
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Sebanyak dua peserta seleksi Calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau dipastikan gugur, Kedua
Pemerintahan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, melalui Tim Sapu bersih (Saber) harga pangan Dinas Ketahanan Pangan melakukan
Pemerintahan
Perkuat Sinergi Informasi, Kapuspen TNI Gelar Dialog Bersama Insan Pers
TNI/Polri
kabarmelayu.com,JAKARTA Kasus intimidasi terhadap wartawan pasca terbitnya pemberitaan terkait dugaan markup pengadaan soal Penilaian S
Peristiwa