Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal: Terus Tingkatkan Prestasi
Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal Terus Tingkatkan Prestasi
Pemerintahan
JAKARTA - Penyelesaian sengketa di Laut China Selatan dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna sulit dilakukan selagi pemerintahan Partai Komunis China (PKC) tidak mau mengubah watak dasar politik negeri tirai bambu itu.
Sedari awal, sejak mengklaim kembali perairan di Laut China Selatan, China sudah memperlihatkan sikap arogan dan tidak mau mengikuti aturan main dan hukum internasional yang berlaku.
Salah satu contohnya adalah ketika Filipina menggugat klaim China atas Kepulauan Spratly yang dalam bahasa Mandarin disebut Kepulauan Nansha. Posisi kepulauan ini sangat dekat dengan Filipina. Tetapi oleh China kepulauan itu dimasukkan ke dalam wilayah yang mereka klaim, yang digambarkan dalam sembilan garis-putus atau nine dashed-lines.
Baca Juga:
Filipina mengajukan gugatan ke Permanent Court of Arbitration (PCA) di Belanda pada Januari 2013. Tetapi China sama sekali tidak menganggap proses legal itu ada. China juga menolak mengirimkan perwakilan mereka dalam serangkaian persidangan yang digelar.
Pada bulan Juli 2016, PCA mengeluarkan keputusan yang secara umum menolak klaim China atas Spratly atau Nansha. Sampai sekarang, China bersikeras menolak dan bahkan menganggap keputusan itu ada.
Baca Juga:
Arogansi yang diperlihatkan China inilah yang dikatakan dosen hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Teguh Santosa, sebagai watak dasar politik China yang menghambat penyelesaian sengketa di kawasan.
"Ada adagium yang sampai kini masih berlaku, bawah negara demokratis tidak akan berperang dengan negara demokratis lainnya. Bahwa negara demokratis akan menempuh cara-cara yang demokratis dan dialogis dalam menyelesaikan sengketa dengan tetangganya. Tetapi kita melihat bagaimana arogansi China yang akhirnya berkembang menjadi agresivitas yang membahayakan kawasan," ujar Teguh Santosa dalam keterangan di Jakarta.
Arogansi China pun terlihat dalam kasus pelanggaran wilayah ZEE Indonesia yang kerap mereka lakukan. China tidak merasa melakukan pelanggaran apapun, karena memang tidak mau mengakui bahwa politik dunia telah berubah secara fundamental setelah Perang Dunia Kedua berakhir di tahun 1945.
Negara-negara baru lahir bersama hak kedaulatan mereka dan itu diakui dalam sistem hukum internasional.
"Bayangkan kalau semakin banyak negara yang enggan menerima prinsip suci demokrasi dan aturan hukum internasional. Apa jadinya dunia ini? Negara-negara yang arogan dan agresif seperti itu sesungguhnya adalah ancaman bagi perdamaian dunia," ujar Teguh lagi.
Arogansi pemerintahan Xi Jinping juga tampak jelas terlihat saat Indonesia memberikan nama baru bagi perairan di utara Pulau Natuna yang menjadi milik Indonesia di tahun 2017.
"China menolak nama Laut Natuna Utara karena mereka ingin lebih lama menikmati keuntungan historis dan prikologis dari nama Laut China Selatan yang mereka gambarkan sampai ke perairan di Bangka Belitung," jelas Teguh lagi.
Pada bagian akhir, Teguh meminta agar dunia internasional, khususnya negara-negara ASEAN yang dirugikan oleh arogansi China, bersatu dan mendesak China agar mau menghormati hukum internasional dan prinsip demokrasi. (rls)
Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal Terus Tingkatkan Prestasi
Pemerintahan
kabarmelayu.com,BENGKALIS Bea Cukai Bengkalis menemukan sebanyak 652 Iphone ilegal di Pelabuhan Internasional Bandar Sri Setia Raja (BSS
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dewan Kehormatan PWI Pusat, H. Helmi Burman, mendesak manajemen Riau Pos Grup segera menyelesaikan seluruh hak
Sosial
Polri untuk Masyarakat, Kapolda Riau Tinjau Jembatan Merah Putih di Dumai
TNI/Polri
Pastikan Keamanan Stok Beras, Menko Polkam Tinjau Gudang Bulog di Sumut
TNI/Polri
kabarmelayu.comKANDIS Tanaman budidaya jagung mulai menghijau menjadi simbol harapan bagi petani yang ada di sejumlah pedesaan di wilayah
TNI/Polri
Menjelajahi Sisi Lain Indonesia Jadi Tren Baru Liburan Musim Panas Wisatawan Asing
Wisata
Bupati Siak Ajak Kepala Daerah Perkuat Soliditas Jaga Otonomi Daerah
Pemerintahan
Jembatan Gantung Garuda di Bangko PusakaMenggala Sakti Rohil Masuki Tahap Pembentangan Tali Sling dan Penyetelan
Sosial
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuantan Singingi telah menunjuk Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan,
Pemerintahan