Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Gerebek Dua Tersangka Narkoba di SM Amin
Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Gerebek Dua Tersangka Narkoba di SM Amin
Hukrim
KABUPATEN Pelalawan memiliki banyak sekali ragam peristiwa sejarah, salah satunya yang tak kalah penting seperti pertempuran besar antara kerajaan Pelalawan dengan pewaris tahta kerajaan Pekantua yang memimpin kerajaan Siak Sri Indrapura.
Peristiwa banjir darah di Mampusun ini bermula dari keinginan Raja Sayed Osman untuk mengambil wilayah kekuasaan Pelalawan yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Pekantua yang dihancurkan oleh portugis.
Sebenarnya Pelalawan memang berada di bawah kekuasaan kerajaan Pekantua, namun setelah kerajaan Pekantua diluluh lantakkan oleh portugis maka seluruh keturunan pewaris tahta dihabisi oleh penjajah.
Baca Juga:
Sebelum menghabisi semua pewaris tahta ada salah seorang dari putra mahkota berhasil diselamatkan oleh Raja Pagaruyung dan dirawat oleh beliau hingga dewasa dan dinikahkan dengan putrinya.
Setelah menikahi putri Pagaruyung Tengku Sayed Osman diberi tanah untuk membangun kerajaan Siak Sri Indrapura dan memperluas kekuasaannya hingga akhirnya ingin mengambil kembali kekuasaan yang dulunya tunduk di bawah kerajaan Pekantua yang mana kerajaan ayahandanya dahulu.
Baca Juga:
Tengku Sayed Osman memberikan surat kepada maharaja Sinda Raja Pelalawan pada saat itu untuk segera tunduk di bawah kerajaan Siak. Namun para petinggi kerajaan Pelalawan bermusyawarah dan memutuskan untuk tidak takluk kepada kerajaan Siak dikarenakan kerajaan Pelalawan sudah mandiri.
Meski demikian kerajaan Pelalawan tetap mengakui bahwa Tengku Sayed Osman adalah pewaris tahta kejaraan Pekantua, namun mereka tidak akan tahluk terhadap kerajaan Siak.
Akhirnya setelah mendengar jawaban dari kerajaan Pelalawan, Maharaja kerajaan Siak memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Pelalawan. Dalam pertempuran ini salah seorang panglima besar Siak yang bernama Panglima Baheram gugur di medan perang tepatnya di daerah Petatalan. Kerajaan Siak memutuskan untuk mundur dan menerima kekalahan.
Setelah putra dari Tengku Sayed Osman yang bernama Tengku Sayed Abdurrahman dan Tengku Sayed Muhammad tumbuh dewasa, Siak kembali melakukan penyerangan ke Pelalawan.
Dalam pertempuran kali ini Pelalawan berhasil ditaklukan setelah gugurnya dua panglima besar kerajaan Pelalawan yakni Panglima Katan dan Panglima Kudin.
Setelah ditaklukkan pembesar-pembesar Pelalawan tetap difungsikan di bawah kepemimpinan Tengku Sayed Abdurrahman dan dinobatkan sebagai Raja Besar Pelalawan.
Lokasi pertempuran antara kerajaan Siak dan Pelalawan inilah kemudian dikenal sebagai `Banjir Darah di Mampusun~ yang menjadi saksi bisu pertempuran hebat dari kedua belah pihak.
(narsum: salah seorang pengurus LAM Pelalawan: T. Jasran)
Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Gerebek Dua Tersangka Narkoba di SM Amin
Hukrim
kabarmelayu.com,BENGKALIS Dahari ,anggota PWI Bengkalis resmi mengembalikan Kartu Tanda Anggota (KTA) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
Peristiwa
kabarmelayu.com,JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengutuk keras pembakara
Peristiwa
Polsek Kandis Perkuat Budaya Gotong royong Bersama Petani, Wujudkan Hasil Ketahanan Pangan yang Melimpah
Lingkungan
Hadiri MUSANCAB PDI Perjuangan, Sekda Siak Harapkan Lahir Kepengurusan yang Berkontribusi bagi Daerah
Pemerintahan
kabarmelayu.com,INHIL Wakil Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Yuliantini, S. Sos., M. Si, menghadiri malam penutupan Musabaqah Tilawatil Qur
Pemerintahan
Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal Terus Tingkatkan Prestasi
Pemerintahan
kabarmelayu.com,BENGKALIS Bea Cukai Bengkalis menemukan sebanyak 652 Iphone ilegal di Pelabuhan Internasional Bandar Sri Setia Raja (BSS
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dewan Kehormatan PWI Pusat, H. Helmi Burman, mendesak manajemen Riau Pos Grup segera menyelesaikan seluruh hak
Sosial
Polri untuk Masyarakat, Kapolda Riau Tinjau Jembatan Merah Putih di Dumai
TNI/Polri