Minggu, 03 Mei 2026 WIB

IDI Aceh Catat 60 Tenaga Medis Terinfeksi Covid-19

Harijal - Selasa, 04 Agustus 2020 16:09 WIB
IDI Aceh Catat 60 Tenaga Medis Terinfeksi Covid-19
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Tenaga kesehatan menggunakan APD sebagai langkah pencegahan tertular virus corona.

JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh mencatat puluhan tenaga kesehatan di wilayah provinsi itu telah terkonfirmasi terinfeksi virus corona (Covid-19).

"Sampai saat ini yang sudah saya catat, hampir 60 orang yang positif tenaga medis, perawat maupun dokter. Jumlah itu akan terus bertambah jika pemerintah tidak memperketat sistem penapisan di setiap fasilitas kesehatan," kata Ketua IDI Aceh, Safrizal Rahman di Banda Aceh, Selasa (4/8) seperti dilansir Antara.

Safrizal mengatakan dari 60 tenaga medis tersebut, sekitar 25 orang merupakan dokter, termasuk di dalamnya peserta program dokter spesialis (PPDS), dan selebihnya perawat.

Baca Juga:

Umumnya mereka yang terinfeksi itu tanpa bergejala, cuma membutuhkan isolasi mandiri yang diawasi ketat agar tidak menularkan ke orang lain.

Dia menerangkan ada beberapa orang (bergejala) dan satu orang dokter sekarang di respiratory intensive care unit (RICU) harus diberikan alat bantu nafas, sangat memprihatinkan, tapi sebagian besar tanpa gejala.

Baca Juga:

"Angka ini fluktuatif ya, akan terus meningkat, karena memang pemeriksaan kita kadang-kadang butuh waktu sedikit lama, mereka diperiksa dan mereka harus diisolasi sementara menunggu hasil swab. Karena kalau mereka bekerja takutnya hasil positif, maka sudah banyak lagi yang harus di-tracing," katanya.

Menurut Safrizal, selama ini layanan di fasilitas kesehatan terkait Covid-19 dan perlindungan terhadap tenaga medis masih terkesan lemah. Alhasil, para tenaga medis yang terpapar dan konfirmasi positif sejauh ini terus bertambah.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong upaya penapisan atau skrining awal di setiap fasilitas kesehatan harus diperketat.

Ketika ada pasien masuk, maka terdapat prosedur yang jelas dan sejumlah pertanyaan yang disodorkan guna melihat potensi risiko Covid-19.

"Kalau memang pasien ini mengarah ke Covid-19, maka langsung dipindahkan ke tempat perawatan Covid-19. Kalau yang tidak, baru boleh masuk ke fasilitas biasa," ujarnya.

Apabila penapisan tidak ketat, kata Safrizal, pasien yang ternyata terpapar Covid-19 itu bisa saja diarahkan ke ruang biasa. Padahal fasilitas dan metode perawatan di sana tak dipersiapkan khusus untuk pasien Covid-19.

Alhasil, bisa memicu risiko tinggi tenaga medis di sana tertular Covid-19 juga.

"Dan itu terjadi beberapa sekali dan sering sekali bahkan, lolos pasien masuk ke ruang biasa, ternyata belakangan diketahui Covid-19, sehingga siapa saja berkontak dekat dengan pasien ini harus diperiksa semuanya," katanya.

(Antara/CNNIndonesia)

SHARE:
beritaTerkait
Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin
Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar
Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu
Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025
komentar
beritaTerbaru