Senin, 04 Mei 2026 WIB

Julinar (38) Warga Pangkalan Batang 8 Tahun Menderita Kanker Rahim

Harijal - Selasa, 25 Juli 2017 08:57 WIB
Julinar (38) Warga Pangkalan Batang 8 Tahun Menderita Kanker Rahim
der/rec
Julinar penderita kanker rahim bersama anak kedua dan ketiganya pada Minggu (23/7/2017).

BENGKALIS, kabarmelayu.com - Julinar (38th) warga Desa Pangkalan Batang, Bengkalis penderita kangker rahim, 8 tahun hidup dalam keprihatinan.

Awak media yang menyambangi rumah Julinar berukuran sekitar 5 X 5 meter dan cuma ada 1 kursi yang sobek sangat terenyuh melihat wajah Julinar dan 3 orang anaknya yang belum bisa berbuat banyak merubah nasib mereka. Seoarang putranya berumur 17 tahun saat ini adalah siswa pada sebuah SLTP di daerahnya.

"Emi (anak pertama) nganggur 2 tahun sebab tiada biaya untuk melanjutkan pendidikan. Selama 2 tahun dia bekerja untuk mencari biaya sekolah. Dua adik perempuannya, nomor dua berhenti di kelas 1 Mts (16th), dan yang bungsu berhenti kelas 4 SD (13th)," ungkap Julinar, Minggu (23/7/2017) dengan nada sedih.

Baca Juga:

Bersama tiga anaknya, Julinar yang menempati rumah papan berusia 13an tahun ini merupakan bantuan Bupati Bengkalis. Kondisi rumah ini terlihat lapuk, jendela tak bisa dibuka lagi hanya tetap tertutup sebab tiang menempelkan ensel jendela ini tak lagi bisa dipaku. Begitu pula tiang pintu masuk bagian bawahnya juga tidak lagi menempel pada beloti landasan pintunya.

"Rumah ini adalah bantuan Bupati Bengkalis yang memberikan uang sebesar Rp. 2,5 juta. Uang ini untuk pembelian papan dan seng," tambah Julinar.

Baca Juga:

Papan lantai ruang tamu telah diganti kalau tidak lapuk semua sebab terkena hujan yang menembus atap yang bocor. Uangnya kiriman dari bapak yang dikumpul sedikit-sedikit di luar keperluan makan.

Julinar mengaku, "Sebulan sekali di bagian perut bekas operasi dulu selalu kambuh rasa sakit, kalau yang di balik paha (ada benjolan yang menurut dokter adalah kanker jinak) habis dibawa kerja akan mendenyut," keluhnya.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, Deni suami Julinar (asal Sarawak, Malaysia) tak ada kabar, "Nomor hp bapak tak aktif lagi," ungkap anak kedua Julinar.

"Dulu kalau bapak tidak ada mengirimkan uang, saya ke sana (di Parit Jawa, Muar)," tambah Julinar pula.

Untuk mengurangi biaya hidup, kedua anak perempuan Julinar terkadang pergi menjaring ikan. "Biasa dapat ikan blanak dan syakap di kolam lama, ikan ini buat makan saja. Mereka juga terkadang mencari lokan dan siput, hasilnya dijual ada kedai yang membeli tapi lokan dan siput tadi suruh Bawak pulang," tuturnya.

Walaupun demikian, ketiga orang anak Julinar tetap bersemangat melanjutkan pendidikan. "Rencana tamat SMP mau nyambung ke SMAN 4 Sebauk sebab ada teman akan nyambung ke sana, saya bisa ke sekolah ini menumpangnya," aku Emi remaja pendiam ini.

Adik-adik Emi pula berniat mau ngambil ijazah sekolah paket. Adik pertama Emi sekarang ikut membantu tetangga berjualan di desanya.

Keluarga Julinar, sekarang juga terlilit hutang puluhan juta rupiah. "Hutang makan di kedai, minjam koperasi keliling, minjam uang desa, semua pinjaman ini hanya untuk keperluan uang makan," kata Julinar lebih jauh.

Lebaran kemarin, Julinar bersyukur sebab dapat zakat, uangnya digunakan bayar hutang di sekolah anak pertamanya.

Sebagai sesama manusia, ini adalah tugas kita bersama dengan peran masing-masing. Baik pihak Desa Pangkalan Batang, maupun pemerintah daerah setempat untuk sama berbuat meringankan beban keluarga Julinar ini.(mur/der)

SHARE:
beritaTerkait
Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah
Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin
Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar
Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu
Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025
komentar
beritaTerbaru