Kapolda Riau Tegaskan Peran Generasi Muda Hadapi Krisis Iklim dan Sosial
kabarmelayu.comPEKANBARU Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menegaskan bahwa masa depan lingkungan, kualit
Lingkungan
Ribuan rumah terendam, puluhan desa terisolasi, dan ribuan keluarga harus mengungsi. Selain kerugian fisik dan ekonomi, bencana kali ini juga menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan mental masyarakat.
Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa dampak psikologis para penyintas tidak kalah berat dibanding kerusakan fisik yang terjadi.
Banyak warga kehilangan anggota keluarga, harta benda, lahan, dan sumber penghasilan. Kondisi tersebut memicu tekanan mental yang mendalam, termasuk reaksi stres akut, kecemasan, gangguan duka berkepanjangan, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Baca Juga:
Penelitian internasional menunjukkan bahwa 30-50% penyintas bencana besar mengalami gejala PTSD dalam tiga bulan pertama, sementara anak-anak dan lansia merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak jangka panjang.
Associate Professor dan Psikolog Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal, Ph.D., yang turut melakukan pengamatan langsung di lokasi bencana, menegaskan bahwa aspek psikologis harus menjadi perhatian utama pemerintah. Ia menjelaskan bahwa bencana menciptakan tekanan ekstrem yang melebihi kapasitas coping seseorang.
Baca Juga:
Ia juga menekankan bahwa trauma bukan sekadar memori menyakitkan, tetapi pengalaman emosional yang melekat dalam tubuh dan dapat muncul kembali melalui berbagai pemicu.
"Trauma bukan sekadar ingatan buruk, tetapi pengalaman emosional yang terekam dalam tubuh," tegasnya.
Iqbal menambahkan bahwa pemulihan trauma harus dilihat sebagai bagian dari proses sosial yang melibatkan keluarga, komunitas, hingga kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, dukungan psikososial perlu diberikan secara terstruktur dan komprehensif.
Dalam konteks penanganan pascabencana, pemerintah didorong untuk menguatkan layanan dukungan psikososial yang mampu menjangkau penyintas secara menyeluruh.
Salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan secara global adalah Psychological First Aid (PFA), sebuah metode intervensi awal yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, relawan, guru, tokoh agama, hingga aparat lokal.
Pendekatan ini mengutamakan tiga prinsip utama: protect, yakni memastikan keselamatan dan mengurangi paparan stres tambahan; connect, yaitu membangun hubungan, empati, serta dukungan sosial; dan empower, yang membantu penyintas mendapatkan kembali kendali dan rasa mampu atas hidupnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa PFA dapat menurunkan risiko trauma jangka panjang sekaligus meningkatkan ketahanan komunitas.
Iqbal menjelaskan bahwa dukungan psikososial perlu diterapkan secara berlapis. Pada tingkat individu, masyarakat membutuhkan layanan seperti skrining stres, konseling sederhana, teknik grounding, manajemen emosi, serta dukungan spiritual untuk memaknai kehilangan.
"Pada tingkat keluarga, aktivitas seperti bercerita bersama, relaksasi, serta edukasi bagi orang tua mengenai respons stres anak sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi keluarga sebagai unit dukungan utama," katanya.
"Sedangkan pada tingkat komunitas, penyediaan ruang aman bagi anak dan lansia, kegiatan berbasis budaya lokal, serta kolaborasi puskesmas, sekolah, dan organisasi kemanusiaan dapat memperkuat pemulihan sosial," jelasnya.
Sementara itu, pada tingkat kebijakan, pemerintah pusat dan daerah perlu mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam sistem penanggulangan bencana, memberikan pelatihan PFA untuk relawan dan guru, serta menyiapkan anggaran khusus rehabilitasi psikososial jangka panjang.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan tempat tinggal sementara, Iqbal menegaskan bahwa penyintas memerlukan dukungan emosional, sosial, dan informasi yang memadai.
Intervensi tersebut bertujuan membangun resiliensi jangka panjang, agar masyarakat tidak hanya pulih sementara, tetapi benar-benar mampu bangkit dan membangun kembali kehidupan yang lebih kuat setelah bencana.
Dalam pernyataan penutupnya, Iqbal menegaskan pentingnya menjaga martabat serta harapan para penyintas.
"Bencana boleh merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan dan martabat manusia," tutupnya.(rief)
kabarmelayu.comPEKANBARU Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menegaskan bahwa masa depan lingkungan, kualit
Lingkungan
UPT Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Bangkinang Kota, pagi ini menggelar kegiatan peringatan Isra Mi&039ra
Pendidikan
kabarmelayu.comPEKANBARU Setelah dipanggil paksa oleh pengadilan negeri (PN) Pekanbaru sebagai saksi terkait kasus narkotika yang menjerat
Hukrim
kabarmelayu.comJAKARTA Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menegaskan keinginannya mencaplok Greenland dari Denmark, langkah yang
Peristiwa
kabarmelayu.comBENGKALIS Menindaklanjuti pengaduan masyarakat, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagperin) Kabupaten Bengkalis bersama
Pemerintahan
kabarmelayu.comINHIL Bupati Indragiri Hilir (Inhil) H. Herman bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Inhil Hj. Katerina Susanti menghad
Pemerintahan
kabarmelayu.comPEKANBARU Wakil Presiden RI ke10 dan ke12, Muhammad Jusuf Kalla, meresmikan Kebun Raya Universitas Pahlawan Tuanku Tambus
Pemerintahan
kabarmelayu.comPEKANBARU Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, memimpin langsung upacara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah Pejabat
Hukrim
kabarmelayu.coman struktur jalan sebelum benarbenar digunakan oleh kendaraan dalam jumlah besar. Setelah diaspal, kita lakukan running in
Pemerintahan
kabarmelayu.comJAKARTA Pada sidang paripurna pembukaan masa sidang tahun 2026, anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS, Hendry Munief, menega
Parlemen