Pemeriksaan BPK Rampung, Kerugian Dugaan Korupsi Dana CSR PT SPRH Rp13 Miliar
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Sarana Pembangu
Hukrim
Kemenangan demi kemenangan yang berhasil dicapai oleh pejuang kelahiran Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784, ini benar-benar membuat Belanda terpukul.
Kemampuan Tambusai mengatur strategi perlawanan di medan perang membuat pasukan Belanda keteteran. Serangan demi serangan yang dilancarkan Belanda di utara SUmatera terpaksa gagal. Belanda mesti meminta bantuan ke Batavia berkali-kali.
Baca Juga:
Meski menerima kiriman pasukan dari Batavia yang sekarang bernama Jakarta, kerugian material dari pihak Belanda tidak bisa terelakkan akibat perlawaan pejuang pribumi pimpinan Tuanku Tambusai.
Benteng Belanda Fort Amerongen, sebagai basis kekuatan Belanda berhasil dihancurkan. Padahal, benteng tersebut pusat pergerakan dan komunikasi Belanda di Sumatra Barat.
Baca Juga:
Tak terhenti di situ, kemenangan gemilang berhasil ditorehkan melalui semangat juang yang tinggi. Pasukan Tambusai sukses menyerang pos-pos militer Belanda di Tapanuli. Tepat pada 1835, para pejuang tersebut berhasil mengepung Belanda di Rau dan Lubuk Sikaping, Sumatra Barat, dan berhasil merampas sebagian senjata dari pihak Belanda.
Tidak hanya piawai mengatur siasat perang, Tuanku Tambusai dikenal pula sebagai ahli agama. Ia mendapat gelar tuanku karena kepakarannya dalam bidang agama. Dengan gelar itu, ia ditugasi sebagai Panglima Padri di Rao. Ia termasuk satu dari empat padri yang berangkat ke Makkah pada 1820-an untuk belajar.
Sebagai tokoh padri, penampilannya tak selalu dengan baju putih dan tidak pula memelihara janggut sebagaimana padri-padri lainnya. Ia merupakan ancaman yang cukup serius bagi Belanda.
Perannya mengurangi tekanan Belanda terhadap pertahanan utama padri di Bonjol sangat besar. Menghadapi kekalahan telak, tak membuat Belanda menyerah. Mereka mengatur strategi agar dapat menangkap Harimau dari Rokan itu.
Belanda memutuskan menyerang Dalu-Dalu sebagai tempat kelahiran Muhammad Saleh sekaligus pusat pertahanan pasukannya. Serangan dilakukan secara mendadak saaat kekuatan personel sedang tidak lengkap. Serangan tersebut berhasil pada gelombang kedua, tepatnya pada 28 Desember 1838. Banyak pejuang gugur di medan perang.
Tuanku Tambusai memutuskan mundur dan mengungsi ke Malaysia untuk mengatur strategi balasan. Belum terealisasi rencana itu, Tuhan berkehendak lain. Ajal menjemput Tuanku Tambusai pada 12 November 1882, di usia 98 tahun. Ia dimakamkan di Rasah, Malaysia.
Atas jasa-jasanya kepada negara, Tuanku Tambusai diberi gelar pahlawan nasional melalui SK Presiden Republik Indonesia No 071/TK/Tahun 1995, 7 Agustus 1995.
Tambusai Kecil
Tambusai kecil mendapat didikan khusus dari kedua orang tuanya, terutama dalam bidang agama. Sang ayah, Muhammad Saleh, adalah seorang guru agama. Selain mengajarkan agama, sang ayah juga membekalinya dengan ilmu bela diri dan kemampuan menunggang kuda.
Beranjak dewasa, ia telah menguasai beberapa keterampilan. Selain sebagai pejuang mengusir Belanda, Tambusai juga aktif menyebarkan agama Islam dari satu tempat ke tempat lain.
Perlawanan terhadap Belanda bermula ketika ia selalu diganggu oleh tentara Belanda saat akan menyampaikan syiar Islam. Di sinilah mulai tumbuh semangat untuk mengusir penjajah dari tanah kelahirannya.
Sang ayah bukan termasuk keluarga ningrat. Status sosialnya terangkat karena ayahnya yang berasal dari Nagari Rambah merupakan seorang guru agama. Berkat kepakaran menguasai agama, Raja Tambusai mengangkat ayahandanya sebagai imam dan guru agama kerajaan.
Tuanku Tambusai pun menetap di istana bersama kedua orang tuanya. Ia memperdalam ilmu agamanya di Bonjol dan Rao yang masih daerah Sumatra Barat.Ia berguru ke ulama-ulama tersohor, seperti Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.
Berkat ketekunan belajarnya, Muhammad Saleh remaja, menjadi seorang padri bergelar fakih, ulama ahli fikih. Setelah mendapatkan gelar fakih Muhammad mendapat tugas menyebarkan dakwah ke daerah yang paling rawan waktu itu, yaitu Toba Sumatera Utara.
Konon, daerah ini sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan Pelbegu. Ketika berdakwah di daerah itu, ia difitnah ingin merombak adat nenek moyang orang Batak.
Akibat fitnah itu ia merasa nyawanya terancam. Merasa Toba sudah tak aman baginya, ia pun memutuskan kembali ke Rao (sekarang Sumatera Barat). Di sana ia menyiarkan Islam bersama Tuanku Rao ke berbagai pelosok seperti Airbangis dan Padanglawas kemudian ia mendirikan pesantren di kampungnya, Dalu-dalu.
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Sarana Pembangu
Hukrim
kabarmelayu.com,JAKARTA Tokoh pers sekaligus aktivis pembela hak asasi manusia (HAM) Indonesia, Wilson Lalengke, turut ambil bagian dala
Sosial
kabarmelayu.com,SIAK Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan Pemerintah Kabupaten Siak akan terus mendampingi petani dan nelayan dalam meny
Pemerintahan
kabarmelayu.com,SIAK Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan Pemerintah Kabupaten Siak akan terus mendampingi petani dan nelayan dalam meny
Pemerintahan
kabarmelayu.com,INHIL Wakil Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Yuliantini, S.Sos., M.Si., menghadiri rapat pembahasan efisiensi dan progres t
Pemerintahan
kabarmelayu.com,ROHIL Seorang nelayan Dusun Harapan Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), akhirnya menghembuskan nafas
Peristiwa
kabarmelayu.com,KUANSING Konflik lahan antara kelompok tani Sakato Basamo (SKB) Nagori Pangean dengan PT. Riau Andalan Pulp And Paper (RAP
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru bergerak cepat menangani kasus diare yang menimpa warga di Jalan Pantau RT 0
Kesehatan
Djamari Chaniago Pemerintah Dukung Penuh Penegakan Hukum Tanpa Intervensi
TNI/Polri
kabarmelayu.com Komitmen Polri dalam mendukung Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia di bidang ketahanan pangan terus diwujudkan me
Lingkungan