Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal: Terus Tingkatkan Prestasi
Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal Terus Tingkatkan Prestasi
Pemerintahan
AKHIRNYA mimpi buruk itu datang juga. FIFA secara tegas telah mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20. Apa yang awalnya diharapkan bisa digelar dengan penuh gempita, kandas sudah.
Sungguh perih! saya tak sanggup membayangkan perasaan Arkhan Fikri, Marcelino Ferdinan, Hokky Caraka, dan kawan-kawan mendengar kabar ini. Impian para pemain muda kita untuk bisa tampil di putaran final Piala Dunia U20, atau yang dulu dikenal Piala Dunia Junior, pupus sekejap mata.
Begitu juga, saya tak kuat membayangkan kecewanya 207 juta penggila bola tanah air. Perhelatan yang sudah berada di depan mata, sirna.
Baca Juga:
Tapi, semua itu bukan kiamat untuk kita. Untuk sepakbola, apalagi bangsa kita. Kita boleh kecewa, boleh marah, tapi kita tidak mengakhiri segalanya dalam duka terlalu lama.
Sulit Dipisah
Banyak di antara kita yang marah, ternyata politik praktis akhirnya 'memenangkan' pertarungan. Banyak di antara kita yang kecewa, mengapa persoalan penolakan atas Israel meletup di penghujung waktu. Banyak di antara kita yang emosi karena situasi akhirnya tak terkendali.
Baca Juga:
Kemarin, Presiden Jokowi mengingatkan agar politik praktis tidak dicampuradukkan dengan olahraga. Kita semua juga menginginkan hal yang sama.
Tapi faktanya, olahraga sangat sulit dipisahkan dengan politik praktis. Banyak contoh yang bisa kita ambil terkait hal itu. Salah satunya justru apa yang dilakukan oleh FIFA sendiri.
Kepada Rusia, FIFA bisa sangat keras, bahkan terlalu keras. Rusia yang punya hak untuk melakukan laga play off menuju Piala Dunia yang digelar di Qatar, Juni 2022, dicoret. Alasan utamanya karena Rusia menyerang Ukraina. Rusia dituding kejam karena korban rakyat sipil begitu luar biasa.
Tapi, kepada Israel, FIFA begitu permisif. Video yang belum lama ini beredar tentang cara eksekusi rakyat sipil Palestina, jelas sangat biadab. Lelaki, anak-anak, orang tua, diikat tangannya, didorong ke dalam lobang, dan ditembak. Tumpukan mayat jelas terlihat.
Pertanyaannya, mengapa FIFA melakukan hal yang berbeda? Hanya FIFA yang bisa menjawabnya.
Bagi mereka yang menolak kedatangan Israel, landasannya juga jelas, UUD 1945, alenia pertama. Mereka justru taat pada konstitusi. Dan, penolakan mereka tidak terkait dengan agama. Kita tahu Palestina pernah dipimpin oleh George Habas, pengganti Yasser Arafat, jelas bukan orang islam.
Israel, telah melakukan Aneksasi atau penyerobotan atau penggabungan atau pencaplokan, tanah-tanah Palestina dengan paksa. Perlawanan rakyat Palestina direspon dengan 'pembantaian'. Kekejaman Israel terpampang sepanjang waktu. Itu sebabnya pemerintah kita (Bung Karno) menolak dan tidak berhubungan diplomatik dengan negara yang dikuasai kaum Zinois itu.
Bagi yang mendukung Israel untuk bisa tampil di putaran final PD U20, juga tidak keliru. Israel telah lolos prakualifikasi dan berhak satu tiket untuk tampil di Indonesia.
Tuntutan mereka juga tidak berlebihan: Pisahkan politik praktis dari olahraga
Sementara pemerintah Indonesia juga tidak akan pernah mengubah posisi dukungannys pada Kemerdekaan bangsa Palestina dan tetap mengutuk keras keberutalan kaum Zionis.
Kalau pun akhirnya pemerintah menerima Israel, itu merupakan tanggung jawab atas kepercayaan serta menghormati regulasi FIFA. Kita tahu, sepakbola punya aturan tersendiri.
Dari seluruh upaya hingga pencabutan hak Indonesia sebagai tuan rumah PD U20, yang harus menanggung akibatnya adalah kita. Arkhan Fikri dan kawan-kawan kehilangan kesempatan bisa tampil di putaran final PD U20. Para pekerja di sektor pariwisata, para pedagang, para pemilik angkutan, para pemilik hotel besar dan kecil, kehilangan harapan. Bukan tidak mungkin mereka sudah melipatgandakan modalnya, kini kerugian terpampang di depan mereka.
Tidak sampai di situ, dan ini yang terpenting. Perbedaan antar penolak dan pendukung, serta pemerintah, jika tidak dapat dikelola dengan baik, maka bisa berbuntut panjang. Kita tahu, hingga hari ini 'perselisihan tentang cebong dan kampret' tidak pernah tuntas.
Padahal Jokowi dan Prabowo sudah berada dalam satu kapal yang sama. Keduanya, Presiden dan Menhan, belakangan ini malah sering tampil bersama dengan kemesraan yang luar biasa.
Ironisnya, diakui atau tidak, masyarakat kita hingga saat ini masih terus saling berhadap-hadapan. Ditambah lagi, ada golongan tertentu yang sepertinya berenang di atas situasi perbedaan. Mereka terus menggoyang untuk mengeruk keuntungan besar bagi diri sendiri dan atau kelompoknya.
Jadi, jika kita tak segera mencermati dengan baik, bukan tidak mungkin akan membuat dikotomi baru: Penentang dan Pendukung, Israel. Sekali lagi, jika kita tidak segera mawas diri, kita tak segera mampu mengelola keadaan, saya khawatir keadaan menjadi buruk.
Saya berharap, untuk mereka yang berpegang pada konstitusi (UUD 1945, alenia pertama), lalu bagi mereka yang berpegang pada prinsip Football Unites the World (Sepakbola menyatukan dunia), serta PSSI dan Pemerintah yang gagal meyakinkan FIFA, ingatlah, kita berada dalam rumah yang sama. Jangan sampai ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan ini seperti kasus -Cebong_ dan /Kampret_ untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Kita, sekali lagi, pernah berada dalam posisi yang sama. Kita sama-sama dalam situasi tidak diuntungkan. Berulang kali, kita sudah berhadap-hadapan. Jika bangsa kita masih tetap eksis semua semata karena Allah. Karena Sang Khaliklah bangsa kita masih tetap bersatu. Yugoslavia dan Uni Soviet adalah contoh, sekokoh apa pun bangsa, dan pemimpin pemerintahannya, jika semua tak lagi bisa menjaganya, maka kehancuran akan mendatangi. Nauzubillah kita, jangan sampai masuk ke relung itu.
Sebagai penutup, saya mengutip dua slogan dan satu ayat quran.
Dari Klub Liverpool:
You'll never walk alone (Kamu tak akan pernah sendiri). Lagu yang dipopulerkan oleh grup band Gerry and Pacemaker, 1963, dan menjadi penyemangat bagi Liverpool, pemilik, pelatih, pemain, dan pendukung. Dalam keadaan apa pun, kita tetap bersatu.
Sejatinya, lagu itu diciptakan oleh komposer Amerika, Richard Rodgers dan Oscar Hammestein II. Lagu ini untuk menyemangati Julie Jordan yang suaminya Billy Bigelow, pemeran utama drama musikal yang tewas dalam perampokan.
Berikutnya slogan pebasket kondang dunia, Michel Jordan: Rintangan tidak harus menghentikanmu. Jika Anda menabrak tembok, jangan berbalik dan menyerah. Cari tahu bagaimana cara memanjatnya, melewatinya, atau mengatasinya."
Terakhir, satu ayat Quran, surah Al-Baqarah 216: "Hari-harimu mungkin tidak akan berjalan sesuai rencana, tapi yakinlah bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Ia tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya."
Semoga kegagalan ini tidak menghancurkan kita, tapi sebaliknya justru menjadi pemicu untuk kebangkitan sepakbola dan bangsa Indonesia ke depan. Aamiin ya Rabb..
Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal Terus Tingkatkan Prestasi
Pemerintahan
kabarmelayu.com,BENGKALIS Bea Cukai Bengkalis menemukan sebanyak 652 Iphone ilegal di Pelabuhan Internasional Bandar Sri Setia Raja (BSS
Hukrim
kabarmelayu.com,PEKANBARU Dewan Kehormatan PWI Pusat, H. Helmi Burman, mendesak manajemen Riau Pos Grup segera menyelesaikan seluruh hak
Sosial
Polri untuk Masyarakat, Kapolda Riau Tinjau Jembatan Merah Putih di Dumai
TNI/Polri
Pastikan Keamanan Stok Beras, Menko Polkam Tinjau Gudang Bulog di Sumut
TNI/Polri
kabarmelayu.comKANDIS Tanaman budidaya jagung mulai menghijau menjadi simbol harapan bagi petani yang ada di sejumlah pedesaan di wilayah
TNI/Polri
Menjelajahi Sisi Lain Indonesia Jadi Tren Baru Liburan Musim Panas Wisatawan Asing
Wisata
Bupati Siak Ajak Kepala Daerah Perkuat Soliditas Jaga Otonomi Daerah
Pemerintahan
Jembatan Gantung Garuda di Bangko PusakaMenggala Sakti Rohil Masuki Tahap Pembentangan Tali Sling dan Penyetelan
Sosial
kabarmelayu.com,PEKANBARU Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuantan Singingi telah menunjuk Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan,
Pemerintahan