Minggu, 13 September 2026 WIB

Zapin Dara, Tarian Akulturasi Dua Budaya

Harijal - Senin, 16 November 2015 21:47 WIB
Zapin Dara, Tarian Akulturasi Dua Budaya
Indonesia Kaya
Zapin Dara

Kabar Melayu - Sejak dahulu, masyarakat nusantara dikenal memiliki kultur yang terbuka terhadap kebudayaan asing tanpa meninggalkan jati diri kebudayaannya sendiri. Sifat keterbukaan tersebut menghasilkan akulturasi budaya yang semakin memperkaya khazanah kebudayaan bangsa. Tari zapin merupakan, sebagian dari hasil akulturasi budaya lokal dengan budaya Arab.

Secara etimologi, “zapin” berasal dari bahasa Arab “zafn”, yang memiliki arti gerakan kaki yang cepat mengikuti hentakan musik. Tari zapin merupakan tarian nusantara yang sangat dipengaruhi budaya Arab. Tari ini berkembang di masyarakat Riau, pesisir Sumatera bagian barat, Serawak, hingga Brunei. Dahulu, tari ini hanya dipentaskan oleh laki-laki sebagai hiburan dan pendidikan. 

Berdasarkan perkembangannya, tari zapin kini tidak hanya dipentaskan oleh kaum adam. Tari zapin pun dibawakan oleh kaum hawa atau percampuran antara keduanya. Tari zapin yang biasa dipentaskan oleh perempuan, secara khusus lebih dikenal dengan nama tari zapin dara. 

Baca Juga:

Tari zapin dara pada dasarnya memiliki gerakan yang sama dengan tari zapin. Yang membedakan di antara kedua tari itu hanyalah penari yang membawakannya. Gerakan tari zapin didominasi oleh kelihaian gerakan mengangkat kaki. Kaki yang diangkat tidak terlalu tinggi, untuk menghormati penonton atau para tamu yang hadir. 

Tari ini diiringi musik yang bersumber dari perpaduan alat musik tradisional gambus dan beberapa alat musik pukul yang biasa dikenal dengan nama marwas. Di sela-sela musik tersebut, terdapat syair-syair yang disampaikan. Konon, syair-syair tersebut berisi pendidikan moral dalam ajaran agama Islam. 

Baca Juga:

Karena itulah, tari zapin dahulu sering dijadikan sebagai media dakwah agama Islam.

Tari zapin merupakan salah satu tarian yang bersumber dari kultur masyarakat nusantara yang terbuka. Di setiap gerakan yang ditampilkan, terkandung makna filosofis yang dalam tentang penghormatan dan pendidikan. Perlu perhatian khusus dari generasi muda untuk tetap mencintai dan melestarikan tarian nusantara yang satu ini, sehingga tetap eksis dan tidak terkubur modernisasi**

 

Sumber

SHARE:
beritaTerkait
Ikut Arahan Wako, Warga Sidomulyo Permai Bahu Membahu Buat Kebun Dasawisma
LRB Muhammadiyah Riau Kenalkan Peran dan Gerakan Kemanusiaan kepada Mahasiswa Baru UMRI
Koleksi Hotspot Riau Terus Berkurang, Sore Ini Tersisa 12 Titik
Koalisi Masyarakat Sipil Riau Desak Pembentukan Kaukus Parlemen Hijau Daerah
Hari Kelima Pencarian 5 Jurnalis Anak Krakatau di Selat Sunda, Heli  Dauphin Dikerahkan
Putin Ancam akan Perang Melawan Eropa
komentar
beritaTerbaru