Senin, 20 April 2026 WIB

TNI Pos 9 dan 10 TNTN Mundur dari Penjagaan

Redaksi - Kamis, 27 November 2025 09:15 WIB
TNI Pos 9 dan 10 TNTN Mundur dari Penjagaan
Massa merusak dan menurunkan plang TNTN.(Foto: Ist)
kabarmelayu.comPELALAWAN- Pascaaksi aekelompok massa yang mencabut dan menumbangkan gapura welamat datang di Taman Nasional Tesso Nilo serta aksi pengusiran prajurit TNI yang bertugas di kawasan konservasi tersebut, aparat TNI memilih mundur untuk menghindari ketegangan yang akan berpotensi pada bentrok.

Aksi ini menunjukkan peningkatan eskalasi konflik antara masyarakat dan aparat keamanan terkait isu penertiban kawasan hutan yang dilindungi negara itu. Kawasan konservasi tersebut kini menjadi kebun sawit warga, bahkan ada cukong dan pengusaha sawit berskala besar.

Aksi massa ini dilaporkan terjadi menyusul kegagalan dialog antara perwakilan demonstran dengan para pemangku kepentingan(stakeholder)
yang diadakan di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau beberapa waktu sebelumnya.

Baca Juga:

Kegagalan negosiasi tersebut tampaknya memicu kemarahan warga, mendorong mereka untuk kembali ke TNTN dan melancarkan aksi unjuk rasa serta pengusiran terhadap aparat.

Menurut Kapendam XIX Tuanku Tambusai, Letkol MF Rangkuti, sebagian besar massa pendemo kembali ke kawasan TNTN setelah melakukan demonstrasi di Kejati Riau pada Kamis siang (20/11/2025).

Baca Juga:

Rombongan massa tiba di Pos 10 sekitar pukul 23.00 WIB malam hari, langsung menuntut agar pasukan TNI yang bertugas di sana segera meninggalkan pos.

"Massa meminta agar pasukan yang di sana (TNTN) meninggalkan pos tersebut," kata Rangkuti Rabu 26 November 2025.

Setelah berhasil meminta pasukan mundur dari Pos 10, massa kemudian melanjutkan aksinya ke Pos 9 dengan tuntutan yang sama, yakni meminta prajurit yang berjaga untuk segera meninggalkan lokasi pengamanan.

Menanggapi situasi yang sangat tegang, aparat keamanan di TNTN memilih untuk mundur dan tidak melakukan pencegahan terhadap aksi perusakan tersebut. Rangkuti menegaskan bahwa tindakan mundur ini merupakan sebuah strategi untuk meredakan ketegangan.

"Prajurit mundur untuk menghindari bentrokan fisik yang dikhawatirkan akan terjadi mengingat kondisi emosi warga yang sudah memuncak," jelas Rangkuti.

Keputusan untuk mundur dan bersikap pasif ini juga sekaligus menjelaskan rekaman video yang beredar luas, di mana petugas terlihat tidak berupaya mencegah perusakan plang nama. Letkol Rangkuti memaparkan bahwa sengaja tidak ada upaya pencegahan agar tidak terjadi bentrok dengan warga, petugas memilih mundur sambil tetap berdialog.

"Itu memang untuk menghindari konflik, intinya dengan masyarakat," tegasnya.

Pascaaksi perusakan plang dan pengosongan sementara pos-pos pengamanan, Kapendam memastikan bahwa situasi di lokasi sudah kembali tenang dan kondusif.Masyarakat yang melaksanakan aksi juga langsung membubarkan diri.

Ia juga menambahkan bahwa peristiwa pengusiran dan perusakan ini adalah yang pertama kali terjadi selama proses penertiban kawasan hutan berlangsung. Meskipun sempat terjadi pengosongan pos, Kodam memastikan bahwa personel pengamanan di kawasan TNTN jumlahnya telah ditambah. Pos-pos yang sebelumnya sempat ditinggalkan oleh prajurit, kini telah diduduki kembali oleh aparat keamanan.

Peningkatan personel ini menunjukkan komitmen Kodam untuk melanjutkan pengamanan kawasan, meskipun menghadapi tantangan dan konflik terbuka dari masyarakat

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kematian Anak Gajah di TNTN. Pemilik Lahan Jadi Tersangka
Lagi, Gajah Liar Ditemukan Mati di TNTN, Kapolda Turun Langsung
Tapir Berukuran Besar Muncul di Flying Squad TNTN
Pemprov Siapkan Mediasi dengan Warga Cerenti Terkait Penolakan Relokasi TNTN
Penjual Lahan TNTN dan Perusak Tenda Satgas TNTN Ditahan
100 Anak di Kampar Ikut Khitanan Massal
komentar
beritaTerbaru